Pekan Pertama 2022, Harga Minyak Dunia Melejit 5%

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
09 January 2022 12:30
FILE PHOTO: Oil pours out of a spout from Edwin Drake's original 1859 well that launched the modern petroleum industry at the Drake Well Museum and Park in Titusville, Pennsylvania U.S., October 5, 2017. REUTERS/Brendan McDermid/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia melesat sepanjang pekan ini, di tengah kepungan sentimen negatif dan positif secara global.

Menurut data Refinitiv, harga minyak jenis brent berada di US$ 81,75/barel pada Jumat (7/1/2022) atau melejit 5,10% dibandingkan pekan lalu. Sementara, minyak jenis WTI juga terkerek 4,91% ke posisi US$ 78,90/barel.


Di tengah sejumlah kabar campur-aduk soal perkembangan Covid-19, mulai dari pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa Omicron hanya menimbulkan gejala ringan sampai soal kasus Covid-19 di Amerika Serikat (AS) tembus 1 juta kasus, pasar juga melihat kondisi geopolitik global.

Tampaknya pasar minyak dunia juga merespons perkembangan di Kazakhstan. Kerusuhan massa hingga intervensi Rusia sedang menjadi perhatian dunia.

Situasi di eks wilayah Uni Soviet itu memang sedang mencekam. Rakyat melakukan aksi demonstrasi besar-besaran menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berlaku mulai awal tahun ini. Aksi itu telah meluas, bahkan sampai menduduki objek vital seperti bandara.

Melihat situasi ini, Rusia menerjunkan pasukan militer ke Kazakhstan. Tentara Rusia ikut meredam aksi demonstrasi tentu dengan represi. Menurut sejumlah saksi (termasuk polisi setempat) tentara Rusia membunuh lusinan demonstran dalam semalam.

"Pasukan perdamaian dikirim ke Kazakhstan untuk waktu yang terbatas dalam rangka menormalkan situasi," sebut keterangan tertulis Collective Security Treaty Organization (CSTO).

Namun. negara-negara lain tidak melihatnya seperti itu. Uni Eropa meminta Rusia untuk menghormati kedaulatan Kazakhstan. "Intervensi Rusia mengingatkan kita kepada kenangan akan sesuatu yang seharusnya kita hindari," tegas Josep Borrell, diplomat Uni Eropa, seperti dikutip dari Al Jazeera.

AS pun ikut berkomentar. Washington menampik tudingan yang menyebut mereka ada di belakang aksi demonstrasi Kazakhstan.

"Ada klaim gila dari Rusia bahwa AS ada di belakang ini semua. Jadi saya akan gunakan kesempatan ini untuk menegaskan bahwa itu benar-benar salah. Jelas itu adalah permainan disinformasi standar dari Rusia, yang banyak kita lihat pada tahun-tahun belakangan," terang Jen Psaki, Juru Bicara Gedung Putih, juga dilansir Al Jazeera.

Ketegangan di Rusia dan bekas wilayah Uni Soviet bisa merembet ke pasar keuangan, termasuk komoditas. Sebab, Kazakhstan adalah salah satu negara produsen minyak utama dunia.

Sepanjang 1993 hingga 2021, rata-rata produksi minyak Kazakhstan adalah 1,19 juta barel/hari. Produksi sebesar itu membawa Kazakhstan menjadi anggota OPEC+.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bill Gates Ramal Industri Minyak Dunia Tak Berusia Panjang


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading