Saham Amazon Paling Buruk dari Antara Raksasa Wall Street

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
06 January 2022 12:40
FILE PHOTO: The logo of Amazon is seen at the company logistics center in Lauwin-Planque, northern France on February 20, 2017.  REUTERS/Pascal Rossignol/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tahun 2021, saham perusahaan e-commerce asal Amerika Serikat (AS), yakni Amazon.com Inc. menjadi saham yang paling rendah penguatannya di antara saham-saham teknologi mega cap di AS lainnya.

Meskipun paling rendah kenaikannya pada tahun lalu, tetapi beberapa analis percaya bahwa tahun 2022 bisa menjadi tahun yang lebih cerah untuk saham Amazon.

Saham Amazon sepanjang tahun 2021 hanya menguat 2,4%, jauh di bawah kenaikan saham FAANG lainnya. Sebagai informasi, FAANG adalah sebuah singkatan dari saham-saham teknologi jumbo di AS, yakni Facebook Inc. (sekarang Meta Platforms Inc.), Amazon, Apple Inc., Netflix Inc., dan Alphabet (Google).


Jika diurutkan dari yang tertinggi kenaikannya sepanjang tahun 2021, saham Alphabet meroket 65%, Apple terbang 34%, Meta Platforms melonjak 23%, dan Netflix melesat 11%.

Pada saat yang sama, saham teknologi lainnya yakni saham Microsoft melonjak 51% sepanjang tahun 2021, sehingga membuat indeks Nasdaq Composite melesat 21% sepanjang tahun 2021.

Terakhir kali Amazon memberikan pengembalian (return) yang buruk bagi investor adalah di tahun 2014 silam, ketika harga sahamnya ambles 22%.

Menurut beberapa analis, ada beberapa faktor yang menyebabkan Amazon membukukan kinerja yang kurang memuaskan pada tahun lalu.

Seperti saham-saham teknologi ­e-commerce lainnya, di mana mereka dihadapkan dengan kondisi yang cukup sulit di tengah gempuran pandemi virus corona (Covid-19) pada tahun 2020, meskipun pada saat itu terjadi lonjakan pesanan online.

Konsumen terpaksa mengurungkan niatnya membeli barang di suatu minimarket atau supermarket untuk menghindari paparan virus dan berbondong-bondong berbelanja di toko online.

Pergeseran perilaku konsumen ke belanja online mendorong penjualan untuk Amazon, eBay, Etsy, Wayfair dan lain-lain dan meningkatkan tingkat pertumbuhan laba mereka serta mengangkat harga saham mereka.

Laba Amazon pun sempat meningkat tiga kali lipatnya dimulai pada kuartal kedua tahun 2020 secara tahunan (year-on-year/YoY), di mana hal ini merupakan periode pertama yang mencerminkan lonjakan bisnis online yang dipicu pandemi.

Namun pada musim semi 2021, setelah banyak orang Amerika mendapatkan vaksinasi Covid-19, konsumen mulai kembali berbelanja secara offline, dalam hal ini berbelanja ke mal-mal atau sejenisnya.

Meskipun tren belanja online masih tetap kuat, tetapi Amazon melihat bahwa tingkat pertumbuhan labanya yang sebelumnya tercipta pada tahun 2020 mulai memudar di tahun 2021.

Pada kuartal kedua tahun 2021, pendapatan Amazon hanya tumbuh sebesar 27%, di mana hal ini menjadi penurunan pendapatan paling signifikan dari periode tahun lalu, di mana penjualan Amazon pada tahun 2020 meroket 41%.

Menurut Tom Forte, analis riset senior di D.A. Davidson, Pada dua kuartal terakhir di tahun 2021, Amazon cenderung berkinerja buruk, yang juga turut membebani saham-saham teknologi lainnya.

"Memang bisnis Amazon lainnya, seperti cloud dan periklanan masih memiliki tahun yang sangat baik di 2021, tetapi hal itu tidak dapat mengurangi kinerja buruk yang berasal dari divisi ritel inti Amazon," kata Forte, dikutip dari CNBC International.

"Jika Anda melihat 2021 sebagai standalone, itu menunjukkan bahwa kinerja baik di sektor cloud dan periklanan saja tidak cukup," tambahnya.

Forte melanjutkan bahwa kekhawatiran investor terkait kenaikan biaya dalam bisnis ritel inti Amazon mungkin juga berkontribusi pada kinerja saham yang kurang baik pada tahun 2021.

Amazon pun sempat mendeklarasikan bahwa mereka akan menghabiskan hingga miliaran dolar untuk biaya terkait penerapan protokol kesehatan untuk mencegah terkena Covid-19, seperti langkah-langkah keamanan untuk pegawai front liner dan mengembangkan jaringan fisiknya untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Namun setelah stimulus terkait Covid-19 mulai mereda tahun lalu, Amazon dan perusahaan besar lainnya dilanda kendala rantai pasokan global dan tantangan tenaga kerja.

CEO Amazon, Andy Jassy mengatakan bahwa pihaknya telah mengambil "beberapa miliar dolar" biaya tambahan pada kuartal keempat tahun 2021 untuk mengatasi masalah tersebut.

Dana tersebut digunakan Amazon untuk menaikkan gaji dan menawarkan bonus untuk menarik pekerja di pasar tenaga kerja yang ketat, menghadapi tingkat staf yang tidak konsisten di beberapa gudang, hingga perubahan rute paket dengan jarak yang lebih jauh dan terkadang lebih mahal ke fasilitas dengan staf yang cukup siap untuk memproses pesanan.

"Kami semua tahu bahwa ada biaya yang terkait dengan Covid-19, tetapi saya terkejut ketika saya menyadari bahwa mereka memiliki tantangan tenaga kerja, itu adalah kejutan negatif dan saya pikir itu memengaruhi kinerja sahamnya," kata Forte.

Melihat ke Depan

Setelah mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan pada tahun 2021, saham Amazon berpotensi mencatatkan kembali kinerja positifnya pada tahun ini.

Menurut Seth Sigman, analis di Guggenheim, Amazon akan menghadapi pergerakan yang lebih mudah setelah pertumbuhan dimoderasi pada tahun 2021.

"Amazon dapat mulai menuai keuntungan dari beberapa investasi terkait pandemi dalam rantai pasokan dan logistik selama dua tahun terakhir," kata Sigman, dilansir dari CNBC International.

"Harapan kami adalah bahwa pertumbuhan saham Amazon akan meningkat kembali pada tahun 2022, setelah dimoderasi dalam beberapa kuartal terakhir," tambah Sigman.

Tak hanya analis dari Guggenheim saja yang optimis, beberapa analis seperti Jefferies, Bank of America Global Research, RBC Capital Markets, dan Goldman Sachs pun memprediksi bahwa kinerja Amazon akan lebih baik pada tahun ini. Mereka juga memilih Amazon sebagai pilihan teratas untuk tahun ini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bos Bank Banten Buka-bukaan Soal Kerjasama dengan Amazon


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading