Menteri ESDM Sebut PLN Sudah Terima 6,3 Juta Ton Batu Bara

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
04 January 2022 20:36
Pekerja membersihkan sisa-sisa batu bara yang berada di luar kapal tongkang pada saat bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). Pemerintah Indonesia berambisi untuk mengurangi besar-besaran konsumsi batu bara di dalam negeri, bahkan tak mustahil bila meninggalkannya sama sekali. Hal ini tak lain demi mencapai target netral karbon pada 2060 atau lebih cepat, seperti yang dikampanyekan banyak negara di dunia. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan saat ini PT PLN (Persero) telah mendapatkan komitmen pasokan batu bara sebanyak 6,2 juta ton-6,3 juta ton dari para produsen batu bara, sehingga ini bisa memastikan pasokan batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) tetap tersedia.

Hal ini disampaikan Arifin saat melakukan sidak ke kantor pusat PT PLN (Persero) di Jakarta Selatan, Selasa (04/01/2022).

"Sudah komitmen dari para pemasok untuk mengalokasikan kurang lebih 6,2 juta ton-6,3 juta ton. Biasanya per bulan konsumsi PLN itu berkisar antara 10 juta ton-11 juta ton, yang 6 juta ini tambahan untuk mengatasi krisis," kata Arifin di kantor pusat PLN, Selasa (04/01/2022).


Dia menyebutkan, komitmen ini diperoleh PLN setelah pemerintah memberlakukan pelarangan ekspor batu bara yang berlaku mulai 1 Januari 2022 hingga 31 Januari 2022 nanti.

Dia menyebut, kondisi krisisnya pasokan batu bara PLN ini telah menyebabkan dua PLTU menunjukkan indikator merah. Keduanya yakni PLTU Suralaya 1-7 dan PLTU Jawa 7 dengan total kapasitas 5,4 Giga Watt (GW) dan mengancam terjadinya gangguan pasokan listrik (power failure) di wilayah Jawa-Madura-Bali (Jamali).

Seperti diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengambil kebijakan untuk melakukan pelarangan ekspor batu bara periode 1 hingga 31 Januari 2022 bagi pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau IUPK tahap kegiatan Operasi Produksi, dan IUPK sebagai Kelanjutan Operasi Kontrak/Perjanjian dan PKP2B.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin mengatakan bahwa langkah ini harus diambil dan bersifat sementara guna menjaga keamanan dan stabilitas kelistrikan dan perekonomian nasional.

Kurangnya pasokan batu bara untuk pembangkit listrik pada akhir Desember 2021 dan Januari 2022 ini mengancam pasokan listrik bagi 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri di Jawa, Madura, Bali (Jamali), maupun non Jamali.

Hampir 20 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan total daya sekitar 10.850 Mega Watt (MW) terancam padam bila pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tak kunjung dipasok oleh perusahaan batu bara.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Cegah Kondisi Kritis Pasokan Batu Bara PLTU, Ini Saran IMEF


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading