BI 'Ramal' Bunga Acuan AS Naik Sekali Tahun Depan

Market - Cantika AP Noveria, CNBC Indonesia
16 December 2021 14:50
Gubernur BI Perry Warjiyo Saat Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Desember 2021. (Tangkapan Layar via Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dini hari tadi waktu Indonesia, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve/The Fed mengumumkan hasil rapat terbaru. Ketua Jerome 'Jay' Powell dan kolega sepakat untuk mempercepat laju pengurangan pembelian aset (tapering off).

Awalnya, nilai tapering adalah US$ 15 miliar setiap bulannya. Namun kemudian 'dosis' ditambah menjadi US$ 30 miliar per bulan.


Bank Indonesia (BI) memberi respons atas kebijakan tersebut. Perry Warjiyo, Gubernur BI, menyebutkan kebijakan moneter The Fed akan ditentukan oleh dua faktor utama, inflasi dan data ketenagakerjaan.

Dari sisi inflasi, Perry menilai ekspektasi inflasi di Negeri Paman Sam memang tinggi. "Inflasi jangka pendek di atas 2%, jangka panjang secara fundamental juga melebihi 2% pada 2023 dan seterusnya," sebut Perry dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Desember 2021, Kamis (16/12/2021).

Sementara di sisi ketenagakerjaan, angka pengangguran AS terus turun dan kini berada di angka 4,3%. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, penurunan angka pengangguran juga menjadi lebih cepat.

"Oleh karena itu, bank sentral AS, menurut bacaan kami, menjadi lebih cepat dalam mengurangi pembelian aset pada Januari," ujar Perry.

Setelah tapering off selesai, lanjut Perry, The Fed akan mulai menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate. Menurut 'ramalan' BI, Federal Funds Rate pada 2022 hanya akan naik sekali yaitu pada kuartal III atau IV.

"Namun pasar memperkirakan naik dua kali, mulai Juni 2022," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

The Fed Tak Akan Naikkan Suku Bunga Tahun Depan, RI Aman?


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading