Rupiah Menguat Tajam di Awal Perdagangan, BI "Turun Gunung"?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
07 December 2021 09:23
Ilustrasi Rupiah dan dolar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah menguat cukup tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Selasa (7/12). Sebelum hari ini, rupiah tidak pernah menguat selama 2 hari perdagangan, rinciannya melemah 10 kali dan stagnan 2 kali.

Melansir data Refinitiv, begitu perdagangan dibuka rupiah langsung menguat 0,24% ke Rp 14.400/US. Setelahnya penguatan rupiah terpangkas ke Rp 14.420/US$ atau 0,1% pada pukul 10:06 WIB.

Kemarin rupiah tercatat melemah 0,28%, dan menyentuh level terendah sejak pertengahan Agustus lalu. Selain itu, selama 12 hari beruntun tak pernah menguat, total pelemahan rupiah nyaris 1,5%.


Buruknya kinerja rupiah tersebut mendapat tanggapan dari Bank Indonesia (BI).

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Hariyadi Ramelan kepada CNBC Indonesia mengatakan Bank Indonesia akan berada di pasar untuk menjamin kestabilan nilai tukar rupiah. Sederet langkah intervensi siap untuk dilakukan bila kondisi mendesak.

"Jadi kami memantau situasi ini dengan closely alert dan tentunya terus berada di pasar valas dan rupiah domestik untuk memastikan kecukupan supply valas dengan adanya profit taking atau peningkatan demand ini," jelasnya.

BI memiliki beberapa instrumen yang dikenal dengan nama triple intervention, baik di Domestic Non-Delivery Forward (DNDF), di pasar spot, sampai ke pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Dengan demikian diharapkan rupiah kembali stabil dan bergerak sesuai fundamentalnya. Apalagi di sisi lain imbal hasil yang ditawarkan ke investor masih sangat menarik.

"BI akan selalu jaga nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya, terlebih CDS masih relatif stabil dan attractiveness SBN kita masih tetap menarik dibanding peers country," ujar Hariyadi.

"Kami meyakini kondisi saat ini temporer dan BI terus menjaga pasar domestik dengan respon bauran kebijakan yang terukur baik dari sisi nilai tukar, manajemen likuiditas yang tetap akomodatif dan instrumen GWM maupun kebijakan suku bunga yang terukur dan timely dengan tetap melihat perkembangan eksternal seperti FOMC 13-14 Desember nanti," paparnya.

FOMC (Federal Open Market Committee) merupakan rapat kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed). Pengumuman kebijakannya akan dilakukan pada Kamis ini hari waktu Indonesia pekan depan, dan diperkirakan akan mempercepat laju tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE).

The Fed resmi mengumumkan mulai melakukan tapering sebesar US$ 15 miliar setiap bulannya mulai November lalu. Dengan nilai QE sebesar US$ 120 miliar, butuh waktu 8 bulan untuk menyelesaikannya. Artinya, tapering akan berakhir pada bulan Juni tahun depan.

Namun dalam beberapa pekan terakhir banyak pejabat elit The Fed yang mendorong tapering dilakukan lebih cepat guna meredam tingginya inflasi. Chairman The Fed Jerome Powell pada pekan lalu juga mengatakan bisa mempercepat laju tapering.

Pasca pernyataan tersebut, posisi spekulatif dolar AS mengalami peningkatan. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan Reuters dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) posisi beli besih (net long) dolar AS mengalami peningkatan menjadi US$ 23,99 miliar dalam sepekan yang berakhir 30 November, dari pekan sebelumnya US$ 22,11 miliar. Posisi net long tersebut merupakan yang tertinggi sejak pertengahan Juni 2019.

Posisi tersebut merupakan dolar AS melawan yen Jepang, euro, poundsterling, franc, dolar Kanada dan Australia. Sementara untuk posisi net long dolar AS terhadap mata uang yang lebih luas juga mengalami peningkatan menjadi US$ 24,435 miliar dari sebelumnya US$ 21,964 miliar.

Meski demikian, Jane Foley, kepala strategi mata uang di Rabobank London mengatakan dolar AS sulit untuk menguat lebih jauh, sebab pasar sudah mengantisipasi percepatan tapering termasuk kenaikan suku bunga 2 kali di tahun depan.

"Meski pernyataan Powell terbilang hawkish dan memicu spekulasi kenaikan suku bunga sebanyak 2 kali di tahun depan, tetapi pasar sudah mengantisipasi hal tersebut," kata Foley, sebagaimana dilansir Reuters Sabtu (4/12).

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

BI Ahead The Curve Lagi, Rupiah Terus "Jajah" Dolar AS


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading