Kurs Tengah BI Tembus Rp 14.400/US$, Terlemah 14 Pekan!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
03 December 2021 15:59
Uang Edisi Khusus Kemerdekaan RI ke 75 (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (3/12). Mata Uang Garuda tertahan di zona merah sepanjang perdagangan, alhasil kurs tengah bank Indonesia (BI) hari ini tembus Rp 14.400/US$ dan berada di level terlemah 14 pekan.

Berdasarkan data dari situs resmi BI, kurs tengah atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini berada di Rp 14.408/US$, melemah 0,21% dibandingkan harga kemarin.

Sementara itu di pasar spot, rupiah tercatat melemah 0,14% ke Rp 14.395/US$. Mayoritas mata uang utama Asia memang melemah melawan dolar AS hari ini. Hanya dolar Taiwan, baht Thailand, dan yuan China yang mampu menguat hingga pukul 15:40 WIB.


Berikut pergerakan Dolar AS melawan mata uang utama Asia.

idr

Kemungkinan bank sentral AS (The Fed) menormalisasi kebijakan moneternya lebih cepat menjadi pemicu pelemahan mayoritas mata uang utama Asia.

The Fed resmi mengumumkan akan melakukan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) sebesar US$ 15 miliar setiap bulannya mulai November lalu. Dengan nilai QE sebesar US$ 120 miliar, butuh waktu 8 bulan untuk menyelesaikannya. Artinya, tapering akan berakhir pada bulan Juni tahun depan.

Namun dalam beberapa pekan terakhir banyak pejabat elit The Fed yang mendorong tapering dilakukan lebih cepat guna meredam tingginya inflasi. Dan, ketua The Fed Jerome Powell di pekan ini mengatakan bisa mempercepat laju tapering.

The Fed akan mengadakan rapat kebijakan moneter pada 14 dan 15 Desember waktu setempat. Sebelum pengumuman kebijakan moneter tersebut, rupiah perlu berjuang ekstra keras untuk menguat.

Namun yang terpenting adalah proyeksi suku bunga The Fed.

Untuk saat ini, The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga dua hingga tiga kali di tahun depan.

fedFoto: CME Group

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, pasar melihat ada probabilitas sebesar 44,7% The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (0,25%) menjadi 0,25% - 0,5% pada Juni 2022.

Kemudian The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga lagi pada bulan September dan Desember 2022, masing-masing sebesar 25 basis poin.

Prediksi kenaikan tersebut terbilang agresif, dan memberikan tekanan bagi rupiah dan mata uang Asia lainnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading