Baca 7 Kabar Penting Ini Sebelum Anda Bertransaksi Saham

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
02 December 2021 08:10
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia/ IHSG, Senin (22/11/2021) (CNBC Indonesia/Muhammad sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah emiten sedang bersiap untuk mengeksekusi rencana penambahan modalnya dalam waktu dekat. Sedangkan emiten lainnya baru melaporkan keuangan dengan kinerja yang cemerlang.

CNBC Indonesia telah merangkum tujuh peristiwa emiten pada perdagangan kemarin, Rabu (1/12/2021) untuk menjadi bahan pertimbangan sebelum perdagangan hari ini, Kamis (2/12/2021) dibuka.


1. Harga Rights Issue BBHI Rp 478, Simak Jadwal Pelaksanaannya

Emiten bank digital milik CT Corp, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) telah menetapkan harga pelaksanaan penambahan modal dengan skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue senilai Rp 478 per saham.

Berdasarkan prospektus yang dipublikasikan perusahaan, dalam rights issue tersebut, BBHI akan menawarkan saham baru sebanyak-banyaknya 10.047.322.871 (10,04 miliar) saham yang setara 46,24% dari modal disetor perusahaan.

Dengan demikian, Allo Bank berpotensi meraih dana rights issue senilai Rp 4,80 triliun. Rencananya, dana yang diperoleh dari aksi korporasi ini akan digunakan oleh perseroan untuk memperkuat struktur permodalan perseroan dalam rangka meningkatkan Modal Inti Perseroan menjadi KBMI yang termasuk dalam kelompok KBMI 2 sebagaimana dimaksud dalam POJK 12/2021.

2. Booming Komoditas, Laba Adaro Meroket 280% Jadi Rp 6 T

Perusahaan pertambangan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatatkan laba bersih senilai US$ 420,90 juta atau Rp 6,01 triliun (asumsi kurs Rp 14.300/US$) pada akhir September 2021 lalu. Tercatat nilai laba bersih ini melompat 284,81% secara tahunan (year on year/YoY) dari US$ 109,37 jut di periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang berakhir pada kuartal III-2021, nilai laba per saham juga naik menjadi US$ 0,01316 dari sebelumnya senilai US$ 0,00342.

Pada periode ini perusahaan mencatatkan pendapatan US$ 2,56 miliar (Rp 36,73 triliun), tumbuh 31,44% YoY dari sebelumnya US$ 1,95 miliar di akhir September tahun lalu.

3.Pengelola Hypermart Rights Issue, Bidik Dana Rp 890 M

Emiten ritel pengelola Hypermart yang dimiliki Grup Lippo, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) berencana menambah modal dengan skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue senilai Rp 890 miliar.

Berdasarkan prospektus yang dipublikasikan manajemen MPPA, perseroan berencana menawarkan sebanyak-banyaknya 1.171.200.788 (1,17 miliar) saham baru yang setara 13,36% dari modal disetor perseran dengan harga pelaksanaan Rp 760 per saham.

Sehingga, dari aksi korporasi ini, MPPA berpotensi meraih dana segar senilai Rp 890,11 miliar.

4. Balikkan Keadaan, BUMI Catat Laba US$ 243,3 Juta di Q3

PT Bumi Resources Tbk(BUMI) mencatatkan laba US$ 243,3 juta pada kuartal III/2021. Perolehan laba ini menjadi pembalikan setelah kerugian pada kuartal III/2020senilai US$ 9,1 juta.

Berdasarkan rilis BUMI per September 2021, lonjakan laba ini dikontribusikan oleh peningkatan pendapatan dan margin usaha. Pendapatan BUMI per kuartal III/2021 mencapai US$ 3,75 miliar tumbuh 35% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai US$ 2,77 miliar.

Sementara itu, margin usaha perusahaan tercatat naik lebih dari tiga kali lipat menjadi 20% pada periode yang sama. Pada kuartal III/2020, margin usaha BUMI hanya sebesar 5,7%.

5. 2 Emiten Kertas Sinarmas Panen Cuan, Ini Gambarannya

Duo emiten kertas Grup Sinarmas, PT Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) dan PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) melaporkan kinerja keuangan untuk periode yang berakhir 30 September 2021. Keduanya sama-sama membukukan peningkatan dari sisi perolehan laba bersih.

Tjiwi Kimia misalnya, pada sembilan bulan pertama ini membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 175,64 juta atau sekitar Rp 2,50 triliun.

Laba bersih tersebut meningkat 4,38% dari periode yang sama di tahun sebelumnya senilai US$ 168,26 juta senilai Rp 2,39 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.250 per US$.

6. Direktur Perusahaan Ritel Grup Salim Mundur, Ada Apa?

Direksi di perusahaan ritel milik grup Salim PT Indoritel Makmur Internasional Tbk(DNET) mengundurkan diri dari jabatannya. Direksi yang dimaksud adalah Yunal Wijaya mundur setelah mengisi jabatan tersebut selama enam tahun terakhir.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan perusahaan, Yunal mengundurkan diri pada 30 November 2021 lalu. Pengesahannya akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang akan dilaksanakan maksimal 90 hari setelah surat permohonan pengunduran diri tersebut disampaikan.

"Bersama ini Perseroan menyampaikan keterbukaan informasi sehubungan dengan telah diterimanya surat pengunduran diri Yunal Wijaya dari jabatannya selaku Direktur. Sesuai dengan surat pengunduran diri tersebut yang berlaku efektif pada 30 November 2021," tulis keterbukaan tersebut, Rabu (1/12/2021).

7. Usai IPO, Widodo Makmur Bakal Ekspansi ke Peternakan & EBT

PT Widodo Makmur Perkasa (MWP) terus memperluas cakupan usahanya di Industri Consumer Goods dan Komoditas Pertanian Indonesia. Melalui rencana Initial Public Offering (IPO), WMP akan menjadi emiten sektor pertanian dan peternakan pertama yang merambah ke energi baru dan terbarukan.

CEO & Founder WMP, Tumiyana mengatakan, setelah melakukan IPO, pihaknya mendesain pertumbuhan jangka panjang. Adapun WMP akan memproduksi protein dan pangan. Saat ini perusahaan memiliki lima lini bisnis yaitu Cattle Livestock, pemrosesan daging, Poultry, Commodity dan Construction, serta energi.

"Kami akan mengembangkan tiga area sebagai basis produksiWidodo Makmur. Di Sumatera, Sulawesi, dan di Merauke. Jadi kalau kita lihat, perkembangan sekarang bahwa kita akan mengalami soft supply terhadap food industry dalam 5-10 tahun ke depan," ungkap dia dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Rabu, 01/12/2021).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Terbesar di ASEAN, Rights Issue BRI Oversubscribe 1,53%


(mon/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading