Bursa Asia Dibuka Hijau, Tetap Hati-Hati Guys!

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
01 December 2021 08:50
Passersby are reflected on a stock quotation board outside a brokerage in Tokyo, Japan, August 6, 2019.   REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas pasar saham Asia dibuka menguat pada perdagangan Rabu (1/12/2021), di tengah ambruknya kembali pasar saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (30/11/2021) kemarin karena investor terus menilai dampak dari virus corona (Covid-19) varian Omicron.

Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,22%, Hang Seng Hong Kong bertambah 0,4%, Straits Times Singapura tumbuh 0,42%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,55%.

Sedangkan untuk indeks Shanghai Composite China dibuka turun tipis 0,06% pada perdagangan hari ini. Shanghai diperdagangkan cenderung flat jelang rilis data aktivitas manufaktur versi Caixin/Markit.


Dari China, setelah NBS merilis data aktivitas manufaktur dan jasa kemarin, pada hari ini giliran versi dari Caixin/Markit yang akan merilis data aktivitas manufaktur yang tergambarkan pada Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Manager's Index/PMI) periode November 2021.

PMI manufaktur China versi Caixin pada November akan dirilis pukul 09:45 waktu setempat atau pukul 08:45 WIB.

Selain China, beberapa negara di Asia seperti Jepang dan Korea Selatan juga telah merilis data PMI manufaktur periode November pada hari ini.

Dari Jepang, PMI manufaktur versi Jibun Bank/Markit tercatat naik atau berekspansi ke angka 54,5 pada bulan ini, dari sebelumnya pada bulan lalu yakni Oktober di angka 53,2.

Sedangkan dari Korea Selatan, PMI manufaktur versi Markit dilaporkan juga naik atau ekspansi ke angka 50,9 pada November, dari sebelumnya pada Oktober lalu di angka 50,2.

Data PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas. Di atas 50 artinya ekspansi, sementara di bawahnya berarti kontraksi.

Masih dari Korea Selatan, ekspor Negeri Ginseng tumbuh pada laju tercepatnya dalam tiga bulan terakhir per November dan tumbuh dua digit dalam sembilan bulan berturut-turut.

Naiknya kembali ekspor Negeri Ginseng terjadi karena pemulihan pasca-pandemi di mitra dagang utama yang mendorong permintaan di perusahaan produsen chip Korea Selatan dan produk petrokimia.

Ekspor pada November melonjak 32,1% secara tahunan (year-on-year/yoy), dari tahun sebelumnya sebesar 24,1% dan lebih besar dari Oktober lalu sebesar 24%.

Angka ekspor ini juga mengalahkan perkiraan pasar dalam survei Reuters yang memperkirakan ekspor Korea Selatan tumbuh 27,7%.

Data dari pekan lalu menunjukkan penjualan semikonduktor melonjak 32,5%, produk minyak bumi melesat 113,6%, dan penjualan kapal di luar negeri meroket 252,2%.

Beralih ke AS, bursa saham Wall Street kembali ditutup berjatuhan pada perdagangan Selasa (30/11/2021) waktu setempat, di tengah kekhawatiran soal efektivitas vaksin terkini untuk mengatasi infeksi varian Omicron.

Indeks Dow Jones ambles 1,86% ke level 34.483,72, S&P 500 ambruk 1,9% ke posisi 4,566,99, dan Nasdaq Composite ambrol 1,55% menjadi 15.537,69.

Pembalikan arah bursa saham AS pada perdagangan kemarin terjadi setelah CEO Moderna, Stephane Bancel mengatakan kepada Financial Times bahwa vaksin yang ada kurang efektif terhadap varian baru.

Bancel mengatakan kepada CNBC International pada Senin (29/11/2021) lalu bahwa dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengembangkan dan mengirimkan vaksin khusus Omicron.

"Pasar saham sangat terfokus pada aliran berita yang terkait dengan Omicron," kata Jim Paulsen, kepala strategi investasi untuk Leuthold Group.

Selain soal Omicron, merosotnya 3 indeks saham utama Negeri Paman Sam juga terjadi setelah Ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell mengatakan, bank sentral akan membahas percepatan pengurangan pembelian obligasi (tapering off) pada pertemuan Desember mendatang.

Dalam pidato di hadapan komite Senat, Powell mengatakan dia berpikir pengurangan laju pembelian obligasi bulanan bisa dilakukan lebih cepat daripada jadwal US$ 15 miliar per bulan yang diumumkan awal bulan ini.

"Pada titik ini, ekonomi sangat kuat dan tekanan inflasi lebih tinggi, dan oleh karena itu, menurut pandangan saya, mempertimbangkan untuk mengakhiri pembelian aset kami ... mungkin beberapa bulan lebih cepat," kata Powell, dilansir CNBC International.

Dengan demikian, komentar Powell di atas menunjukkan bahwa fokus The Fed kini telah berubah untuk memerangi inflasi dan dampak negatifnya ketimbang potensi gangguan dalam kegiatan ekonomi akibat adanya varian baru Covid-19.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading