Keampuhan Vaksin Covid Dipertanyakan, Bursa Asia Ambruk

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
30 November 2021 16:47
A man is reflected on an electronic board showing a graph analyzing recent change of Nikkei stock index outside a brokerage in Tokyo, Japan, January 7, 2019. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia berbalik arah ke zona merah dan ditutup ambruk pada perdagangan Selasa (30/11/2021), setelah sempat dibuka melesat pada pagi hari ini karena investor merespons negatif dari pernyataan CEO Moderna, di mana vaksin yang tersedia saat ini kurang efektif terhadap varian baru virus corona (Covid-19) yakni Omicron.

Hanya indeks Shanghai Composite China yang mampu bertahan di zona hijau pada hari ini, yakni ditutup menguat tipis 0,03% ke level 3.563,89.

Sedangkan sisanya kembali ditutup berjatuhan pada hari ini. Indeks Nikkei Jepang ditutup ambles 1,63% ke level 27.821,76, Hang Seng Hong Kong tergelincir 1,58% ke 23.475,26, Straits Times Singapura anjlok 2,54% ke 3.041,29, KOSPI Korea Selatan longsor 2,42% ke 2.839,01, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) drop 1,13% ke posisi 6.533,93.


Indeks Shanghai China mampu bertahan di zona hijau meskipun tipis-tipis karena ditopang oleh sentimen dari kembali ekspansifnya data aktivitas manufaktur pada November 2021.

Data aktivitas manufaktur China yang tergambarkan pada Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Manager's Index/PMI) versi NBS dilaporkan naik menjadi 50,1 pada November 2021, dari sebelumnya pada Oktober lalu di angka 49,2.

Artinya, PMI manufaktur China pada November cenderung ekspansif. Data PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas. Di atas 50 artinya ekspansi, sementara di bawahnya berarti kontraksi.

Namun, sebagian besar pasar saham Asia kembali terkoreksi parah pada penutupan perdagangan hari ini, karena investor merespons negatif dari pernyataan CEO Moderna, di mana vaksin yang tersedia saat ini dinilai kurang efektif terhadap varian baru virus corona (Covid-19) yakni Omicron.

CEO Moderna, Stephane Bancel kepada Financial Times mengatakan bahwa vaksin yang beredar saat ini dinilai kurang efektif terhadap varian baru tersebut.

"Tidak ada di dunia, saya pikir di mana (efektivitas) berada di tingkat yang sama...seperti yang dimiliki Delta," ungkap Bancel dikutip dari Reuters, Selasa (30/11/2021).

Dia mengatakan akan ada penurunan, namun harus menunggu data lebih lanjut. "Saya pikir itu akan menjadi penurunan materi, Saya tidak tahu berapa banyak karena kita butuh menunggu datanya. Namun seluruh peneliti yang saya ajak bicara, seperti 'ini tidak akan baik-baik saja".

Reuters menuliskan resistensi vaksin bisa membuat lebih banyak penyakit dan rawat inap, selain juga memperpanjang pandemi itu sendiri.

Bancel juga membuka opsi memodifikasi vaksin saat ini. Sebab jumlah mutasi pada lonjakan protein yang digunakan virus menginfeksi sel tinggi.

Kepada CNBC Internasional, dia mengatakan butuh waktu berbulan-bulan untuk memulai pengiriman vaksin yang bekerja melawan Omicron.

Varian Omicron dideteksi pertama kali di Afrika Selatan dan masuk dalam Variant of Concern (VoC) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO). Berikutnya virus tersebut sudah ditemukan di banyak negara lain seperti Bostwana, Hong Kong dan Belgia.

Menurut catatan WHO, spesimen kasus pertama di Afrika Selatan dikumpulkan pada 9 November lalu. Saat ini, jumlah kasus terlihat meningkat hampir di setiap provinsi.

WHO juga menyebutkan varian ini memiliki strain atau mutasi yang banyak. Jumlahnya melebihi dari varian lain yang sudah terdeteksi yaitu Alpha, Beta, hingga yang masih mendominasi saat ini varian Delta.

Ilmuwan genom di Afrika Selatan mengatakan varian ini punya mutasi dengan lebih dari 30 protein lonjakan kunci.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading