Tapering & Varian Baru Covid, Bikin Cemas Bursa Saham Dunia

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
26 November 2021 17:00
U.S. Federal Reserve Chairman Jerome Powell holds a news conference following a two-day Federal Open Market Committee (FOMC) policy meeting in Washington, U.S., September 26, 2018. REUTERS/Al Drago

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada penutupan perdagangan hari terakhir pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambles 2,06% ke level 6.561,55 setelah sepanjang hari konsisten bergerak di zona merah sejak awal perdagangan.

Dalam satu hari IHSG langsung terlempar keluar dari level psikologi 6.600, dengan asing tercatat melepas kepemilikan saham di pasar reguler sebesar Rp 198,35 miliar.

Tidak hanya di dalam negeri, bursa utama Asia lainnya hari ini juga mengalami koreksi yang cukup dalam, beberapa bahkan lebih parah dari IHSG, seperti indeks Nikkei tercatat mengalami koreksi 2,53% dan Hang Seng Hong Kong ambles 2,67%.


Sementara itu Straits Times Singapura merosot 1,89%, KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 1,47% dan Shanghai Composite China melemah 0,56%.

Anjloknya bursa saham domestik dan indeks utama lain di kawasan Asia, memang sebagian besar diakibatkan oleh investor mulai mengkhawatirkan varian baru Covid-19 yang disebut lebih ganas dari varian Delta.

Varian baru yang diberi nama B.1.1.529 ini terdeteksi di Afrika Selatan (Afsel). Institut Nasional untuk Penyakit Menular (NICD) menyatakan telah mengkonfirmasi 22 kasus positif, dengan lebih banyak kasus dikonfirmasi saat hasil tes keluar per Kamis (25/11/2021).

Akan tetapi terdapat faktor tambahan lain yang menyebabkan bursa Asia memerah, yakni program pengurangan pembelian aset (tapering) oleh The Fed yang akan dilaksanakan mulai pekan depan.

Awal bulan ini The Fed memang telah mengumumkan untuk melakukan pengurangan US$ 15 miliar setiap bulan atas pembelian surat utang, dari total sebelumnya mencapai US$ 120 miliar per bulan.

Terbaru, kekhawatiran tentang inflasi mendominasi pertemuan The Fed November, dengan beberapa pembuat kebijakan menyarankan bahwa bank sentral harus bergerak lebih cepat dalam mengurangi program pembelian obligasi untuk memberikan fleksibilitas untuk menaikkan suku bunga lebih cepat jika diperlukan, berdasarkan risalah hasil pertemuan.

Saran tersebut mencerminkan ketidakpastian di bank sentral mengenai berapa lama permasalahan rantai pasokan dan kenaikan harga akan berlanjut. Pejabat Fed mempertahankan ekspektasi mereka bahwa inflasi akan berkurang "secara signifikan selama 2022," tetapi pembuat kebijakan "mengindikasikan bahwa ketidakpastian mereka mengenai penilaian ini telah meningkat."

Inflasi telah meningkat selama setahun terakhir, memberikan tantangan bagi The Fed, yang bertanggung jawab untuk mempertahankan harga yang stabil dan mendorong lapangan kerja maksimum.

Inflasi telah naik salah satunya karena gangguan rantai pasokan, melonjaknya permintaan barang dan kenaikan upah telah mendorong harga lebih tinggi; pembuat kebijakan mencatat bahwa kenaikan harga sewa dan energi juga berperan.

Data yang dirilis pada hari Rabu (24/11) menunjukkan bahwa harga naik pada laju tercepat dalam tiga dekade karena konsumen dihadapkan pada harga yang lebih tinggi untuk gas dan makanan.

Laju Tapering Dipercepat?

Tekanan dari pembuat kebijakan yang meminta agar inflasi dapat terkontrol dikatakan analis Goldman Sachs dalam catatan harian pada hari Kamis (25/11) dapat menjadikan Federal Reserve AS kemungkinan akan menggandakan laju pengurangan pembelian obligasi bulanannya mulai Januari 2022 menjadi $30 miliar.

Meskipun kalender tapering dipercepat, Goldman mengharapkan The Fed mulai menaikkan suku bunga hanya dari Juni sebanyak tiga kali pada tahun 2022. Bank investasi AS adalah salah satu dari beberapa bank yang baru-baru ini menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga mereka untuk tahun 2022 menjadi tiga. dari dua.


[Gambas:Video CNBC]

(fsd/fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading