Siap-siap! OJK Terbitkan Aturan Cyber Protection Awal 2022

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
25 November 2021 16:45
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Heru Kristiyana dalam acara VIP Forum bertajuk

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa keuangan (OJK) akan menerbitkan Peraturan OJK (POJK) yang khusus mengenai perlindungan serangan siber di sektor perbankan di Tanah Air atau POJK Cyber Protection.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa keuangan (OJK) Heru Kristiyana mengungkapkan, pada Oktober lalu, OJK sudah meluncurkan pedoman secara umum mengenai cyber security.

"Kita sudah mulai membuat, mempersiapkan aturan OJK-nya, ini tentunya awal tahun depan sudah keluar," kata Heru, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Kamis (25/11/2021).


Heru menilai, adanya POJK tersebut penting agar perbankan mempunyai pedoman dalam mengatur cyber security. "Saya minta, awal tahun depan sudah ada," bebernya.

Sebagai informasi, POJK ini diterbitkan untuk mengantisipasi potensi risiko serangan siber di tengah tren digitalisasi jasa keuangan.

Sebab, risiko lain dari tren digitalisasi di sektor jasa keuangan saat ini ialah serangan kebocoran data yang penting untuk diamankan oleh perbankan mengenai data nasabah. Selain itu, risiko lain di digitalisasi perbankan adalah sumber dan infrastruktur jaringan teknologi yang belum merata sehingga jika ada nasabah transfer mengalami gangguan.

Terpisah, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I OJK Teguh Supangkat mengungkapkan perkembangan digitalisasi di sektor perbankan memang meningkatkan timbulnya risiko terhadap keamanan siber bagi bank.

Sebab itu, maraknya serangan siber telah mendorong kebutuhan untuk meningkatkan ketahanan siber (cyber resilience) melalui penguatan keamanan siber.

Bahkan berdasarkan hasil kajian yang dilakukan IMF mengenai cyber risk di sektor keuangan, estimasi kerugian rata rata tahunan di keuangan global yang disebabkan serangan siber mencapai US$ 100 miliar atau setara dengan Rp 1.430 triliun (kurs Rp 14.300/US$).

Ini termasuk data BIN (Badan Intelijen Negara) hingga Juli 2021 di mana ada serangan siber sebanyak 741,4 juta, naik 2 kali lipat dibanding seluruh serangan siber yang terdeteksi di 2020 sebanyak 465,3 juta serangan.

"Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan IMF mengenai cyber risk di financial sector, estimasi kerugian rata rata tahunan di keuangan global yang disebabkan serangan siber mencapai US$ 100 miliar," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(sys/sys)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading