Duh! Bursa Asia Tak Kompak, Shanghai Cerah Tapi Nikkei Ambruk

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
24 November 2021 16:53
Passersby are reflected on a stock quotation board outside a brokerage in Tokyo, Japan, August 6, 2019.   REUTERS/Issei Kato Foto: Bursa Tokyo (REUTERS/Issei Kato)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu (24/11/2021), karena investor di Asia juga khawatir apabila bank sentral Amerika Serikat (AS) mungkin mempercepat pengetatan kebijakan moneternya untuk mengatasi risiko inflasi yang semakin meluas.

Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup menguat 0,14% ke level 24.685,50, Shanghai Composite China naik 0,1% ke 3.592,70, dan Indeks Harga Saham Gabungan naik tipis 0,08% ke posisi 6.683,277.

Sedangkan untuk indeks Nikkei Jepang berakhir ambles 1,58% ke level 29.302,66. Straits Times Singapura turun tipis 0,01% ke 3.227,15, dan KOSPI Korea Selatan melemah 0,1% ke 2.994,29.


Kekhawatiran pelaku pasar di Asia terhadap potensi dipercepatnya pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) membuat indeks Nikkei Jepang ditutup ambruk nyaris 1,6%.

Selain itu, saham teknologi AS yang ditutup ambruk pada perdagangan Selasa (23/11/2021) kemarin waktu AS juga mengurangi selera risiko investor di pasar Jepang, utamanya di saham teknologi Jepang.

Perusahaan internet Z Holdings, yang memiliki rasio harga atau penghasilan lebih dari 60 kali, ambles 4,6%. Sementara saham operator platform medis M3 tergelincir 5%.

Berikutnya saham Recruit Holdings ambles 4,3% dan saham SoftBank Group yang memiliki eksposur besar terhadap saham teknologi global merosot 3,3%.

Tak hanya saham teknologi, saham semikonduktor Jepang juga terpukul. Saham Lasertec terkoreksi 3,3%, Advantest ambles 4,1%, dan Screen Holdings melemah 3,1%.

Sementara itu di Korea Selatan, indeks KOSPI juga ditutup di zona merah, meskipun masih cenderung tipis karena terbebani oleh melonjaknya kembali kasus virus corona (Covid-19) di Negeri Ginseng tersebut.

Pemerintah setempat melaporkan kasus harian Covid-19 di Negeri Ginseng kembali mencetak rekor barunya pada hari ini, yakni bertambah 4.116 kasus. Hal ini terjadi ketika negara itu berjuang untuk menahan lonjakan kasus serius setelah sempat beralih ke rencana 'hidup bersama dengan Covid-19'.

Meskipun secara garis besar pasar saham Asia terpantau positif pada hari ini, tetapi penguatannya cenderung tipis-tipis, karena Kekhawatiran pelaku pasar di Asia terhadap potensi dipercepatnya pengetatan kebijakan moneter The Fed.

Hal tersebut membuat semakin banyak pelaku pasar yang bertaruh bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak 3 kali pada tahun depan.

Jika masing-masing kenaikannya sebesar 25 basis poin (bp) maka total kenaikan suku bunga acuan menjadi 75 bp.

Ekspektasi pasar tersebut terbilang sangat agresif jika dibandingkan dengan perkiraan pasar beberapa bulan lalu yang memproyeksikan The Fed hanya punya ruang 1 kali kenaikan suku bunga sebesar 25 bp.

Inflasi di AS yang tinggi memang menjadi momok bagi semua pelaku ekonomi. Bagi pemangku kebijakan, inflasi yang tinggi akan menghambat tercapainya tujuan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi.

Bagi masyarakat umum dan konsumen, tingginya inflasi akan mencekik daya beli. Sedangkan bagi investor dan pebisnis kenaikan inflasi yang tinggi dan berlangsung lama akan berakibat pada penurunan marjin laba.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading