Rupiah Dekati Rp 14.300/US$, Sinyal Bakal Ada Taper Tantrum?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 November 2021 09:29
Dollar-Rupiah (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah mengawali perdagangan minggu ini di zona merah setelah stagnan melawan dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan lalu. Padahal rupiah sedang dinaungi sentimen positif dari surplus transaksi berjalan (current account). Mata Uang Garuda kini kembali mendekati Rp 14.300/US$.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah tipis 0,04% di Rp 14.240/US$. Tidak lama depresiasi rupiah bertambah menjadi 0,18% ke Rp 14.260/US$ dan bertahan di level tersebut hingga pukul 9:10 WIB.

Tertekannya rupiah terjadi akibat kemungkinan dipercepatnya tapering oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed).


Seperti diketahui sebelumnya, The Fed pada 4 November lalu mengumumkan mulai melakukan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) sebesar US$ 15 miliar setiap bulannya, dimulai bulan ini.

Dengan nilai QE saat ini sebesar US$ 120 miliar, maka perlu waktu 8 bulan hingga menjadi nol, atau QE berakhir.

Tidak seperti tahun 2013 yang memicu gejolak di pasar finansial global (taper tantrum), tapering The Fed kali ini direspon dengan kalem oleh pasar. Pergerakan rupiah juga masih normal, sebab pasar sudah mengantisipasi tapering jauh-jauh hari.

Tetapi, semua berisiko berubah jika The Fed mempercepat laju tapering, guna meredam inflasi tinggi yang melanda AS. Wacana tersebut dilontarkan wakil ketua The Fed, Richard Clarida.

"Saya akan melihat data-data yang kami dapatkan mulai saat ini hingga rapat kebijakan moneter di bulan Desember, dan kemungkinan menjadi waktu yang tepat untuk mempercepat laju tapering," kata Clarida saat berbicara di San Francisco Fed's 2021 Asia Economic Policy Conference, Sabtu (20/11).

Jika benar The Fed mempercepat laju tapering, maka ada risiko terjadinya taper tantrum yang akan menekan rupiah meski tidak akan separah 2013.

Amerika Serikat Rabu nanti akan merilis data inflasi versi personal consumption expenditure (PCE), dan akan menjadi perhatian pelaku pasar. Sebabnya, menjadi acuan bank sentral AS (The Fed) dalam menetapkan suku bunga.

Inflasi inti PCE diprediksi tumbuh 4,1% year-on-year (YoY) di bulan Oktober, jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya 3,6% YoY yang merupakan level tertinggi dalam 30 tahun terakhir.

Semakin tinggi inflasi PCE makan spekulasi laju tapering akan dipercepat akan semakin menguat. Spekulasi kenaikan suku bunga lebih cepat juga akan menyusul. Rupiah pun dalam masalah, meski secara fundamental masih cukup kuat.

Pada pekan lalu Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) membukukan surplus sebesar US$ 10,7 miliar pada kuartal III-2021. Jauh membaik ketimbang kuartal sebelumnya yang defisit US$ 0,4 miliar.

"Kinerja NPI tersebut ditopang oleh transaksi berjalan yang mencatat surplus, berbalik dari triwulan sebelumnya yang tercatat defisit, serta surplus transaksi modal dan finansial yang makin meningkat," sebut keterangan tertulis BI, Jumat (19/11/2021)

Transaksi berjalan pada kuartal III-2021 mencatat surplus US$ 4,5 miliar atau 1,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Juga membaik ketimbang kuartal sebelumnya yang minus US$ 2 miliar (0,7% PDB).

Surplus di kuartal III-2021 tersebut menjadi yang tertinggi sejak kuartal IV-2009.

Kinerja transaksi berjalan terutama dikontribusikan oleh surplus neraca barang yang makin meningkat, didukung oleh kenaikan ekspor non-migas sejalan dengan masih kuatnya permintaan dari negara mitra dagang dan berlanjutnya kenaikan harga komoditas ekspor utama di pasar internasional.

Transaksi berjalan menjadi faktor yang begitu krusial dalam mendikte laju rupiah lantaran arus devisa yang mengalir dari pos ini cenderung lebih stabil.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading