Kuartal III-2021

Gak Ada Lagi Cuan Jual Menara, Laba XL Anjlok 51% Jadi Rp 1 T

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
09 November 2021 10:47
Kantor pusat Axiata di Malaysia/REUTERS/Samsul Said/Files

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan telekomunikasi PT XL Axiata Tbk (EXCL) mencatatkan laba bersih Rp 1,02 triliun sepanjang 9 bulan pertama tahun ini atau per September 2021 (Q3).

Laba ini turun signifikan sebesar 51,01% dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp 2,07 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, nilai laba bersih per saham juga ikut terseret turun menjadi Rp 95 dari sebelumnya Rp 194.


Laba bersih ini turun kendati pendapatan emiten milik Axiata Berhad Malaysia ini naik tipis 0,73% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi sebesar Rp 19,80 triliun. Sedangkan pada akhir September 2020 pendapatan perusahaan sebesar Rp 19,65 triliun.

Di pos ini, tercatat pendapatan data bertambah menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan, naik menjadi Rp 16,80 triliun dari sebelumnya Rp 16,09 triliun. Sedangkan pendapatan non data turun nilainya menjadi Rp 1,60 triliun dari Rp 2,24 triliun.

Signifikannya penurunan laba bersih ini disebabkan karena pada periode 9 bulan di tahun ini perusahaan tak lagi membukukan keuntungan dari penjualan dan sewa-balik menara sebesar periode sebelumnya. Nilai ini turun menjadi Rp 313,29 miliar dari sebelumnya Rp 1,97 triliun.

Selain itu, keuntungan dari selisih kurs pada tahun ini juga tidak sebesar tahun lalu, yakni senilai Rp 6,38 miliar dari sebelumnya Rp 10,61 miliar.

Dari segi beban, beban infrastruktur di tahun ini turun tipis menjadi Rp 5,95 triliun dari Rp 6,008 triliun. Namun beban penjualan dan pemasaran naik menjadi Rp 1,89 triliun dari Rp 1,36 triliun.

Lalu beban interkoneksi dan beban langsung lainnya turun menjadi Rp 1,03 triliun dari Rp 1,19 triliun. Beban gaji dan kesejahteraan karyawan turun menjadi Rp 803,94 miliar dari Rp 952,23 miliar.

Beban umum dan administrasi juga berhasil ditekan menjadi Rp 221,32 miliar dari Rp 243,32 miliar.

Biaya keuangan perusahaan mengalami penurunan pada akhir kuartal ketiga tahun ini menjadi Rp 1,77 triliun dari Rp 1,97 triliun. Sedangkan penghasilan keuangan turun menjadi Rp 62,85 miliar dari Rp 140,58 miliar.

Pada periode ini, perusahaan membukukan penambahan dari bagian atas laba bersih dari entitas asosiasi menjadi sebesar Rp 6,33 miliar dari sebelumnya Rp 2,12 miliar.

Di periode ini, tercatat nilai aset EXCL menjadi sebesar Rp 68,58 triliun, naik dari posisi akhir Desember 2020 yang senilai Rp 67,74 triliun. Aset lancar tercatat mencapai Rp 6,60 triliun dan aset tak lancar sebesar Rp 61,97 triliun.

Di pos liabilitas, terjadi kenaikan hingga kuartal III-2021 menjadi Rp 48,76 triliun dari sebelumnya Rp 48,60 triliun. Liabilitas jangka pendek tercatat sebesar Rp 18,08 triliun dan liabilitas jangka panjang ditutup di angka Rp 29,95 triliun.

Ekuitas perusahaan di akhir September 2021 lalu mencapai Rp 19,82 triliun, naik tipis dari posisi akhir Desember 2020 yang sebesar Rp 19,13 triliun.

Sebagai perbandingan, di semester I-2020, EXCL sempat membukukan lonjakan laba bersih 518% menjadi Rp 1,74 triliun dari tahun sebelumnya R p282,39 miliar lantaran adanya penjualan menara base transceiver station (BTS).

Lonjakan laba bersih saat itu ditopang keuntungan penjualan dan sewa-balik menara di mana pada pos ini, XL meraup Rp 1,85 triliun dari sebelumnya hanya Rp 211,4 miliar.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading