Wamen BUMN: SWF Dkk Mau Borong Saham IPO Mitratel Rp 11 T

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
02 November 2021 10:40
PT Dayamitra Telekomunikasi (MItratel) melaksanakan IPO dengan target dana maksimal Rp 25 triliun. Dok. Mitratel

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyebutkan dana abadi Indonesia atau sovereign wealth fund (SWF) bernama Indonesia Investment Authority (INA) akan berinvestasi di PT Dayamitra Telekomunikasi alias Mitratel senilai US$ 500 juta-US$ 800 juta atau kisaran Rp 7,1 triliun-Rp 11,36 triliun (asumsi kurs Rp 14.200/US$).

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan INA nantinya akan masuk melalui penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) yang dilakukan oleh anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

"[Ini merupakan investasi] INA dan partner-partner investor institusi asing," kata Kartiko kepada CNBC Indonesia, Selasa (2/11/2021).


Saat ini proses IPO Mitratel ini sedang berada dalam tahap penawaran awal (book building) yang telah dimulai pada 26 Oktober 2021 lalu dan akan berakhir pada 4 November 2021 nanti.

Perusahaan ini menargetkan untuk bisa mendapatkan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa diperoleh pada 12 November 2021.

Lalu, masa penawaran umum akan dilaksanakan pada 16-18 November 2021 dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditargetkan pada 22 November 2021 nanti.

Untuk diketahui, Mitratel menawarkan 25.540.000.000 saham atau sebanyak-banyaknya 29,85% dari modal yang ditempatkan dan disetor perusahaan setelah penawaran umum.

Berdasarkan prospektus yang dirilis perusahaan, saham ini ditawarkan dengan kisaran harga Rp 775-Rp 975/saham. Dengan demikian, perusahaan akan memperoleh dana senilai Rp 19,79 triliun hingga Rp 24,90 triliun dari penawaran umum ini.

Dana hasil penawaran umum ini oleh perusahaan sebanyak 44% akan digunakan untuk belanja modal organik seperti penambahan kolokasi melalui penguatan dan penambahan menara telekomunikasi, pembangunan menara baru dan penambahan site baru, dan ekspansi ke teknologi dan layanan yang dapat bersinergi dengan bisnis penyewaan menara.

Lalu sebesar 56% akan digunakan untuk belanja modal anorganik, yakni untuk mengakuisisi menara telekomunikasi dari operator telekomunikasi dan akuisisi strategis produk, teknologi, dan layanan baru yang bersinergi dengan bisnis penyewaan menara.

Sisanya akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja dan kebutuhan lainnya seperti peningkatan sistem teknologi informasi dan penerapan program pengembangan yang berkualitas untuk menara telekomunikasi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bersiap IPO, Mitratel Bidik Dana Hingga Rp 24,9 Triliun


(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading