Ngutang Rp 5,7 T, Emiten Menara Sandiaga Rilis Obligasi

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
29 October 2021 12:20
Instagram @sandiuno

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten menara telekomunikasi yang dimiliki Grup Saratoga milik Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaya, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menawarkan surat utang sebesar US$ 400 juta atau setara dengan Rp 5,7 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.250 per US$.

Surat utang ini akan ditawarkan dengan tingkat suku bunga 2,80% yang akan jatuh tempo pada 2027 mendatang.

Surat utang ini sudah mendapat peringkat BBB- dari Fitch Ratings Ltd. Penawaran surat utang ditargetkan akan ditutup pada tanggal 2 November 2021 mengacu pada persyaratan penutupan yang sewajarnya.


Adapun, jumlah bersih yang akan diterima perseroan dari penerbitan surat utang tersebut setelah dikurangi dengan biaya penjaminan emisi dan komisi sebesar US$ 396 juta.

Nantinya, surat utang tersebut akan terdaftar di Singapore Exchange Securities Trading Limited. Surat Utang 2027 ditawarkan kepada investor institusi dan investor lainnya sesuai dengan pengecualian yang tertulis dalam Securities and Futures Act, Singapore.

TBIG berencana menggunakan dana yang diperoleh tersebut untuk membayar sebagian saldo terutang dari fasilitas pinjaman revolving sebesar US$100 juta (fasilitas B) dan fasilitas pinjaman revolving (revolving loan facility) sebesar US$200 juta (fasilitas RLF tahun 2017), dan fasilitas pinjaman revolving sebesar US$375 juta (fasilitas RLF tahun 2019).

"Jumlah pembiayaan kembali untuk fasilitas B dan fasilitas RLF tahun 2017 dan fasilitas RLF tahun 2019 akan tetap tersedia dan dapat dipinjam kembali," ungkap manajemen TBIG, Jumat (29/10/2021).

Per 30 Juni 2021, tercatat total pinjaman1 dan kas serta setara kas milik TBIG dan entitas anaknya adalah sebesar Rp.28,505 miliar (US$2,0 miliar) dan Rp.894 miliar (US$61,7 juta).

Setelah memberlakukan penerbitan surat utang 2027 dan penggunaan perolehan dana bersih tersebut, total pinjaman gros yang dimiliki oleh entitas anak perseroan adalah sebesar Rp 6,81 triliun (US$470,3 juta) yang termasuk liabilitas sewa - kendaraan, liabilitas sewa.

Jumlah ini terdiri dari aset hak guna dan pinjaman fasilitas RLF tahun 2017, fasilitas pinjaman revolving PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk sebesar Rp.150 miliar (fasilitas RCF tahun 2018), dan fasilitas RLF tahun 2019.

Lainnya yakni fasilitas pinjaman berjangka dari PT Bank QNB Indonesia Tbk sebesar Rp.50 miliar (fasilitas TLF tahun 2020), fasilitas pinjaman revolving sebesar US$275 million (fasilitas RLF tahun 2021) dan fasilitas kredit US$1 miliar (fasilitas fredit).

Sementara itu, sampai dengan 30 Juni 2021, fasilitas yang terkomitmen dan belum ditarik berdasarkan pinjaman fasilitas RLF tahun 2017, fasilitas RCF tahun 2018, dan fasilitas RLF tahun 2019.

Lalu, fasilitas TLF tahun 2020, dan fasilitas pinjaman revolving dari PT Bank UOB Indonesia sebesar Rp200 miliar (fasilitas RCF tahun 2020).

Berikutnya, fasilitas RLF tahun 2021 dan fasilitas Kredit adalah sebesar US$155,7 juta dan setelah disesuaikan dengan memperhitungkan penerbitan Surat Utang 2027 dan penggunaan dana bersih tersebut.

Kemudian, fasilitas yang terkomitmen dan belum ditarik berdasarkan pinjaman fasilitas RLF tahun 2017, fasilitas RCF tahun 2018, fasilitas RLF tahun 2019, fasilitas TLF tahun 2020, fasilitas RCF tahun 2020, fasilitas RLF tahun 2021 dan fasilitas Kredit adalah sebesar US$551,7 juta, yang akan tetap tersedia dan dapat dipinjam kembali.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bayar Utang, Emiten Sandi Uno Catatkan Obligasi Rp 1,2 T


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading