CNBC Indonesia Award 2021

Catat, Ini Dia Empat Jurus Menguasai 'Gig Economy'

Market - Tri Putra & Arif Gunawan, CNBC Indonesia
21 October 2021 17:40
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan BRI Agro (Dok. BRI Agro) Foto: Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan BRI Agro (Dok. BRI Agro)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah pandemi, pekerja yang melek digital terbukti mampu bangkit lebih cepat, meski kebanyakan bergerak di sektor informal. PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (BRI Agro) membidiknya untuk basis pertumbuhan baru.

Berbasis kinerja fundamental kuat, BRI Agro memaksimalkan aplikasi BRI Agro Digital yang terus dikembangkannya dan aplikasi mobile banking Pinang untuk menggarap pasar pekerja di sektor informal yang melek digital tersebut. Pinang adalah aplikasi kredit digital pertama, yang dijalankan sejak tahun 2019.

Selama ini, sektor tersebut selama ini kurang feasible digarap secara konvensional (dengan mengandalkan agen dan kantor cabang) karena nilai transaksi yang kecil meski jumlah mereka sangatlah banyak. Perseroan menyebutnya 'gig economy' yang secara sederhana dipahami sebagai pertukaran (exchange) barang atau jasa antar individu/perusahaan lewat platform digital.

Para pelaku gig economy terutama adalah pekerja lepas dan setengah pengangguran, yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) jumlahnya mencapai 46,4 juta (2020). Meski mereka cenderung aktif di sektor informal, tapi para gig workers ini selama pandemi tercatat mengompensasi hilangnya pekerjaan lebih cepat ketimbang karyawan tetap.

Selama pandemi, angkatan kerja Tanah Air justru mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 1,94 juta pekerja, terutama di kalangan gig worker. BRI Agro memperkirakan gig workers akan terus bertumbuh karena karakteristik mereka yang fleksibel dan lekat dengan perkembangan industri digital sebagai industri masa depan.

Pada 2025, jumlah mereka diperkirakan tumbuh menjadi 74,8 juta dengan nilai ekonomi yang juga diprediksi mencapai US$ 314 miliar pada periode yang sama. Artinya, ada pertumbuhan rerata per tahun (compounded annual growth/CAGR) sebesar 10%.

BRI Agro menjadi bank digital murni pertama yang menyatakan intensi menggarap pasar informal yang menjadi kekhasan Grup BRI tersebut. Sebagaimana diketahui, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) merupakan penguasa pasar UMKM dan tengah berekspansi ke segmen ultra-mikro yang bergerak di sektor informal.

Rencana perseroan menggarap gig economy dengan kanal digital ditanggapi positif oleh para pelaku pasar. Secarayear to date (ytd) hingga 19 Oktober 2021, kinerja saham AGRO sudah melesat 92% lebih. Bahkan dalam 1 tahun terakhir, saham perseroan meroket 559%.

Rencana besar BRI Agro mendapat dukungan induknya sebagai bank dengan aset dan jumlah nasabah terbesar nasional. Tak menutup kemungkinan ekosistem BRI bisa dimanfaatkan BRI Agro. Kuatnya brand BRI juga akan sangat membantu akuisisi nasabah.

Transformasi di Empat Aspek

Sejauh ini, Bank Agro telah mendapat persetujuan regulator untuk menyediakan layanan pembukaan rekening secara branchless yang menjadi ciri utama platform digital banking. Saat ini, mereka masih menunggu izin perubahan brand dan nama menjadi PT Bank Raya Tbk.

Selanjutnya, BRI Agro menjalankan transformasi di empat aspek operasinya, agar ke depan bisa memperkuat positioning-nya di gig economy. Transformasi menjadi syarat mutlak agar bisa menjadi mitra keuangan gig worker secara menyeluruh, mulai dari menabung, bertransaksi, berinvestasi, hingga berasuransi.

Strategi pertama, aspek keuangan. Digitalisasi BRI Agro akan menurunkan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dari sektor konvensional yang selama ini terkonsentrasi pada deposan inti yang mencapai 60%. Profitabilitas pun bisa didongkrak karena kredit digital di sektor informal memilik yield lebih baik dan biaya lebih rendah).

Kedua, BRI Agro mengubah cara membidik target pelanggan atau akuisisi nasabah. Jika semula perseroan memprioritaskan nasabah koperasi, korporasi dan konsumen middle-up (konsumen kredit pemilikan rumah dan kredit kendaraan bermotor, maka ke depan fokus akan digeser membidik debitor kredit jangka pendek, berplafon rendah (tapi berimbal hasil tinggi).

Jurus ketiga BRI Agro terkait dengan proses bisnis, di mana kerja manual nan lamban yang selama ini dijalankan sebagai bank konvensional akan diubah menjadi mekanisme kerja berbasis digital, yang melibatkan big data, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan antarmuka pemrograman aplikasi (application programming interface/API) yang terbuka.

Terakhir, perseroan mentransformasikan aspek sumber daya manusia (SDM). Sistem manajemen SDM tradisional yang berbasis lumbung (silo) dan cara berpikir jumud akan diubah menjadi sistem manajemen SDM berbasis talenta, dengan cara berpikir berorientasi pertumbuhan.

Dengan strategi kuat tersebut, tidak heran saham AGRO September lalu resmi masuk ke dalam FTSE Global Equity Index untuk saham berkapitalisasi pasar kecil. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja dan strategi perseroan dinilai inline dengan ekspektasi investor global.

Mengacu strategi perseroan yang legit menyasar gig economy,di tengah kinerja fundamental kuat sebagai bank digital dengan profitabilitas tertinggi, dukungan Grup BRI, serta prospek pertumbuhan ke depan, BRI Agro terpilih menjadi pemenang penghargaan CNBC Indonesia Award untuk kategori "The Most ProspectiveDigital Bank 2021."

Perseroan mengungguli nominee lain dengan meraih skor 88 (dari 100) terutama dalam aspek penetapan target pasar dan strategi. Untuk mencapai penilaian tersebut, Tim Riset CNBC Indonesia melakukan analisis terhadap kinerja 11 bank digital murni dan membuat proyeksi ke depan berdasarkan strategi yang diambil, daya dukung korporasi, dan keunggulan ekosistem.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Fokus Jadi Bank Digital, AGRO Tambah Modal Rp 1,16 T


(rah/rah)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading