CNBC Indonesia Award 2021

'Jago, Beyond Digital Bank'

Market - Tri Putra & Arif Gunawan, CNBC Indonesia
21 October 2021 17:05
Bank Jago Raih

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten bank yang sampai sekarang mencuri perhatian publik adalah PT Bank Jago Tbk (ARTO). Dalam setahun terakhir, saham perseroan melesat 400% mengikuti lompatan strategis dan aksi korporasinya menjadi bank digital murni.

Awalnya bernama PT Bank Artos Tbk, bank mini BUKU I ini agresif bertransformasi setelah diakuisisi PT Metamorfosis (MEI) yang dikendalikan oleh bankir senior Jerry Ng. Bersamanya ada Wealth Track Technology besutan pendiri firma investasi Northstar Group, Patrick Walujo.

Dalam waktu setahun, perseroan naik kelas dari Kategori Bank dengan Modal Inti (KBMI) I menjadi KBMI II. KBMI I merupakan klasifikasi bank dengan modal di bawah Rp 6 triliun, sementara KBMI II berisikan bank dengan modal antara Rp 6 triliun-Rp 14 triliun. Jika menggunakan kategorisasi sebelumnya, Jago berhasil naik kelas dari Bank BUKU I menjadi Bank BUKU III dalam kurun kurang dari 2 tahun.


Lonjakan harga saham perseroan yang mencapai 3.500% lebih (terhitung sejak Jery Ng masuk pada Desember 2029), menjadi basis yang kuat bagi perseroan untuk menerbitkan saham baru (rights issue) atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) senilai Rp 7 triliun Maret lalu.


Umumnya, rights issue mengundang koreksi saham di pasar karena investor publik kehilangan persentase sahamnya menyusul risiko dilusi (jika tak mengeksekusi haknya dengan merogoh kocek tambahan untuk membeli saham baru). Dus, per Juni 2021, bank berkode saham ARTO-yang dalam bahasa Jawa berarti: uang-ini memiliki modal inti sebesar Rp 8 triliun. Hal ini menempatkan Bank Jago sebagai bank digital murni, dengan modal inti terbesar kedua, di antara 11 bank digital murni nasional.

Namun, hal serupa tidak terjadi pada saham ARTO, yang justru lanjut menguat dari kisaran Rp 10.000 saat rights issue menjadi Rp 13.825/saham. Pasar kian antusias memburu saham perseroan setelah aplikasinya, yakni Jago, resmi dirilis sebulan setelah rights issue.

Mengambil konsep Life Finance Solution (LFS), aplikasi Jago menempatkan nasabah atau pengguna aplikasinya sebagai pusat (customer-oriented) dan bukan menempatkan produk sebagai pusat (product-oriented). Produk didesain untuk mengikuti kebutuhan nasabah dengan adanya pilihan untuk meng-customize produk yang ada sesuai kebutuhan personal.

Berbasis filosofi tersebut, aplikasi Jago menawarkan semacam layanan pengelolaan keuangan pribadi. Misalnya, fitur saving plan dan tabungan multi-pocket yang bisa diatur untuk menyesuaikan rencana keuangan nasabah, dan peruntukan tabungan mereka.

Untuk layanan transaksi keuangan, Jago memberikan fitur pay and send, yang menawarkan opsi beragam mulai dari membayar tagihan, menagih pembayaran dari pengguna lain, menciptakan pooling dana dari beberapa pengguna, atau membayar barang/jasa yang dibeli bersama-sama.

Peluang Pasar yang Besar

ARTO menyasar segmen industri maupun nasabah personal di kalangan menengah dan mass market. Keduanya merupakan segmen yang pangsa pasarnya besar dan sangat menggiurkan untuk digarap dari sisi return, baik untuk segmen ritel maupun segmen bisnis.

Mengacu pada riset McKinsey & Company, Roy Morgan hingga Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI), segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta productive poor mencapai lebih dari 70 juta. Sementara, nasabah individu jumlahnya mencapai 174 juta.

Bagaimana cara meraih kedua pasar itu secara cepat? Jawabnya adalah kolaborasi strategis. Akhir tahun lalu, startup decacorn Tanah Air yakni Gojek masuk ke Bank Jago. Melalui PT Dompet Karya Anak Bangsa (GoPay), Gojek mengakuisisi 21,4% saham ARTO. Entitas yang sama belakangan menggegerkan Indonesia dengan berkolaborasi bersama Tokopedia.

Secara angka, Gojek memiliki 38 juta pengguna aktif per bulan, sementara pengguna aktif Tokopedia mencapai 100 juta setiap bulan. Dari pengguna aktif inilah ARTO yang masuk ke dalam ekosistem digital GoTo dapat mengkapitalisasinya dari sisi transaksi.

Pada Juli, Jago mengintegrasikan layanan dengan Gojek sehingga pelanggan dapat membayar layanan Gojek lewat Jago. Kerja-sama serupa juga dilakukan dengan fintech investasi lokal Bibit, yang memungkinkan nasabah Jago tak hanya mengelola keuangan tapi juga berinvestasi.

Dari sisi penyaluran kredit usaha, ekosistem GoTo juga menyediakan pasar besar karena Gojek dan Tokopedia sama-sama memiliki mitra UMKM yang jika dijumlahkan bisa mencapai 10 juta merchant.

Sejak peluncuran di platform Google Play Store maupun Apps Store, aplikasi Jago mendapat respons yang positif. Meski baru diluncurkan 6 bulan lalu, aplikasi tersebut sudah diunduh lebih dari 1 juta kali dengan rating rata-rata 4. Artinya, skor digital engagement Jago tergolong tinggi.

Melihat sepak-terjang perseroan dan keberhasilan membangun bank digital murni yang mampu menunjukkan keunggulan dalam personalisasi layanan keuangan, aplikasi Jago terpilih menjadi pemenang penghargaan CNBC Indonesia Award kategori "The Best Digital Personal Finance App."

Untuk mencapai penilaian tersebut, Tim Riset CNBC Indonesia melakukan kajian atas aplikasi bank digital murni di Indonesia, sebanyak 11 bank (meski belum semuanya merilis aplikasi). Layanan digital banking oleh bank petahana (non-digital murni) dipisahkan dari penilaian.

Selanjutnya, proses penilaian (scoring) dilakukan dengan fokus pada tiga kriteria: kenyamanan, keragaman, dan keamanan. Hasilnya, aplikasi Jago memiliki keunggulan dalam hal kenyamanan, dengan menyediakan layanan keuangan personal yang terluas dan paling fleksibel.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Terungkap! Begini Rencana Bisnis Bank Jago & Jago Syariah


(rah/rah)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading