CNBC Indonesia Award 2021

'Aladin, Bank Murni Digital Syariah Pertama'

Market - Tri Putra & Arif Gunawan, CNBC Indonesia
21 October 2021 17:10
Bank Aladin Syariah Raih

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia adalah negara berpopulasi muslim terbanyak dunia, yang mencapai 231 juta jiwa atau setara dengan 82% dari total populasi. Banyak di antaranya belum terlayani jasa perbankan, dan menunggu "mukjizat" digital.

Secara natural, Indonesia merupakan pasar besar industri keuangan syariah. Mengutip laporan riset Refinitiv dan ICD tahun 2020, Indonesia bersama dengan Malaysia, Bahrain, UEA, dan Arab Saudi menduduki peringkat yang strategis di kancah internasional dalam hal Islamic finance.

Dalam laporan tersebut, Refinitiv dan ICD memproyeksikan hingga tahun 2024, total aset industri keuangan syariah global akan menyentuh US$ 3,69 triliun. Dengan asumsi nilai kurs sekarang Rp 14.200/US$, maka nilai aset dalam 4 tahun ke depan akan mencapai Rp 52.398 kuadriliun.


Berdasarkan data Perbankan Syariah Juli 2021 Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total aset Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) mencapai Rp 616,08 triliun. Jumlah tersebut melesat dari Rp 296,26 triliun di akhir 2015.

Artinya, aset syariah nasional tumbuh lebih dari 15% secara rata-rata per tahun (compounded annual growth rate/CAGR) dalam 5 tahun terakhir. Namun, jika dibandingkan dengan total aset bank komersil Tanah Air, nilai aset perbankan syariah baru sebesar 6,5% saja.

Pasar yang digarap sejauh ini adalah red ocean (pasar yang sudah jenuh karena juga sudah digarap bank konvensional), mengingat data OJK juga menyebutkan literasi keuangan Indonesia masih rendah, dengan 77% penduduk dewasa di Indonesia mendapat layanan keuangan yang terbatas.

Pasar blue ocean, yang masih tak tergarap yakni mereka yang unbanked meski bankable, menunggu untuk digapai. Mereka kebanyakan merupakan penduduk di daerah pedesaan dan memiliki akses infrastruktur transportasi yang terbatas.

Di tengah peluang besar di pasar keuangan syariah Tanah Air, PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) hadir menjadi bank murni digital pertama nasional. Bank yang semula bernama PT Bank Net Syariah Indonesia Tbk ini mencuri perhatian sejak mengubah diri menjadi bank digital murni.

Saham perseroan pun terkerek karena investor menilai startegi tersebut tepat dan sangat prospektif ke depannya. Dus, sepanjang tahun berjalan ini saham perseroan di pasar telah meroket ribuan persen, dari harga perdana Rp 103 pada Senin (1/2/2021) menjadi Rp 2.350/unit kemarin.

Keputusan mengubah diri menjadi bank digital memang tergolong strategis, karena emiten berkode saham BANK ini memang terkategori sebagai Kelompok Bank dengan Modal Inti (KBMI) 1, alias bermodal di bawah Rp 6 triliun.

Oleh karenanya, perseroan cocok untuk mengubah model bisnis menjadi bank digital murni yang tak memerlukan kantor fisik. Keunggulan platform digital memungkinkan mereka menggapai 77% populasi yang menikmati akses perbankan terbatas, terutama di kawasan terpencil.

Membangun Ekosistem Ritel

Kunci kesuksesan bank digital terletak pada kekuatan dan kemampuannya untuk membangun ekosistem pengguna. Bank Aladin mengerti betul akan hal tersebut, sehingga mereka menjalin kerja-sama dengan pelaku industri lain terutama yang bergerak dalam sektor ritel.

Mereka meneken kerja-sama dengan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) sebagai pengelola minimarket Alfamart yang memiliki 15.000 gerai di seluruh Indonesia. Kerja-sama ini akan menguntungkan kedua belah pihak.

Dari sisi BANK, jumlah toko AMRT yang menjamur dapat menjadi sarana menggaet nasabah. Selain itu, BANK juga dapat mendeteksi perilaku konsumen di seluruh Indonesia untuk menentukan strategi pemasaran dan bisnis yang tepat.

Tak berhenti di situ, perseroan juga bekerja sama dengan Halodoc untuk memperluas layanan telemedicine di seluruh Indonesia, terutama di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang. Kerja sama omnichannel tersebut diharapkan memperkuat basis pertumbuhan nasabah Bank Aladin.

Tingkat penetrasi dan pertumbuhan nasabah yang tinggi menjadi kunci utama untuk meningkatkan fee based income serta meraih pendanaan yang murah. Penurunan Cost of Fund (CoF) yang dibarengi efisiensi berkat layanan digital akan berujung pada profitabilitas di masa mendatang.

Untuk menutup kebutuhan permodalan dan memperkuat kapasitas pengembangan usaha ke depan, perseroan mengambil langkah strategis untuk menggelar penerbitan saham baru (rights issue). Saham baru yang dilepas mencapai 2 miliar, dengan harga nominal Rp 100/unit.

Melihat strategi perseroan yang fokus membangun ekosistem kuat, di tengah status sebagai bank digital syariah pertama di negara dengan populasi muslim terbesar dunia ini, PT Bank Aladin Syariah Tbk terpilih menjadi pemenang penghargaan kategori "The Most Promising Islamic Digital Bank" di ajang CNBC Indonesia Award 2021.

Perseroan mengalahkan nominee di industri perbankan digital lainnya, yakni 12 bank umum syariah yang masih menjalankan bisnis secara konvensional dan hanya menggarap kolam digital Indonesia dengan layanan digital banking.

Untuk mencapai penilaian tersebut, Tim Riset CNBC Indonesia melakukan kajian riset dan analisis terhadap sektor perbankan digital, dan para pemain yang menggarap layanan digital, baik sebagai bank digital murni maupun sebagai add-on yakni digital banking.

Proses penilaian dilakukan pada September melalui riset kualitatif berbasis data sekunder dari publikasi resmi perseroan, BEI, serta media monitoring terhadap 20 media utama nasional. Semoga penghargaan ini mampu menempatkan milestone penting bagi sejarah industri bank syariah di Indonesia.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dorong Digitalisasi Haji, Bank Aladin Teken MoU dengan BPKH


(rah/rah)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading