Dunia Masih Krisis Enegi, Saham Batu Bara Kok Loyo?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
18 October 2021 09:48
Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten batu bara kompak ambles ke zona merah pada awal perdagangan hari ini, Senin (18/10/2021), masih terimbas aksi ambil untung (profit taking) para investor setelah cenderung melesat dalam beberapa waktu terakhir.

Berikut pelemahan saham batu bara, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.24 WIB.

  1. Atlas Resources (ARII), saham -4,85%, ke Rp 314/saham


  2. Bumi Resources (BUMI), -2,30%, ke Rp 85/saham

  3. Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS), -2,11%, ke Rp 93/saham

  4. Golden Eagle Energy (SMMT), -2,06%, ke Rp 190/saham

  5. Indo Tambangraya Megah (ITMG), -1,44%, ke Rp 25.625/saham

  6. ABM Investama (ABMM), -1,33%, ke Rp 1.480/saham

  7. Bayan Resources (BYAN), -1,23%, ke Rp 28.000/saham

  8. Delta Dunia Makmur (DOID), -1,20%, ke Rp 330/saham

  9. Prima Andalan Mandiri (MCOL), -0,84%, ke Rp 1.770/saham

  10. Adaro Energy (ADRO), -0,81%, ke Rp 1.845/saham

  11. Perdana Karya Perkasa (PKPK), -0,74%, ke Rp 134/saham

  12. Alfa Energi Investama (FIRE), -0,73%, ke Rp 680/saham

  13. Mitrabara Adiperdana, -0,26%, ke Rp 3.830/saham

Mengacu pada data di atas, saham ARII menjadi yang paling ambles, yakni sebesar 4,85% ke Rp 314/saham. Dalam sepekan saham ini minus 3,09%, tetapi dalam sebulan naik 9,79%.

Kedua, saham Grup Bakrie BUMI yang merosot 2,30% ke Rp 85/saham, setelah turun 1,14% pada Jumat pekan lalu. Dalam seminggu saham BUMI ambles 9,57%, sedangkan dalam sebulan melonjak 58,49%.

Di bawah BUMI, saham BOSS terkikis 2,11% ke Rp 93/saham, setelah melesat 7,95% pada penutupan perdagangan Jumat minggu lalu. Dalam sepekan saham BOSS anjlok 7,00%, sedangkan dalam sebulan naik 10,71%.

Harga batu bara bergerak naik pada perdagangan kemarin. Harga si batu hitam masih terus dalam tren menanjak.

Sepanjang minggu lalu, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) naik 0,59% secara point-to-point. Membaik dibandingkan pekan sebelumnya yang datar saja.

Batu bara masih terus menunjukkan taji. Dalam sebulan terakhir, harga melesat 36,38%. Sejak akhir 2020 (year-to-date), harga komoditas andalan ekspor Indonesia ini melambung 198,14%.

Ya, kenaikan harga batu bara sangat terasa dalam mendongkrak kinerja ekspor Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada September 2021 adalah US$ 20,6 miliar. Melonjak 47,64% dibandingkan periode yang sama pada 2020 (year-on-year/yoy).

Salah satu penyumbang utama ekspor Tanah Air adalah komoditas pertambangan, yang 70,33% datang dari batu bara. Nilai ekspor batu bara meroket 168,89% yoy.

"Batu bara naik 169,89% yoy, sementara month-to-month naik 9%. Negara tujuan ekspor adalah Tiongkok dan India," kata Margo Yuwono, Kepala BPS, dalam jumpa pers akhir pekan lalu.

Secara umum, lesatan harga batu bara dunia disebabkan oleh kenaikan harga gas alam. Harga gas alam di Henry Hub (Oklahoma, Amerika Serikat) melejit 108,59% secara year-to-date.

Saat harga gas alam naik, maka biaya pembangkitan listrik dengan sumber energi primer dari komoditas ini semakin mahal. Di Eropa, biaya pembangkitan listrik dengan gas alam pada 12 Oktober 2021 adalah EUR 85,22/MWh. Sementara dengan batu bara adalah EUR 54,76/MWh.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Batu Bara Pecah Rekor, Harga Saham Produsennya 'Ngamuk'


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading