Ngeri! Rupiah Sempat Tembus Rp 14.000-an/US$, Ada Apa Ini?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
14 October 2021 15:30
Uang Edisi Khusus Kemerdekaan RI ke 75 (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia) Foto: Uang Edisi Khusus Kemerdekaan RI ke 75 (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah membukukan penguatan tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (14/10), hingga sempat menyentuh Rp 14.000-an/US$ dan berada di level terkuat dalam 8 bulan terakhir. Dolar AS yang sedang terpuruk membuat rupiah mampu leluasa menguat.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,25% ke Rp 14.180/US$. Penguatan rupiah sempat terpangkas ke Rp 14.190/US$, tetapi setelahnya kembali menguat 0,46% ke Rp 14.150/U$.

Memasuki tengah hari, penguatan rupiah kembali terpangkas. Pada pukul 12:00 WIB, rupiah berada di Rp 14.165/US$.


Selepas tengah hari, rupiah makin trengginas, melesat hingga 0,91% ke Rp 14.085/US$. Level terkuat sejak 25 Februari lalu.
Di penutupan perdagangan posisi rupiah terpangkas ke Rp 14.115/US$ menguat 0,7% di pasar spot.

Dolar AS kembali terpuruk pada hari ini. Hingga sore ini indeks dolar AS melemah 0,2% setelah kemarin jeblok 0,46%. Rupiah pun mulus di zona hijau, tanpa pernah mencicipi zona merah.

Jebloknya dolar AS terjadi meski inflasi berada di level tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

cpiGrafik: Inflasi (CPI) Amerika Serikat
Foto: Refinitiv

Pemerintah AS kemarin melaporkan inflasi yang dilihat dari consumer price index (CPI) di bulan September dilaporkan tumbuh 0,4% dari bulan sebelumnya, lebih tinggi dari hasil polling Reuters terhadap para ekonom sebesar 0,3%. Sementara itu dibandingkan September 2020, inflasi melesat 5,4%, lebih tinggi dari pertumbuhan bulan Agustus 5,3% year-on-year (YoY).

Sementara itu inflasi inti yang tidak memasukkan sektor makanan dan energi, tumbuh 0,2% month-on-month (MoM), dan 4% YoY.

Inflasi merupakan salah satu acuan utama bank sentral AS (The Fed) dalam menerapkan kebijakan moneter, untuk saat ini adalah kapan waktunya tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) dan kenikan suku bunga.

The Fed sebenarnya lebih melihat inflasi berdasarkan personal consumption expenditure (PCE) yang akan dirilis akhir bulan ini. Tetapi, CPI yang masih menanjak bisa memberikan gambaran jika PCE juga masih akan naik lagi.

Apalagi, inflasi berdasarkan PCE saat ini sudah berada di level tertinggi dalam 30 tahun terakhir.

Tingginya inflasi di AS kini dikatakan akan bertahan dalam waktu yang cukup lama, tidak lagi sementara seperti kata The Fed. Sehingga pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga di bulan September tahun depan, lebih cepat dari perkiraan sebelumnya bulan Desember 2022.

"Pasar kini melihat inflasi tinggi akan bertahan lebih lama bukan sementara, dan ini kemungkinan akan memaksa The Fed menaikkan suku bunga lebih cepat seperti yang diperkirakan pelaku pasar. Sebelumnya, pasar melihat suku bunga akan dinaikkan pada Desember 2022, tetapi kini maju di September tahun depan," kata Edward Moya, analis pasar di Oanda, sebagaimana dilansir CNBC International.

Berdasarkan data dari perangkat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar saat ini melihat probabilitas sebesar 42,3% The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 0,25% - 0,5%.

idrFoto: CME Group

Probabilitas tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan yang lainnya, misalnya probabilitas suku bunga 0 - 0,25% sebesar 34,2%. The Fed saat ini menetapkan suku bunga sebsar 0 - 0,25%, artinya FedWatch menunjukkan jika pasar melihat peluang suku bunga dinaikkan di bulan September lebih besar ketimbang dipertahankan.

Kenaikan suku bunga yang lebih cepat seharusnya membuat dolar AS perkasa, tetapi kini malah jeblok. Sebabnya, The Fed terpaksa menaikkan suku bunga guna meredam kenaikan inflasi, sementara perekonomian Paman Sam kemungkinan belum akan mencapai pasar tenaga kerja maksimum, apalagi setelah rilis data tenaga kerja yang mengecewakan pada pekan lalu.

Alhasil, ada risiko perekonomian AS akan melambat akibat kenaikan suku bunga lebih cepat, dolar AS pun terpuruk.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Sentimen Terhadap Rupiah Sedang Bagus

Sentimen Terhadap Rupiah Sedang Bagus
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading