Kripto Big Cap Bangkit Lagi, Harga Bitcoin Tembus Rp 826 Juta

Market - chd, CNBC Indonesia
14 October 2021 09:50
Eva Montes shows the Chivo Wallet app, a Bitcoin wallet that the Salvadoran government is launching for the use of Bitcoin as a legal tender, installed in her phone in Mejicanos, El Salvador, September 9, 2021. REUTERS/Jose Cabezas

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas mata uang kripto (cryptocurrency) berkapitalisasi pasar terbesar berbalik menghijau pada perdagangan Kamis (14/10/2021) pagi waktu Indonesia, setelah sehari sebelumnya sempat terkoreksi.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 09:10 WIB, dari kedelapan kripto berkapitalisasi pasar terbesar (big cap) non-stablecoin, hanya solana yang diperdagangkan di zona merah pada pagi hari ini.

Koin digital solana melemah 0,87% ke level harga US$ 150,33/koin atau setara dengan Rp 2.131.679/koin pada pagi hari ini (asumsi kurs hari ini Rp 14.180/US$).


Sementara sisanya berhasil rebound ke zona hijau. Bitcoin melesat 3,47% ke level harga US$ 58.251,59/koin atau Rp 826.007.546/koin, ethereum melonjak 3,92% ke level US$ 3.638,62/koin (Rp 51.595.632/koin), binance coin menguat 1,64% ke US$ 464,98/koin (Rp 6.593.416/koin).

Selanjutnya cardano bertambah 2,74% ke US$ 2,19/koin (Rp 31.054/koin), ripple tumbuh 2,2% ke US$ 1,13/koin (Rp 16.023/koin), polkadot meroket 16% ke US$ 41,18/koin (Rp 583.932/koin), dan dogecoin terapresiasi 3,89% ke US$ 0,2371/koin (Rp 3.362/koin).

Kripto

Bitcoin kembali melesat hingga menyentuh level psikologisnya di US$ 58.000 pada pagi hari ini, setelah sempat terkoreksi cenderung tipis ke kisaran level US$ 56.000 pada perdagangan Rabu kemarin.

Pemulihan cryptocurrency yang terjadi selama sepekan terakhir cenderung terbalik dengan pergerakan pasar saham global.

Bitcoin masih memimpin dengan kenaikan harga hampir 18% sepanjang bulan ini. Sementara itu, indeks S&P 500 turun sekitar 4% dari level tertinggi sepanjang masaanya pada September, meskipun volatilitas pasar saham masih lebih rendah dari pasar kripto.

Saat ini, analis sedang memantau data blockchain yang menunjukkan kenaikan yang berkelanjutan di bitcoin.

"Terlepas dari larangan kripto oleh China, tampaknya penambang termasuk mereka yang berada di China, memegang bitcoin di dompet penambangan," kata Ki Young Ju, CEO CryptoQuant, dikutip dari CoinDesk.

Di lain sisi, harga bitcoin saat ini sekitar 10% dari harga tertinggi sepanjang masanya di level US$ 63.000, menandai pemulihan tajam dari penarikan hampir 50% dua bulan lalu.

Kecepatan pemulihan harga bitcoin jauh lebih besar daripada S&P 500, di mana S&P 500 masih mencatatkan return negatif dalam tiga bulan terakhir, sementara bitcoin sudah mencatatkan return positif nyaris 70% dalam periode yang sama.

Namun, dalam jangka panjang, penarikan bitcoin cenderung lebih parah daripada saham. Hal ini dikarenakan volatilitas cryptocurrency yang masih lebih tinggi dibandingkan dengan pasar saham.

Penarikan Bitcoin vs S&P 500Foto: Koyfin & CoinDesk

Di lain sisi, Amerika Serikat (AS) telah mengambil alih peran utama penambangan bitcoin untuk pertama kalinya menyusul tindakan keras China terhadap industri kripto.

"Saya memperkirakan AS terus memainkan peran kepemimpinan dalam hal pangsa karena adanya dukungan secara hukum," kata Bryan Bullett, Chief Executive Officer Bit Digital Bryan Bullett, dilansir dari CoinDesk.

"Tidak ada industri kripto yang ingin beroperasi di wilayah di mana mereka menghadapi risiko eksistensial," tambah Bullett.

Selain AS, dan Rusia juga menjadi pangsa hashrate bitcoin terbesar kedua dan ketiga, di mana hashrate Kazakhstan naik menjadi 18,1%, sedangkan hashrate Rusia naik menjadi 11%, menurut laporan CCAF.

Sementara itu, operasi penambangan kripto di Cina daratan secara efektif turun menjadi nol, dari sebelumnya di level tertingginya sebesar 75,53%, dari total hashrate penambangan bitcoin dunia pada September 2019.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading