Bos JPMorgan: Bitcoin Tidak Berharga!

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
12 October 2021 17:40
JPMorgan CEO Jamie Dimon (Photo: AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jamie Dimon, CEO bank investasi terbesar dunia JPMorgan Chase, secara terang-terangan mengungkapkan bahwa dia bukanlah penggemar bitcoin, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar saat ini.

"Saya pribadi berpikir bahwa bitcoin tidak berharga," kata Dimon dalam acara Institute of International Finance pada hari Senin, dikutip CNBC Pro, Selasa ini (12/10/2021).

Tapi, "saya tidak ingin menjadi juru bicara (bagi masyarakat yang kontra bitcoin/aset kripto) - saya tidak peduli. Bitcoin tidak memiliki arti apa pun bagi saya," ujarnya.


"Klien kami sudah dewasa. Mereka tidak setuju. Itulah yang membuat pasar. Jadi, jika mereka ingin memiliki akses untuk membeli sendiri bitcoin, kami tidak dapat menahannya tetapi kami dapat memberi mereka akses yang sah, sebersih mungkin," ujarnya menambahkan.

Dia memegang teguh pernyataan tersebut. Kendati demikian, pada Februari 2019, JPMorgan mengakomodasi keinginan sebagian nasabah dan disebutkan akan meluncurkan mata uang digital yang disebut JPM Coin, dan pada Oktober 2020, perusahaan menciptakan unit baru untuk proyek-proyek blockchain.

Pada bulan Agustus, perusahaan yang ia nakhodai mulai memberikan klien manajemen kekayaannya akses ke dana kripto, berdasarkan laporan CNBC.

Meski aset kripto telah mengalami turbulensi serta naik turun di pasar kelas aset dalam beberapa waktu terakhir, Dimon tetap memegang teguh pandangan anti-crypto-nya.

Baru-baru ini, dia memberi tahu CEO dan jurnalis portal berita Axios, Jim VandeHei, bahwa bitcoin "tidak memiliki nilai intrinsik."

Meskipun dia berpikir bitcoin akan ada dalam jangka panjang, Dimon mengatakan "selalu percaya bitcoin akan menjadi ilegal di wilayah tertentu, seperti China yang telah menjadikannya ilegal, jadi saya pikir itu seperti fool's gold."

Dengan kata lain baginya bitcoin adalah sesuatu yang terlihat menjanjikan daripada kondisi sebenarnya, layaknya penambang tertipu dengan menganggap pirit - mineral tembaga sulfida berwarna keemasan - sebagai emas.

Dimon juga memberi tahu VandeHei bahwa menurutnya "regulator akan mengatur bitcoin."

Dimon bisa saja benar, baru-baru ini, pemerintah AS semakin fokus untuk mengatur pasar cryptocurrency.

Pada hari Jumat (8/10), Bloomberg melaporkan bahwa pemerintahan Joe Biden sedang mempertimbangkan perintah eksekutif (executive order) yang akan mengarahkan agen federal untuk mempelajari dan menawarkan rekomendasi terhadap pasar kripto.

Namun, meskipun peningkatan regulasi mungkin terjadi, Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengklarifikasi pada akhir September bahwa dia tidak berniat untuk melarang bitcoin di AS.

Beberapa pakar keuangan berpendapat bahwa peraturan yang dipikirkan dengan matang akan bermanfaat di AS.

"Jika orang ingin kripto menjadi lebih dari aset utama, maka saya pikir [peraturan adalah] langkah pertama yang diperlukan," kata Anjali Jariwala, perencana keuangan dan akuntan publik bersertifikat pendiri Fit Advisors, kepada CNBC Make It.

Namun, pendukung cryptocurrency tetap waspada terhadap peraturan lebih lanjut - mereka khawatir bahwa kerangka peraturan tertentu dapat menghambat inovasi kripto di AS dan mendorong bisnis ke luar negeri.

Hingga Selasa (12/8) pukul 16.16 WIB, Bitcoin diperdagangkan di harga US$ 57.333 atau setara dengan Rp 819,86 juta (kurs Rp 14.300/US$), berdasarkan data yang dihimpun dari CoinMarketCap, dengan kapitalisasi pasar mencapai US$ 1,08 triliun (Rp 15.444 triliun).


[Gambas:Video CNBC]

(fsd/fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading