Bursa Asia Dibuka Beragam, Nikkei-KOSPI Berani Tedepan

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
14 October 2021 08:42
People walk past an electronic stock board showing Japan's Nikkei 225 index at a securities firm in Tokyo Wednesday, July 10, 2019. Asian shares were mostly higher Wednesday in cautious trading ahead of closely watched congressional testimony by the U.S. Federal Reserve chairman. (AP Photo/Eugene Hoshiko) Foto: Bursa Asia (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia dibuka cenderung beragam pada perdagangan Kamis (14/10/2021), di tengah sikap investor yang menanti rilis data inflasi China periode September 2021. Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,35% dan KOSPI Korea Selatan dibuka terapresiasi 0,66% pada pagi hari ini.

Sedangkan untuk indeks Straits Times Singapura dibuka melemah 0,27% dan Shanghai Composite China dibuka terkoreksi 0,22%. Sementara untuk indeks Hang Seng Hong Kong pada hari ini tidak dibuka karena sedang libur nasional.

Data inflasi dari sisi Indeks Harga Konsumen (IHK) China periode September 2021 akan dirilis pada pukul 09:30 waktu setempat atau pukul 08:30 WIB.


Beralih ke Amerika Serikat (AS), bursa saham Wall Street ditutup mulai rebound pada Rabu (13/10/2021) waktu AS, setelah bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mengindikasikan bahwa mereka dapat mulai mengurangi pembelian asetnya alias tapering secara bertahap pada pertengahan November.

Indeks Dow Jones ditutup mendatar di level 34.377,81, S&P 500 menguat 0,3% ke posisi 4.363,85 dan Nasdaq Composite melesat 0,73% menjadi 14.571,63. Indeks Nasdaq berhasil melesat karena didorong oleh penguatan dua saham teknologi, yakni saham Amazon.com dan Microsoft.

The Fed resmi mengumumkan risalahnya dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) pada dini hari tadi waktu Indonesia.

Berdasarkan risalah tersebut, para gubernur bank sentral AS mengisyaratkan bahwa mereka dapat mulai melakukan tapering secara bertahap pada pertengahan November, meskipun mereka tetap silang pendapat atas seberapa besar ancaman inflasi yang tinggi dan seberapa cepat mereka mungkin perlu menaikkan suku bunga.

Risalah pertemuan tersebut menunjukkan, para anggota merasa The Fed telah hampir mencapai tujuan ekonominya dan segera dapat mulai menormalkan kebijakan dengan mengurangi laju pembelian aset bulanannya.

Sebelumnya, laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan harga konsumen meningkat solid pada September, semakin memperkuat kasus kenaikan suku bunga Fed.

Inflasi September di AS tercatat tumbuh 0,4% secara bulanan dan 5,4% secara tahunan, atau lebih tinggi dari perkiraan ekonom dalam survei Dow Jones yang memperkirakan angka pertumbuhan sebesar 0,3% secara bulanan dan 5,3% secara tahunan

Inflasi inti tercatat naik 0,2% secara bulanan dan 4% secara tahunan, atau relatif sama seperti perkiraan yang masing-masing berujung pada angka sebesar 0,3% dan 4%.

Sementara itu dari kabar emiten AS terkait perilisan kinerja keuangan kuartal III-2021, Saham JPMorgan Chase & Co turun 2,6% meskipun pendapatan kuartal ketiga JPMorgan mengalahkan ekspektasi analis, dibantu oleh boom pembuatan kesepakatan global dan pelepasan lebih banyak cadangan kerugian pinjaman.

Saham JPMorgan turun bersama dengan saham bank lainnya dan merupakan salah satu pemberat terbesar pada S&P 500 dan Dow Jones, yang ditutup mendatar.

Musim laporan pendapatan kuartal ketiga tahun ini untuk perusahaan S&P 500 sudah dimulai pada Rabu kemarin.

Analis memperkirakan perusahaan Amerika akan melaporkan pertumbuhan laba yang kuat pada kuartal ketiga, tetapi kekhawatiran investor telah meningkat tentang bagaimana masalah rantai pasokan, kekurangan tenaga kerja, dan harga energi yang lebih tinggi dapat memengaruhi bisnis yang sedang berusaha pulih dari pandemi.

Bank of America, Citigroup, Wells Fargo dan Morgan Stanley akan melaporkan hasil pada hari Kamis, sementara Goldman Sachs akan melaporkan pada Jumat (15/10/2021) waktu AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading