Gainers-Losers

Investor BCA Nyengir, Investor Saham Bukalapak 'Gigit Jari'

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
14 October 2021 07:10
Bukalapak (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level psikologis 6.500, yakni melesat 0,78% ke 6.536,90, ada dua saham yang mengalami nasib yang berbeda pada perdagangan pada Rabu kemarin (13/10/2021), meskipun kedua emiten ini berasal dari sektor berbeda.

Dari sisi gainer, saham yang meningkat adalah bank milik Grup Djarum PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang baru saja melakukan pemecahan nilai nominal (stock split).

Sementara dari sisi losers, ada saham e-commerce PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang masih mengalami tekanan harga di bawah level saham saat penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).


Pada perdagangan Rabu kemarin, saham BBCA berhasil menyentuh level tertinggi sepanjang masa (all time high) pada hari pertama saat diperdagangkan dengan nominal baru pasca-stock split.

Sementara, saham BUKA berada di level terendah semenjak debut pada awal Agustus lalu, di tengah adanya aksi lego investor asing.

Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BBCA ditutup menguat 2,73% ke Rp 7.525/saham. Nilai transaksi saham BBCA mencapai Rp 1,60 triliun, tertinggi di bursa.

Sementara, investor asing melakukan beli bersih Rp 137,8 miliar di pasar reguler, terbesar keempat di BEI.

Dengan harga Rp 7.525/saham saat ini, saham BBCA menyentuh level tertinggi sepanjang masa, melewati harga tertinggi yang pernah dicetak pada 11 Januari 2021, ketika ditutup di harga Rp 7.345/saham (disesuaikan dengan harga pasca-stock split).

Adapun nilai kapitalisasi pasar saham BBCA--yang notabene memang terbesar di bursa--mencapai Rp 927,64 triliun.

Seperti diketahui, pada hari ini, BCA resmi menetapkan harga baru stock split saham dengan rasio 1:5.

Presiden Direktur BBCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, dengan harga baru yang mulai diperdagangkan hari ini, perseroan berharap harga saham BCA menjadi relatif terjangkau dan mendapat sambutan positif dari investor.

"Terutama investor pemula yang saat ini aktif berinvestasi di pasar modal," katanya kepada CNBC Indonesia, Rabu (13/10/2021).

Perseroan, kata Jahja, tetap berkomitmen menjaga soliditas fundamental BCA melalui pertumbuhan kinerja yang berkesinambungan, sehingga memberikan nilai tambah kepada segenap pemegang saham.

Adapun, nilai nominal per saham BBCA sebelum stock split adalah Rp 62,5, sedangkan nilai nominal per saham BBCA setelah stock split menjadi sebesar Rp 12,5.

Sesuai dengan jadwal, Selasa (12/10/2021) merupakan hari bursa terakhir saham BBCA diperdagangkan dengan nilai nominal lama di pasar reguler dan pasar negosiasi.

Selanjutnya, harga saham BBCA dengan nilai nominal baru mulai diperdagangkan pada pasar reguler dan pasar negosiasi pada hari ini.

Sebagai informasi, harga saham BBCA pada Rabu ini berkisar Rp 7.320 per saham, atau setara dengan Rp 36.600 per saham sebelum stock split.

Selanjutnya, saham dengan nilai nominal baru hasil stock split akan didistribusikan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) kepada pemegang saham pada 15 Oktober 2021.

Saham BUKA Terendah Sejak IPO

Sementara, saham BUKA merosot 5,44% ke posisi Rp 695/saham dengan nilai transaksi Rp 672,08 miliar. Seiring dengan pelemahan BUKA, investor asing melakukan jual bersih Rp 124,9 miliar, terbesar kedua di bursa.

Dengan ini, saham BUKA telah melemah selama 5 hari beruntun. Praktis, saat ini, harga saham BUKA pun berada di level terendah dan di bawah harga saat penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) yang sebesar Rp 850/saham.

Dalam sepekan saham BUKA ambles 16,77%, sementara dalam sebulan anjlok 20,11%. Adapun sejak debut pada 6 Agustus 2021, saham BUKA merosot 18,24%.

Amblesnya, saham BUKA berbarengan dengan saham Grup Emtek PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), yang merupakan pemegang saham pengendali BUKA.

Saham EMTK turun 1,97% ke Rp 1.490/saham, melanjutkan penurunan pada 2 hari sebelumnya. Kendati saham EMTK melemah, asing melakukan beli bersih Rp 18,50 miliar di pasar reguler.

Asal tahu saja, Grup Emtek saat ini tercatat sebagai pemegang saham pengendali Bukalapak melalui PT Kreatif Media Karya (KMK) dengan kepemilikan 23,93% saham.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading