Duh! Rupiah Lagi-Lagi Mentok di Rp 14.200/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
12 October 2021 12:49
Dollar AS - Rupiah (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Dollar AS - Rupiah (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) di pembukaan perdagangan Selasa (12/10), tetapi lagi-lagi mentok di Rp 14.200/US$. Rupiah gagal mempertahankan penguatan dan berbalik melemah di pertengahan perdagangan.

Pada pukul 12:00 WIB, rupiah berada di Rp 14.215/US$, melemah 0,07% di pasar spot, melansir data Refintiv.

Di sisa perdagangan hari ini, rupiah terlihat sulit untuk menembus ke bawah Rp 14.200/US$, terlihat dari pergerakannya di pasar non-deliverable forward (NDF) yang lebih lemah siang ini ketimbang beberapa saat sebelum pembukaan perdagangan pagi tadi.


Periode Kurs Pukul 8:54 WIB Kurs Pukul 11:54 WIB
1 Pekan Rp14.188,10 Rp14.200,6
1 Bulan Rp14.241,50 Rp14.241,0
2 Bulan Rp14.287,00 Rp14.283,0
3 Bulan Rp14.317,00 Rp14.331,0
6 Bulan Rp14.480,00 Rp14.473,0
9 Bulan Rp14.612,90 Rp14.613,0
1 Tahun Rp14.806,50 Rp14.792,0
2 Tahun Rp15.429,30 Rp15.443,0

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Kenaikan harga komoditas berisiko memicu peningkatan inflasi lebih lanjut. Di Amerika Serikat, inflasi sudah tinggi, dan jika lebih tinggi lagi tentunya akan memastikan bank sentral AS (The Fed) melakukan tapering di tahun ini.

"Kita melihat pasar mata uang saat ini digerakkan oleh ekspektasi pengumuman tapering The Fed di bulan November, serta apa yang terjadi pada harga komoditas saat ini," kata Kim Mundy, ekonom di Commonwealth Bank of Australia, sebagaimana dilansir CNBC International.

Kenaikan harga komoditas, khususnya sektor energi juga memicu kecemasan akan terjadinya resesi, yang tentunya menguntungkan dolar AS karena dianggap sebagai aset safe haven.

"Tingginya biaya energi atau kenaikannya dalam waktu singkat di masa lalu memicu terjadinya resesi, dan ada kemungkinan sejarah akan terulang lagi jika harga minyak mentah terus menanjak. Kenaikan harga energi berdampak pada menurunnya pendapatan disposibel masyarakat," kata Neil Beveridge, analis dari Bernstein dalam sebuah catatan yang dikutip CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading