Begini Jurus OJK Atur Bisnis Startup 'Raksasa' GoTo dkk

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
11 October 2021 19:00
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dalam Acara OJK Virtual Day (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden) (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Eksekutif Group Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Triyono Gani menyampaikan, perusahaan rintisan atau startup di Tanah Air terus berkembang seiring dengan pesatnya perkembangan digitalisasi.

Sampai dengan September 2021, terdapat 2.100 startup di Indonesia. Dari jumlah tersebut, tujuh di antaranya bervaluasi di atas US$ 1 miliar (unicorn) dan dua bervaluasi decacorn atau di atas US$ 10 miliar.

Salah satu yang menyita perhatian khalayak, kata Gani, ialah GoTo, entitas hasil merger antara Tokopedia dan Gojek yang nilai valuasinya saat ini sudah di atas Rp 140 triliun atau decacorn.


Menurutnya, dalam menangani perusahaan startup, regulator menerapkan kebijakan yang akomodatif dan antisipatif.

"Menangani fintech harus light touch and safe harbour, ini adalah prinsip yang sangat penting," kata Teguh Gani, di acara OJK Virtual Innovation Day 2021, Senin (11/10/2021).

Sebagai informasi safe harbour adalah kebijakan pemerintah yang memisahkan tanggung jawab penyedia marketplace berbasis user generated content (UGC) dengan penjual yang memakai jasa mereka.

Dia memaparkan, ada tiga prinsip penting yang dilakukan OJK dalam menjalankan fungsi pengawasan untuk perusahaan rintisan.

Pertama, memberikan perlindungan bagi nasabah, termasuk menyampaikan mengenai literasi keuangan digital. Kedua, memastikan keamanan data pribadi nasabah.

"Banyak ditemukan mengenai kebocoran data dan ini menjadi sangat penting untuk kita atasi isu ini," ujar Teguh.

Terkait hal ini, OJK telah bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Terakhir, OJK juga melakukan pengawasan mengenai aturan dan penggunaan teknologi perusahaan rintisan.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso menyebut, perusahaan rintisan saat ini bukan hanya merambah di produk yang berbasis layanan teknologi finansial (fintech), melainkan ke sektor agritech, edutech, healthtech, property tech hingga e-commerce.

Dia menambahkan, terus bertumbuhnya perusahaan rintisan itu sebagai kebijakan dari seluruh pemangku kepentingan yang mendukung inovasi digital. Pasalnya, Kehadiran teknologi di seluruh aspek kehidupan tidak mempunyai batasan ruang waktu dalam men-deliver produknya.

"Kebijakan kita bukan bukan kebijakan yang membatasi tapi mendorong, sangat mendukung hadirnya kebijakan ini karena masyarakat mendapat manfaat paling besar. Terutama di sektor jasa keuangan, OJK berperan sangat strategis mendukung inovasi keuangan dalam satu ekosistem keuangan digital yang terintegrasi," kata Wimboh, saat menyampaikan Opening Speech di acara OJK Virtual Innovation Day 2021, Senin (11/10/2021) di Istana Negara.

Wimboh menekankan, dalam kebijakan OJK mempercepat pelaksanaan transformasi digital di sektor keuangan fokus pada dua hal.

Pertama, mendukung memanfaatkan teknologi digital di sektor jasa keuangan dalam rangka pelayanan, produk kepada masyarakat yang murah dan kompetitif.

Kedua, memberikan kemudahan, memperluas akses masyarakat yang belum terakses lembaga keuangan formal (unbankable) dan pelaku UMKM untuk dapat masuk dalam ekosistem digital.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

GoTo Dual Listing, Apakah Periode Bakar Uang Sudah Selesai?


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading