Yes! Kabar Baik Datang dari Asia, Mayoritas Bursa Hijau

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
11 October 2021 08:41
Passersby are reflected on an electronic board showing the exchange rates between the Japanese yen and the U.S. dollar, the yen against the euro, the yen against the Australian dollar, Dow Jones Industrial Average and other market indices outside a brokerage in Tokyo, Japan, August 6, 2019.   REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas Bursa Asia kembali dibuka menguat pada perdagangan Senin (11/10/2021), mengabaikan sentimen dari melemahnya kembali bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (8/10/2021) pekan lalu, karena data lapangan pekerjaan yang kembali mengecewakan.

Hanya indeks Nikkei Jepang yang dibuka melemah 0,53% pada pagi hari ini. Namun selang sekitar 90 menit setelah dibuka, Nikkei berhasil rebound dan melesat 1,3%.

Sedangkan sisanya dibuka cerah pada pagi hari ini. Indeks Hang Seng Hong Kong dibuka melonjak 1,47%, Shanghai Composite China menguat 0,31%, dan Straits Times Singapura naik 0,14%.


Sementara untuk pasar saham Korea Selatan pada hari ini tidak diperdagangkan karena sedang libur nasional.

Pasar saham Asia cenderung berbanding terbalik dengan pergerakan bursa saham AS, Wall Street yang ditutup kembali melemah pada perdagangan Jumat (8/10/2021) pekan lalu, setelah rilis data lapangan kerja per September yang kurang memuaskan.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup turun tipis 0,03% ke level 34.746,25, S&P 500 melemah 0,19% ke 4.391,41, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,51% ke 14.579,54.

Data pemerintah AS menunjukkan jumlah lapangan kerja baru (di luar sektor pertanian) di AS hanya bertambah 194.000 pada September, atau jauh dari ekspektasi dalam survei Reuters di angka 500.000.

Realisasi itu juga lebih buruk dari angka Agustus (versi revisi) yang sebesar 366.000, atau lebih tinggi dari pembacaan awal sebanyak 235.000.

Angka tersebut menjadi yang terendah dalam sembilan bulan terakhir di tengah perekrutan turun di sekolah dan beberapa bisnis kekurangan pekerja.

Tingkat pengangguran AS tercatat turun menjadi 4,8% pada September dari 5,2% pada Agustus dan pendapatan rata-rata per jam naik 0,6%, lebih dari yang diramalkan.

Selain itu, investor tampaknya juga masih memperkirakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan mulai mengurangi pembelian aset alias tapering off pada tahun ini.

"Saya pikir Federal Reserve (The Fed) menjelaskan dengan sangat jelas bahwa mereka tidak memerlukan laporan pekerjaan blockbuster untuk mulai melakukan tapering pada bulan November," kata Kathy Lien, Managing Director di BK Asset Management di New York, kepada Reuters, dikutip CNBC Indonesia, Sabtu (9/10/2021).

Di lain sisi, musim pelaporan kinerja keuangan kuartal ketiga tahun 2021 di AS akan dimulai pekan ini, dengan JPMorgan Chase dan bank-bank besar lainnya menjadi yang pertama merilis hasil rapor keuangan kuartal III-2021.

Mengacu pada data Refinitiv, rata-rata analis memperkirakan laba per saham di indeks yang penuh saham blue chip (saham unggulan) S&P 500 untuk kuartal ini naik hampir 30%,

"Saya pikir ini akan menjadi musim pendapatan (perusahaan) yang tidak pasti," kata Liz Young, kepala strategi investasi di SoFi di New York.

"Jika masalah rantai pasokan menaikkan biaya, perusahaan dengan kekuatan harga yang kuat dapat melewati kenaikan biaya tersebut. Namun, Anda tidak dapat mengatasi kekurangan tenaga kerja jika Anda tidak bisa menemukan pekerja untuk direkrut."

Dari pasar obligasi pemerintah, imbal hasil (yield) Treasury AS acuan tenor 10 tahun berada di 1,57% pada Kamis (7/10/2021), dan UBS memprediksi akan naik menjadi 1,8% pada akhir tahun ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading