Tanpa Perlawanan Lagi, Rupiah Bertahan di Bawah Rp 14.300/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
29 September 2021 15:27
A money changer counts U.S. dollar banknotes at a currency exchange office in Diyarbakir, Turkey May 23, 2018. REUTERS/Sertac Kayar

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah lagi-lagi tanpa perlawanan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (29/9). Kenaikan yield obligasi AS (Treasury) terus mendongkrak kinerja the greenback, rupiah pun tak sempat mencicipi zona hijau dalam 2 hari terakhir.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan hari ini dengan melemah 0,14% ke Rp 14.290/US$. Depresiasi makin membengkak, hingga 0,35% ke Rp 14.320/US$. Level tersebut merupakan yang terlemah sepanjang September.

Setelahnya rupiah mampu memangkas pelemahan, dan berakhir di Rp 14.290/US$, melemah 0,14%.


Yield Treasury AS tenor 10 tahun kemarin kembali menanjak 5,55 basis poin ke 1.5461%. Dalam 4 hari terakhir total 18,57 basis dan saat ini berada di level tertinggi sejak 17 Juni lalu.

Selain itu, kenaikan yield Treasury tenor 10 tahun tersebut menjadi indikasi pasar melihat bank sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga. Alhasil dolar AS pun perkasa.

Selain kenaikan yield Treasury, masalah politik klasik di AS, batas utang, juga membebani sentimen pelaku pasar. Amerika Serikat masih terancam mengalami shutdown. Kongres AS harus menyetujui Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) pada Jumat mendatang untuk menghindari shutdown.

Selain itu, Menteri Keuangan Janet Yellen juga mengatakan Kongres AS harus menyetujui kenaikan batas utang pada 18 Oktober agar Amerika Serikat terhindar dari gagal bayar (default).

Sejauh ini, Partai Republik masih menolak untuk menaikkan batas utang.

"Apa yang terjadi Washington sama sekali tidak membantu sentimen, kita memiliki banyak ketidakpastian, dari kebijakan pajak, dan tentu saja batas utang," kata Jeff Buchbinder, ahli strategi di LPL Financial.

Kabar buruk lainnya datang dari Eropa, krisis energi diprediksi akan semakin memburuk dan berdampak secara global.

Krisis tersebut dimulai akibat meroketnya harga gas alam. Reuters melaporkan sepanjang tahun ini harga gas alam di Eropa sudah meroket hingga 280%, sementara di Amerika Serikat (AS) lebih dari 130%.

Reuters yang mengutip para analis mengatakan pukulan terhadap perekonomian memang tidak terelakkan, tetapi saat ini masih terlalu dini untuk memangkas proyeksi produk domestik bruto (PDB).

Meski demikian, kenaikan harga energi tersebut meningkatkan risiko stagflasi, atau kondisi dimana inflasi tinggi dengan pertumbuhan ekonomi rendah.

"Cukup jelas ada rasa tidak nyaman yang berkembang mengenai prospek perekonomian, karena semakin banyak dunia usaha yang melihat prospek kenaikan biaya" kata Michale Hewson, kepala analis pasar di CMC Market.

Dari semua sentimen buruk tersebut terselip sedikit kabar baik. Ketua The Fed, Jerome Powell, yang memberikan testimoni kemarin menyatakan perekonomian saat ini masih jauh dari target tenaga kerja maksimum.

Artinya, ada kemungkinan suku bunga tidak akan dinaikkan di tahun depan.

"Pada pekan lalu saya mengatakan kami sudah mencapai target untuk memulai tapering. Saya perjelas lagi, dalam pandangan kami, masih jauh untuk mencapai target tenaga kerja maksimum," kata Powell di hadapan Kongres AS.

Artinya, The Fed memang akan melakukan tapering dalam waktu dekat, tetapi untuk menaikkan suku bunga masih menunggu hingga target tenaga kerja maksimun tercapai.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading