Review: Intip Potensi Saham BTPS

Market - Tim Redaksi, CNBC Indonesia
29 September 2021 15:35
BTPS, Bank BTPN Syariah

Jakarta, CNBC Indonesia - Dinamika pergerakan saham BTPN Syariah mengalami pergerakan yang cukup aktif selama tahun 2021. Namun di balik pergerakan harga tersebut, sebenarnya kinerja keuangan emiten bank Syariah yang masuk ke dalam golongan KBMI II menurut POJK 12/2021 ini cukup solid, tercermin dengan kinerja yang positif di semester I.

Hingga semester I tahun ini, total pembiayaan yang disalurkan oleh BTPS menyentuh Rp 10,05 triliun atau tumbuh 15% YoY. Di saat yang sama Cost of Financing tercatat mencapai 5,1% atau 10 bps lebih tinggi dari batas atas management guidance.

Dilihat dari struktur Dana Pihak Ketiga (DPK) BTPS masih didominasi oleh deposito yang mencapai Rp 8,35 triliun atau tumbuh 11% YoY hingga bulan keenam tahun ini.

Kontribusinya mencapai 78,6% DPK. Meskipun dana murah (CASA) BTPS porsinya masih di bawah 20%, tetapi pertumbuhannya lebih tinggi dibanding deposito. CASA meningkat 16% YoY menjadi Rp 2,27 triliun pada periode yang sama. Peningkatan proporsi CASA turut menurunkan biaya dana atau Cost of Fund (CoF) BTPS ke level terendah di 4,2%.

btpn Syariah



Meskipun imbal hasil (yields) dari aset produktif cenderung sulit naik secara signifikan akibat Credit Cost yang juga ikut naik, tetapi penurunan tajam pada CoF didukung dengan efisiensi operasional yang tercermin dari rendahnya BOPO di level 56,8% pada paruh pertama 2021 membuat PPOP melonjak 32,8% YoY menjadi Rp 1,24 triliun. Sementara itu laba bersihnya mencapai Rp 770 miliar di saat yang sama atau melesat 89,3% YoY.

Kualitas aset yang tercermin dari Non Performing Financing (NPF) juga tetap terjaga di level yang rendah di 2,4% secara gross. Di tengah pandemi Covid-19 perbankan menjadi salah satu industri yang ikut terdampak.

Bagi bank, permodalan yang kuat akan membantu institusi keuangan untuk tetap resilient dalam menghadapi shock atau krisis. Hingga semester I tahun ini rasio kecukupan modal (CAR) BTPS tergolong sangatlah tinggi di angka 52%.

Kombinasi antara strategi optimalisasi portofolio penyaluran pembiayaan, peningkatan proporsi dana murah hingga operasional yang efisien menjadi kunci utama solidnya top line dan bottom line BTPS.

Tidak hanya itu, BTPS bahkan menjadi perbankan yang leader di industrinya bahkan masih tetap memimpin dari berbagai segi mulai dari permodalan (CAR), kualitas aset (NPF), efisiensi (BOPO), hingga profitabilitasnya (NOM & ROA). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di gambar di bawah ini.


Ist



Well, dengan asumsi CoF tetap terjaga di kisaran 4,2-4,5%; yields on earning assets di kisaran 34-36% serta BOPO tetap rendah di level saat ini, maka untuk tahun 2021, laba bersih BTPS bisa tembus Rp 1,5 triliun. Artinya total laba bersih BTPS meningkat 45% YoY dibanding tahun 2020.

Sampai di sini jelas sudah bahwa penurunan harga saham BTPS tidak mencerminkan kinerja perusahaan yang memburuk, justru yang terjadi malah sebaliknya. Bisa dibilang harga saham BTPS yang downtrend sepanjang tahun 2021 adalah bukti bahwa pasar tidak selalu rasional.

Transformasi Digital

Ke depan, BTPS akan melanjutkan agenda transformasi digitalnya. Salah satu strateginya adalah dengan membentuk ekosistem digital yang dibutuhkan nasabah inklusi untuk mengakses pembiayaan.

Sejauh ini BTPS telah merampungkan Front End Apps Bernama Terra, aplikasi muktahir untuk para tim di lapangan dalam melayani nasabah inklusi. Segmen nasabah inklusi adalah segmen yang unik, mereka tidak hanya butuh aplikasi yang cangih dan menjaga transaksi mereka tetapi juga membutuhkan sentuhan yang humanis.

BTPS juga berkomitmen untuk terus memperkenalkan serta membantu nasabah inklusi terutama bagi mereka yang tersebar di pelosok negeri untuk bisa beradaptasi dengan teknologi.

Lewat platform Mitra Tepat, nasabah inklusi tidak hanya bisa menggunakannya untuk membayar angsuran bulanan tetapi juga bisa digunakan untuk membayar tagihan listrik.

Belum lama ini BTPS memperkenalkan layanan terbaru. Lewat aplikasi Warung Tepat, kebutuhan sehari-hari menjadi lebih mudah untuk dipenuhi karena bisa langsung dipesan lewat gadget dan juga bebas ongkos kirim.

Lewat inisiatif tersebut jelas tergambar bahwa BTPS sedang membangun ekosistem layanan digital yang memang dibutuhkan oleh customer-nya. Di mana teknologi digital yang dikembangkan turut memberikan berbagai macam pengetahuan nasabah untuk peningkatan kehidupan mereka, termasuk mengembangkan usaha.

Inilah yang disebut teknologi untuk kebaikan, teknologi yang tidak memaksakan, tetapi justru memudahkan kehidupan nasabah inklusi. Dengan langkah tersebut jangkauan BTPS akan menjadi lebih luas dan bisa semakin menyasar segmen yang belum terjamah.

Dampak dari inisiatif ini pun bisa diukur lewat metrik keuangan. Ada peluang besar peningkatan basis nasabah. Selain potensi penurunan CoF yang besar, peluang untuk menggenjot fee based income juga semakin terbuka lebar. Ujung-ujungnya pun clear untuk menunjang growth dan profitabilitas.

Strategi ini juga menandai upaya digitalisasi perusahaan terutama di sektor perbankan yang kian relevan saat ini, tentu dengan pendekatan yang customer-centric. Dari sisi strategi digital BTPS jelas tidak kalah dengan bank-bank lain karena memang sudah dimulai dan tidak hanya menjual angan-angan atau pepesan kosong belaka.

Investor yang jeli dan forward looking akan melihat penurunan saham BTPS ini sebagai momentum untuk mulai mengkoleksi. Karena dilihat dari berbagai aspek BTPS memang punya fundamental yang kuat.

Dilihat dari sudut pandang pertumbuhan, BTPS adalah perusahaan yang terus bertumbuh dengan pesat. Sejak 2015-2021, top line BTPS berhasil mencatatkan pertumbuhan CAGR 19% per tahun, sementara itu dari sisi bottom line pertumbuhannya lebih fantastis lagi yaitu 45% per tahun. Itu artinya BTPS berhasil meningkatkan efisiensinya dalam kurun waktu tersebut.

Model bisnis BTPS juga tidak hanya menjanjikan karena menyasar segmen yang selama ini menyimpan potensi pertumbuhan yang besar, tetapi juga punya dampak yang positif untuk masyarakat terutama kalangan perempuan dan keluarga pra-sejahtera produktif. Di tengah tren investasi di perusahaan yang sangat memperhatikan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ESG (Environmental, Social and Good Governance), BTPS adalah salah satunya.

Kemudian, aspek lain yang patut dipertimbangkan investor adalah, meskipun pandemi, BTPS tetap membagikan dividen ketika banyak perusahaan termasuk bank yang memilih untuk tidak membagikan labanya kepada pemegang saham bahkan tak jarang juga merugi. Tahun lalu BTPS membagikan dividen sebesar Rp 254,15 miliar atau setara dengan hampir 30% labanya kepada pemegang saham.

Sebenarnya jika objektif dalam melihat nilai intrinsik saham BTPS, investor tak perlu khawatir dan justru harusnya senang karena menawarkan Margin of Safety (MoS) yang besar. Saat ini saham BTPS ditransaksikan mendekati -1STD dari book value (BV)-nya atau setara dengan 3,18x BV. Masih ada potensi upside setidaknya ke rata-rata PBV sejak IPO yakni di 4,11x kalau menggunakan skenario yang konservatif.

Dengan menggunakan rerata PBV tersebut maka harga wajar alias fair price BTPS sendiri di kisaran Rp 3.400 - Rp 3.500 per lembar. Ada potensi upside sebesar 30%. Namun jika melihat potensi pertumbuhan yang pesat maka harga saham BTPS sebenarnya layak ditransaksikan di +1STD PBV-nya di 5,08x atau setara dengan Rp 4.300/lembar. Dengan begitu potensi cuannya mencapai 60,5%.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pembiayaan Naik, Laba BTPN Syariah Q3 Meroket 117% ke Rp1,1 T


(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading