Ada 3 Kabar Buruk dari Barat, Rupiah Jeblok ke Rp 14.320/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
29 September 2021 09:36
Dollar-Rupiah (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Treasury atau obligasi Amerika Serikat (AS) benar-benar memberikan masalah bagi rupiah dalam dua hari terakhir. Kenaikan imbal hasil (yield) Treasury membuat rupiah terus tertekan melawan dolar AS. Kemarin, rupiah tanpa perlawanan, dan masih sama pada perdagangan Rabu (29/9).

Selain Treasury, ada dua kabar buruk lainnya, yang membuat rupiah kembali menembus ke atas Rep 14.300/US$.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah 0,14% ke Rp 14.290/US$. Depresiasi semakin membengkak menjadi 0,28% ke Rp 14.320/US$ pada pukul 10:14 WIB. Level tersebut merupakan yang terlemah sejak 31 Agustus.


Yield Treasury AS tenor 10 tahun kemarin kembali menanjak 5,55 basis poin ke 1.5461%. Dalam 4 hari terakhir total 18,57 basis dan saat ini berada di level tertinggi sejak 17 Juni lalu. Kenaikan yield Treasury menjadi indikasi pasar melihat bank sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga.

Selain itu, kenaikan yield Treasury juga membuat bursa saham global rontok. Bursa saham AS (Wall Street) ambrol. Indeks Dow Jones merosot 1,6% ke 34.299,99, S&P 500 ambrol 2% ke 4.352,63, dan Nasdaq yang paling parah, jeblok hingga 2,8% ke 14.546,68. Nasdaq mencatat kinerja harian terburuk sejak Maret lalu.

Hal yang sama terjadi pada bursa saham Eropa kemarin, mayoritas jeblok lebih dari 2%. Kemerosotan merembet ke bursa Asia. Indeks Nikkei Jepang jeblok lebih dari 2% dan memimpin kemerosotan bursa saham utama Asia.

Selain kenaikan yield Treasury, masalah politik klasik di AS, batas utang, menjadi kabar buruk kedua yang membebani sentimen pelaku pasar. Amerika Serikat masih terancam mengalami shutdown. Kongres AS harus menyetujui Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) pada Jumat mendatang untuk menghindari shutdown.

Selain itu, Menteri Keuangan Janet Yellen juga mengatakan Kongres AS harus menyetujui kenaikan batas utang pada 18 Oktober agar Amerika Serikat terhindar dari gagal bayar (default).

Sejauh ini, Partai Republik masih menolak untuk menaikkan batas utang.

"Apa yang terjadi Washington sama sekali tidak membantu sentimen, kita memiliki banyak ketidakpastian, dari kebijakan pajak, dan tentu saja batas utang," kata Jeff Buchbinder, ahli strategi di LPL Financial.

Kabar buruk ketiga datang dari Eropa, krisis energi diprediksi akan semakin memburuk dan berdampak secara global.

Krisis tersebut dimulai akibat meroketnya harga gas alam. Reuters melaporkan sepanjang tahun ini harga gas alam di Eropa sudah meroket hingga 280%, sementara di Amerika Serikat (AS) lebih dari 130%.

Reuters yang mengutip para analis mengatakan pukulan terhadap perekonomian memang tidak terelakkan, tetapi saat ini masih terlalu dini untuk memangkas proyeksi produk domestik bruto (PDB).

Meski demikian, kenaikan harga energi tersebut meningkatkan risiko stagflasi, atau kondisi dimana inflasi tinggi dengan pertumbuhan ekonomi rendah.

"Cukup jelas ada rasa tidak nyaman yang berkembang mengenai prospek perekonomian, karena semakin banyak dunia usaha yang melihat prospek kenaikan biaya" kata Michale Hewson, kepala analis pasar di CMC Market.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rupiah Terpuruk Saat Dolar AS Lesu, kok Bisa?


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading