Jangan Kelewat! 10 Saham Ini Teramai Trading di Bursa Sepekan

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
27 September 2021 07:55
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang pekan lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis sebesar 0,19%. Pada perdagangan Jumat (24/9/2021) indeks ditutup menguat sebesar 0,03% ke level 6.144,815.

Dalam perdagangan pekan lalu, terdapat 10 saham yang paling aktif ditransaksikan oleh investor dari sisi nilai, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebanyak tiga dari 10 saham tersebut merupakan saham perbankan, yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Jago Tbk (ARTO, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Berikut 10 saham paling aktif ditransaksikan berdasarkan nilai perdagangan pada pekan 20-24 September 2021:


1. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI); sepekan +5,82%; Rp 3.820; beli sepekan asing Rp 1,93 triliun;
2. PT Bank Jago Tbk (ARTO); sepekan +0,63%; Rp 15.950; beli sepekan asing Rp 62,67 miliar;
3. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA); sepekan +1%; Rp 32.925; beli sepekan asing Rp 609,53 miliar;
4. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM); sepekan +0,85%; Rp 3.560; beli sepekan asing Rp 392,29 miliar;
5. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM); sepekan -4,58%; Rp 2.290; jual sepekan asing Rp 85,96 miliar;
6. PT Adaro Energy Tbk (ADRO); sepekan +12,36%; Rp 1.500; beli sepekan asing Rp 51,12 miliar;
7. PT Bukalapak.com Tbk (BUKA); sepekan +2,91%; Rp 885; beli sepekan asing Rp 362,70 miliar;
8. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG); sepekan +0,33%; Rp 3.000; beli sepekan asing Rp 57,28 miliar;
9. PT Surya Permata Andalan Tbk (NATO); sepekan -0,84%; Rp 590; jual sepekan asing Rp 9,87 miliar;
10. PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO); sepekan +7,53%; Rp 2.570; beli sepekan asing Rp 685,98 miliar.

BRI memang baru saja menyelesaikan proses penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue pada 22 September 2021 lalu.

Data BEI menunjukkan, pada Jumat, saham BBRI ditutup naik 1,33% sehingga sepekan melesat 5,8%. Pada perdagangan Jumat lalu, saham BBRI ditransaksikan menembus Rp 2,42 triliun, dengan volume perdagangan 634,55 juta saham.

Nilai transaksi saham BBRI rekor tertinggi dalam sehari, setelah itu disusul PT Bank Jago Tbk (ARTO) Rp 500 miliar dalam sehari.

Data mencatat, nilai transaksi rights issue ini mencapai Rp 96 triliun sekaligus menjadikan ini sebagai rights issue terbesar di Asean dan dalam sejarah Indonesia.

Dalam riset CGS CIMB dinyatakan bahwa bila rights issue BBRI terserap seluruhnya maka rasio dividen yang dibayarkan atau dividend payout ratio (DPR) BBRI akan mencapai 100%.

Dengan skenario tersebut maka dividend yield dari BBRI untuk tahun 2021-2023 bakal mencapai 6%-10%. Perhitungan imbal hasil dividen ini menggunakan harga penutupan, Rabu (23/9/2021) di Rp 3.610/saham.

Dampak lain yang ditimbulkan adalah peningkatan total modal untuk 3 tahun ke depan dengan laju masing-masing 8%,6%,3%.

Rasio profitabilitas juga akan terkerek naik. Return on Asset (RoA) BBRI diperkirakan bakal kembali ke level tertinggi 3% sementara Return on Equity (RoE) bisa menyentuh 19% pada 2024.

Adanya konsolidasi dan penambahan modal lewat skema right issue ini akan berdampak pada peningkatan penyaluran kredit per tahun secara compounding (CAGR) sebesar 13,5% sampai dengan 5 tahun ke depan.

Sementara itu, pemegang saham BCA pada pekan lalu menyetujui aksi korporasi pemecahan saham yang beredar (stock split). Aksi korporasi tersebut telah mendapat persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diadakan, Kamis (23/9/2021).

RUPSLB tersebut memberikan persetujuan atas aksi korporasi stock split dengan rasio 1: 5 (1 saham yang ada saat ini dipecah menjadi 5 saham baru). Nilai nominal per saham BBCA saat ini adalah Rp 62,5, sedangkan nilai nominal per saham BBCA setelah stock split akan menjadi sebesar Rp 12,5/saham.

Sebagai informasi, harga saham BBCA pada saat siaran pers ini dikeluarkan berkisar Rp32.000 per saham.

"Kami melihat bahwa investor ritel termasuk investor muda di pasar modal Indonesia memiliki ketertarikan yang kuat untuk berinvestasi saham BBCA. Dengan adanya aksi korporasi ini diharapkan harga saham BCA dapat lebih terjangkau oleh investor retail. Aksi korporasi pemecahan saham tersebut dilandasi juga oleh komitmen BCA dalam mendukung perkembangan pasar modal Indonesia," kata Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, dalam siaran persnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Duh IHSG Merah! Asing Curi Kesempatan Borong 5 Saham Ini


(tas/tas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading