Asing Borong Saham Rp 3 T, IHSG Pekan Ini Happy Ending?

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
25 September 2021 14:30
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan ini kembali mencatatkan penguatan, meskipun penguatannya cenderung lebih rendah dari pekan lalu.

Indeks bursa saham acuan nasional tersebut menguat 0,19% secara point-to-point pada pekan ini. Dalam periode harian, IHSG hanya terkoreksi pada awal perdagangan pekan ini, yakni pada Senin (20/9/2021) dan Selasa (21/9/2021). Pada perdagangan Jumat (24/9/2021) kemarin, IHSG ditutup naik tipis 0,03% ke level 6.144,82.

Selama sepekan, nilai transaksi IHSG mencapai Rp 64,2 triliun. Investor asing juga tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) dalam jumlah yang cukup besar, yakni mencapai Rp 2,75 triliun di pasar reguler. Namun di pasar tunai dan negosiasi, asing tercatat menjual bersih sebesar Rp 352 miliar.


Pada pekan ini, investor lebih berfokus terkait krisis likuiditas dari perusahaan properti terbesar kedua di China, yakni China Evergrande Group.

Krisis likuiditas Evergrande telah membuat investor kembali khawatir pada pekan ini, di mana kekhawatiran tersebut sempat berdampak ke pasar aset berisiko seperti saham dan kripto.

Bursa saham global, termasuk IHSG pun sempat berjatuhan pada awal pekan ini, karena investor menilai bahwa krisis keuangan Evergrande dapat berdampak luas ke perekonomian China, bahkan mungkin global.

Namun pada Rabu (22/9/2021) lalu, kekhawatiran investor sebenarnya sudah mulai mereda, setelah manajemen Evergrande berniat untuk menyelesaikan pembayaran bunga obligasi lokalnya pada Kamis (23/9/2021).

Selain itu, kabar positif juga sempat hadir, di mana pemerintah China telah memberikan bantuan dana hingga ratusan triliun rupiah ke sistem keuangan China. Hal ini dilakukan untuk menekan kekhawatiran pelaku pasar terhadap krisis Evergrande.

Pemerintah China melalui bank sentral China mengaku telah menyuntikkan dana sebesar 120 miliar yuan (US$ 18,6 miliar) atau Rp 264 trilun lebih ke sistem perbankan lewat reverse repurchase agreements. Secara net, suntikan yang diberikan PBoC mencapai 90 miliar yuan.

Alhasil, bursa Asia yang sebelumnya sempat berjatuhan mulai kembali stabil pada perdagangan Rabu lalu, meskipun untuk indeks Nikkei saat itu masih terkoreksi.

Tetapi, setelah investor mulai optimis masalah Evergrande dapat terselesaikan, ada permasalahan dari Evergrande yang belum terselesaikan hingga kini, di mana bunga obligasi dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS) masih belum dibayarkan oleh Evergrande.

Sementara itu, pemerintah China menyatakan kepada pejabat lokal di negara tersebut untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk dari permasalahan Evergrande saat ini, seperti yang dilaporkan oleh media asal AS, Wall Street Journal.

Hal ini terjadi karena masih belum ada kepastian seputar kemampuan perseroan membayar kewajibannya dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS).

Pemerintahan Xi Jinping juga mengatakan bahwa pejabat lokal hanya boleh turun tangan disaat menit-menit terakhir untuk mencegah efek domino kasus tersebut.

Laporan WSJ menunjukkan kemungkinan pemerintah pusat masih memiliki keinginan untuk menyelamatkan Evergrande, terlepas dari implikasi globalnya.

Akibatnya mayoritas bursa Asia kembali melemah, di mana indeks Hang Seng dan Shanghai menjadi yang paling terdampak dari reaksi pasar Asia pada perdagangan Jumat kemarin.

Selain berfokus pada masalah Evergrande, investor juga merespons positif dari sikap bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level mendekati nol (0-0,25%).

Meskipun The Fed masih terkesan dovish, namun program pengurangan obligasi atau tapering oleh The Fed sepertinya akan berlanjut, di mana The Fed akan memulai tapering pada November mendatang.

Di lain sisi, proyeksi ekonomi AS yang disebut dot plot menunjukkan sembilan dari 18 anggota FOMC mengharapkan kenaikan suku bunga pada tahun 2022. Angka tersebut naik dari tujuh anggota dalam proyeksi The Fed pada bulan Juni lalu.

Hal ini terjadi setelah ketua The Fed, Jerome Powell mengatakan dalam pidatonya bahwa "kemajuan lebih lanjut yang substansial" dari inflasi dan lapangan kerja mulai mulai mendekati target.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading