Analisis Teknikal

Ada Kabar Baik & Buruk dari The Fed, IHSG Pilih yang Mana?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
23 September 2021 08:25
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,78% pada perdagangan Rabu kemarin ke 6.108,265. Investor asing juga melakukan aksi beli bersih senilai Rp 462 miliar.

Pada perdagangan hari ini, Kamis (23/9) IHSG berisiko berfluktuasi lagi merespon pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed).

Kemarin, bursa saham China yang menguat menunjukkan kecemasan akan risiko gagal bayar raksasa properti Evergrande Group mulai mereda.


Bursa China pada perdagangan Senin dan Selasa libur saat sebagian bursa saham Asia, bursa Eropa dan AS (Wall Street) rontok akibat kasus Evergrande. Sehingga pasar saham China menjadi perhatian kemarin, dan ternyata malah menguat yang memberikan sentimen positif ke bursa lainnya.

Sementara momen yang ditunggu-tunggu pekan ini, pengumuman kebijakan moneter The Fed dini hari tadi membuat Wall Street menguat, yang bisa memberikan sentimen positif ke pasar Asia hari ini termasuk IHSG. Penguatan Wall Street terjadi setelah The Fed menunjukkan tidak terburu- buru dalam melakukan tapering.

Hingga saat ini, pengumuman The Fed masih sesuai dengan pasar yang memproyeksikan pengumuman tapering di bulan November, dan pertama kali dilakukan pada bulan Desember. Hal tersebut tentunya menjadi kabar baik.

Tetapi kabar buruknya, mayoritas anggota The Fed kini melihat suku bunga bisa naik tahun depan, lebih cepat dari sebelumnya di tahun 2023. Hal tersebut bisa memberikan sentimen negatif, terutama jika rupiah mengalami tekanan hebat, sehingga IHSG berisiko berfluktuasi.

Secara teknikal, IHSG kini kembali ke atas rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA 50). Artinya, IHSG kini kembali ke atas MA 50, 100, dan 200.

Meski demikian, outlook-nya IHSG masih sideways. Jika dilihat sejak awal Juni, IHSG membentuk pola Rectangle, dengan batas atas di kisaran 6.140 dan batas bawah di kisaran 5.940.

idrGrafik: IHSG Harian
Foto: Refinitiv

Pola Rectangle juga menjadi indikasi pergerakan sideways. Diperlukan penembusan konsisten di batas atas untuk memicu penguatan lebih lanjut. Pada 5 Agustus lalu, IHSG sempat menembus batas atas tersebut, tetapi hanya bertahan 2 hari saja. Artinya, mengalami false breakout.

Di awal pekan IHSG sempat mendekati batas atas pola Rectangle, kemudian jeblok. Artinya, 6.140 memang menjadi resisten yang kuat dan jika mampu ditembus IHSG berpeluang menguat ke 6.170 hingga 6.180.

Sementara itu, support berada di kisaran 6.100 hingga 6.080 yang berada di kisaran MA 50 dan 200. Jika ditembus IHSG berisiko melemah ke 6.030.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading