Harga Logam Melambung: Pedagang Untung, Manufaktur Buntung

Market - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
22 September 2021 15:04
A worker looks at a molten ferroalloy ladle at Eurasian Resources Group's (ERG) Aksu Ferroalloys Plant in the town of Aksu, north-eastern Kazakhstan, February 19, 2018. REUTERS/Shamil Zhumatov     SEARCH

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2021 adalah tahunnya komoditas logam karena harganya yang meroket. Suatu keniscayaan para pedagang komoditas logam meraup cuan lebar dari kenaikan harga logam. Namun apakah hal tersebut juga berlaku bagi pelaku industri yang produknya berbahan baku logam?

Harga logam dunia rata-rata naik di atas 20% sepanjang Januari-Agustus 2021. Aluminium menjadi jawara dengan kenaikan 141,04%. Kemudian disusul timah dengan kenaikan 66,41%.

Berikut daftar logam dan pertumbuhannya sepanjang Januari-Agustus 2021.


  1. Aluminium 141,04%
  2. Timah 66,41%
  3. Kobalt 51,88%
  4. Tembaga 22,35%
  5. Nikel 17,60%
  6. Seng 16,55%

Sumber: London Metal Exchange

Logam menjadi bahan baku dalam industri manufaktur. Hasil produknya biasa digunakan dalam kebutuhan sehari-hari. Seperti tembaga yang digunakan untuk membuat kabel, aluminium untuk alat masak di dapur. Serta banyak lagi kegunaan logam untuk barang sehari-hari.

Naiknya harga logam tidak serta merta menyenangkan bagi semua pihak. Bagi manufaktur harga logam yang meningkat membuat dirinya terjepit. Satu sisi bahan baku meningkat, di sisi lain permintaan melemah.

China sebagai negara pengimpor besar logam dunia merasakan dampaknya. Tingginya biaya bahan baku menekan aktivitas manufaktur China.

"Biaya input (bahan baku) naik selama 15 bulan berturut-turut dan semakin cepat pada Agustus setelah melambat selama dua bulan berturut-turut. Biaya transportasi naik dan harga bahan baku tetap tinggi," kata Dr. Wang Zhe, Ekonom Senior Caixin Insight Group, dilansir laporan Caixin.

Biaya output tinggi tercermin pada Indeks Harga Produsen (Producers Price Index/PPI) uang mencapai 9,5% pada bulan Agustus 2021. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam 13 tahun. Harga logam sebagai bahan baku jadi penyebabnya.

PPISumber: Refinitiv

Nasib apes manufaktur negeri panda ini pun makin lengkap setelah permintaan produk atau output menurun dibayangi daya beli yang lesu karena COVID-19 (Coronavirus Disease 2019).

"Beberapa produsen yang disurvei mengatakan permintaan lamban karena pandemi dan kemampuan mereka untuk membebankan kenaikan biaya kepada konsumen terbatas," kata kata Dr. Wang Zhe.

Pelemahan output manufaktur Indonesia terlihat dari pertumbuhan pada bulan Agustus yang melambat. Output industry China bertumbuh 5,3%, melambat dari pertumbuhan bulan Juli 2021 sebesar 6,4%.

Output ProduksiSumber: Refinitiv

Output produksi China pada bulan Agustus 2021 merupakan yang terendah sepanjang tahun 2021. Terjun bebas dari tumbuh 35% pada Februari 2021.

COVID-19 (Coronavirus Disease 2019) di China, tidak hanya menyerang kesehatan tapi juga daya beli masyarakat. Hal ini yang kemudian menyebabkan permintaan melemah dan bermuara pada output produksi yang terjun.

Kombinasi antara biaya input yang tinggi dan permintaan yang lemah melahirkan aktivitas ekonomi China yang lesu.

PMI (Purchase Manufacturing Index) Manufaktur China pada bulan Agustus 2021 jatuh ke level 49,20 yang merupakan zona kontraksi. Level tersebut jadi terendah sejak Februari 2020.

PMI Manufaktur adalah indikator yang digunakan untuk mengukur kegiatan manufaktur suatu negara. Level >50 adalah zona ekspansi yang berarti aktivitas ekonomi negara sehat. Sedangkan level

China bukannya tanpa langkah untuk mengatasi masalah ini. Pada bulan Juli 2021, China telah melepaskan total 50.000 mt tembaga, 140.000 mt aluminium, dan 80.000 mt seng dari cadangan nasional mereka ke pasar. Tujuannya adalah meningkatkan persediaan di pasar sehingga dapat mendinginkan harga.

Selain itu, China juga mengetatkan produksi baja untuk mengurangi permintaan besi. Harapannya ketika permintaan turun, maka harga pun menjadi lebih terkendali sehingga biaya input produksi baja tidak tinggi.

"Pemotongan produksi adalah tema utama untuk seluruh industri baja untuk sisa tahun ini (2021). Bukan hanya karena tujuan lingkungan tetapi juga keberlanjutan bagi perusahaan untuk memproduksi begitu banyak baja ketika biayanya sangat tinggi," kata orang dalam industri baja kepada Global Times.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tembaga "Si Minyak Baru"


(ras/ras)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading