Kacau! Harga Kripto Ambruk, Solana-Polkadot Paling Parah

Market - chd, CNBC Indonesia
22 September 2021 09:50
Ilustrasi Bitcoin (Photo by Executium on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mata uang kripto (cryptocurrency) berkapitalisasi pasar terbesar masih mengalami pelemahan pada perdagangan Rabu (22/9/2021) pagi waktu Indonesia, di mana investor masih khawatir dengan sentimen dari krisis likuiditas Evergrande, raksasa properti China yang terancam gagal bayar, meskipun kekhawatiran investor cenderung mereda.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 09:00 WIB, kedelapan kripto berkapitalisasi terbesar non-stablecoin kembali berjatuhan pada hari ini.

Bitcoin terkoreksi 1,33% ke level harga US$ 42.188,05/koin atau setara dengan Rp 600.335.952/koin (asumsi kurs hari ini Rp 14.230/US$), ethereum merosot 3,82% ke level US$ 2.865,46/koin atau Rp 40.775.496/koin, cardano melemah 2,42% ke US$ 2,06/koin (Rp 29.314/koin), binance coin terpangkas 2,25% ke US$ 354,83/koin (Rp 5.049.231/koin).


Selanjutnya ripple drop 3,21% ke US$ 0,9024/koin atau Rp 12.841/koin, solana ambruk 6% ke US$ 130,39/koin (Rp 1.855.450/koin), dogecoin tergelincir 1,1% ke US$ 0,2075/koin (Rp 2.953/koin), dan polkadot ambles 4,75% ke US$ 27,64/koin (Rp 393.317/koin).

Kripto

Bitcoin dan kripto big cap lainnya kembali diperdagangkan di zona merah pada pagi hari ini, melanjutkan pelemahan dua hari beruntun sebelumnya. Namun, bitcoin cenderung stabil tepat di atas level support US$ 40.000 dan analis memperkirakan rebound akan terjadi jelang akhir pekan ini.

"Sebelum flash crash pada awal bulan ini, tingkat pendanaan bitcoin cukup tinggi, yang cenderung menyiratkan masuknya keinginan untuk naik, namun kali ini, pasar tidak diposisikan secara agresif, melainkan ke arah hasil yang sedikit lebih cerah" kata Delphi Digital, perusahaan riset kripto, menulis dalam sebuah laporan risetnya, dikutip dari CoinDesk.

Tingkat pendanaan adalah biaya untuk mendanai posisi long di pasar untuk pertukaran bitcoin perpetual, atau sejenis derivatif di pasar cryptocurrency yang mirip dengan kontrak berjangka (futures) di pasar saham.

Dari teknikalnya, saat ini pola grafik teknikal bitcoin menunjukkan adanya garis resistance overhead yang kuat di atas US$ 45.000, yang dapat membatasi pembelian jangka pendek.

Volatilitas juga dapat tetap meningkat pada pekan ini, dengan berakhirnya pertemuan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) pada Kamis (23/9/2021) dini hari waktu Indonesia dan jatuh tempo opsi bitcoin per akhir kuartal ketiga yang berakhir pada Jumat (24/9/2021) mendatang.

Namun dalam jangka panjang, sebenarnya tren bitcoin masih terpantau naik.

"Tren jangka panjang bitcoin masih membentuk kenaikan, dengan indikator bulanan kami menunjuk lebih tinggi dan menempatkan volatilitas jangka pendek ke dalam konteks bullish," kata Katie Stockton, direktur pelaksana Fairlead Strategies, dilansir dari CoinDesk.

Terlepas dari aksi jual investor di pasar saham baru-baru ini, bitcoin terus mengungguli saham dan emas hingga saat ini.

Namun, korelasi bitcoin dengan indeks saham S&P 500 telah meningkat selama beberapa bulan terakhir, membuat cryptocurrency rentan terhadap perubahan umum dalam selera investor terhadap risiko.

"Sejujurnya, kekalahan pasar risiko yang kami lihat mencerminkan serangkaian risiko yang lebih luas daripada hanya karena krisis likuiditas perusahaan properti terbesar kedua di China, dan muncul setelah meningkatnya pertanyaan tentang apakah penilaian saat ini masih dapat dibenarkan, dengan pembicaraan tentang potensi koreksi yang meningkat," kata Jim Reid, ahli strategi di Deutsche Bank, dilansir dari CoinDesk.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading