Optimisme ke Perekonomian Hanya 13%, Saatnya Main Aman?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
15 September 2021 18:00
Suasana gedung bertingkat di Jakarta, Senin (5/2/2018). Tahun ini, bank Indonesia memperkirakan ekonomi akan tumbuh lebih baik dibandingkan dari tahun lalu di kisaran 5,1 hingga 5,5 persen seiring membaiknya perekonomian global. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kejadian langka terjadi terjadi dari survei yang dilakukan Bank of America (BofA) terhadap para manajer investasi. Hanya sepersepuluh dari para manajer investasi yang disurvei optimistis menatap perekonomian, tetapi di sisi lain nasabah dari BofA justru bullish terhadap pasar saham.

"Sesuatu yang langka, fundamental dan harga aset tidak terkoneksi," kata Michael Hartnett ahli strategi BofA dalam catatan kepada nasabah, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (14/9).

Hasil survei BofA menunjukkan ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi saat ini berada di level 13% saja, terendah sejak April 2020 atau sebelum setelah virus corona dinyatakan sebagai pandemi. Ekspektasi tersebut tentunya mengkhawatirkan, apalagi jika dilihat dari puncak tertinggi 91% yang dicapai pada Maret tahun ini. Penurunannya sangat tajam.


Penyebaran virus corona varian delta, menjadi alasan utama dibalik kemerosotan ekspektasi tersebut. Maklum saja, negara-negara dengan tingkat vaksinasi tinggi saat ini juga mengalami lonjakan corona varian delta.

Tetapi saat para manajer investasi pesimistis terhadap perekonomian, pasar saham justru sangat bullish. Terlihat dari bursa saham Amerika Serikat (AS) berkali-kali mencatat rekor tertingi sepanjang masa. Indeks S&P 500 sepanjang tahun ini menguat lebih dari 18%, Dow Jones nyaris 13% dan Nasdaq lebih dari 16%.

BofA dengan asset under management US$ 840 miliar, hampir setengah nasabahnya mengatakan menghilangkan proteksi pasar saham untuk tiga bulan ke depan.

Proteksi pasar saham didesain untuk melindungi portolio dari kemerosotan tajam nilai aset, tetapi kini malah berada di level terendah sejak Januari 2008.

Salah satu pemicu bullish-nya pelaku pasar yakni kondisi likuiditas saat ini yang dikatakan terbak sejak sebelum krisis finansial melanda di Juli 2007.

Meski demikian, perbedaan fundamental dan nilai aset tersebut tentunya bisa memicu kemerosotan di pasar saham sewaktu-waktu, jika perekonomian global pada akhirnya benar-benar mengalami pelambatan. Sehingga akan lebih baik mendiversifikasi investasi, tidak hanya di aset berisiko dengan imbal hasil tinggi, tetapi juga di aset aman (safe haven).

Untuk aset aman, emas di bisa menjadi bahan pertimbangan, sebab di September dikatakan menjadi bulan yang bagus bagi emas.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Emas Bakalan Cuan, Tingkat Keyakinan 90%

Emas Bakalan Cuan, Tingkat Keyakinan 90%
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading