Ini Dia 5 Saham Big Cap LQ45 Pencetak Cuan Gede

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
13 September 2021 08:10
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan LQ45, 5 saham big cap (dengan nilai kapitalisasi besar) penghuni indeks LQ45 tercatat berhasil melesat sepanjang pekan lalu.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang periode 6-10 September 2021, IHSG turun 0,52% ke posisi 6.094,87. Data rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) selama sepekan meningkat sebesar 0,82% menjadi Rp11,097 triliun dari Rp11,007 triliun pada pekan sebelumnya.

Selama sepekan, investor asing melakukan beli bersih (net buy) Rp 1 triliun di pasar reguler dan beli bersih Rp 46,61 miliar di pasar negosiasi dan pasar tunai.


Sementara, indeks LQ45 merosot 0,50% dalam sepekan ke posisi 870,202.

Berikut 5 besar saham LQ45 dengan kenaikan tertinggi dalam sepekan.

  1. Aneka Tambang (ANTM), saham +10,21%, ke Rp 2.590/saham

  2. PP (PTPP), +8,15%, ke Rp 995/saham

  3. Wijaya Karya (WIKA), +7,37%, ke Rp 1.020/saham

  4. Japfa Comfeed Indonesia (JPFA), +6,78%, ke Rp 1.890/saham

  5. Ciputra Development (CTRA), +6,56%, ke Rp 975/saham

Menurut data di atas, saham emiten emas-nikel BUMN ANTM menjadi yang paling menguat selama sepekan, di tengah lonjakan harga nikel yang mencapai rekor tertinggi sejak 2014.

Saham ANTM melesat 10,21% dalam sepekan ke posisi Rp 2.590/saham. Asing mencatatkan net buy Rp 230,09 miliar di pasar reguler.

Selama seminggu, harga nikel dunia terapresiasi 4,01% ke posisi US$ 20.410/ton, usai mencetak reli kenaikan 3 hari beruntun. Dengan ini, harga nikel dunia pada per perdagangan Jumat pekan lalu sudah melampaui US$ 20.000/ton. Terakhir harga nikel mencapai level tersebut adalah pada 2014.

Cadangan nikel saat ini terus menipis. Per 9 September 2021, cadangan nikel di gudang LME (London Metal Exchange) tercatat 181.368 ton. Turun 23% dibandingkan cadangan 9 September 2020. Secara rata-rata cadangan nikel pada September 2021 turun 24.86% point-to-point dibandingkan cadangan awal tahun ini.

Saat persediaan menipis, permintaan nikel untuk baterai mobil listrik malah melonjak. Penjualan mobil listrik dunia pada semester-I 2021 meroket 160% year-on-year (yoy).

Penjualan mobil listrik yang meroket menular ke permintaan baterai mobil listrik. Berdasarkan EV Metal Index, nilai logam baterai mobil listrik pada Juni 2021 naik 237% yoy. Dibandingkan bulan sebelumnya, nilai logam baterai mobil listrik naik 36%.

Artinya produksi logam baterai mobil listrik pada semester-I 2021 meningkat pesat dibandingkan 2020. Sebagai informasi, EV Metal Index adalah indeks yang mengukur nilai logam yang digunakan untuk membuat baterai mobil listrik di seluruh dunia.

Nah, nikel adalah salah satu unsur logam yang terdapat pada pembuatan baterai mobil listrik. Jadi, produksi baterai mobil listrik akan meningkatkan konsumsi alias permintaan nikel dunia dan tentunya berdampak positif bagi laju harga nikel.

Kemudian, di posisi kedua dan ketiga ada dua saham BUMN Karya, PTPP dan WIKA.

Saham PP, bersama saham konstruksi lainnya, berhasil melejit 8,15% ke Rp 995/saham dalam sepekan. Kendati menguat, asing malah mencatatkan jual bersih (net sell) Rp 6,22 miliar di pasar reguler.

Kabar terbaru, PTPP merevisi target kontrak baru tahun ini menjadi 85% dari target kontrak semula yang senilai Rp 30,1 triliun. Hingga akhir Agustus 2021 lalu nilai kontrak baru yang dicapai baru sebesar Rp 10,5 triliun.

Direktur Utama PTPP Novel Arsyad mengatakan revisi ini masih perlu dilakukan review oleh perusahaan dan akan disampaikan secara resmi setelah melihat hasil capaian perusahaan hingga kuartal ketiga tahun ini.

"Kami asumsikan kalau ada beberapa refocusing proyeksi kami 85% dari target awal," kata Novel dalam dalam public expose live virtual, Kamis (9/9/2021).

Sementara, saham WIKA terkerek 7,37% ke Rp 1.020/saham dalam sepekan lalu. Seperti saham PTPP, asing juga melego saham WIKA dengan catatan net sell Rp 3,37 miliar dalam sepekan.

Mengenai kabar terbaru, Investor Relation Wijaya Karya, Purba Yudha Tama mengatakan perusahaan akan merevisi target perolehan kontrak di 2021, melihat situasi pandemi yang cukup menghambat kinerja perusahaan.

"Akan review target 2021 karena situasi pandemi cukup menantang juga menghambat kinerja operasional kita. Juni Juli ini keadaan pandemi cukup memburuk yang tidak kita ekspektasi. Makanya akan segera kita review dan kita rilis segera angkanya. Tapi pertumbuhan masih di area positif," jelasnya dalam Publik Expose Live 2021, Rabu (8/9/2021).

Yudha mengatakan perolehan kontrak baru paling banyak dari swasta sekitar 47%, tapi porsi dari BUMN lain juga diperkirakan membesar menjadi 34% dari hanya 19% di semester I ini. Begitu juga kontrak luar negeri meningkat menjadi 6,5% dari proyek yang diincar di Filipina.

Sentimen positif terbaru untuk sektor konstruksi adalah persepsi bahwa sektor ini akan pulih dan proyek-proyek akan digencarkan lagi. Apalagi BPJS Ketenagakerjaan atau biasa disebut BP JAMSOSTEK kembali menyelenggarakan program vaksinasi untuk para pekerja Indonesia, termasuk jasa konstruksi.

Penyelenggaraan yang ke 17 kali ini dilaksanakan di daerah Pancoran Jakarta Selatan dan menyasar pekerja pada proyek jasa konstruksi (3/9).

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading