Mayoritas Bursa Asia Dibuka Menguat, Shanghai kok Melemah?

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
10 September 2021 08:45
People look at an electronic board showing stock information at a brokerage house in Shanghai, China July 6, 2018. REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia dibuka di zona hijau pada perdagangan Jumat (10/9/2021), di tengah sikap investor yang memantau pasar saham Hong Kong dan saham-saham teknologi China setelah pemerintah China kembali memperketat regulasi terhadap perusahaan game dan pendidikan.

Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,3%, Hang Seng Hong Kong dibuka melesat 0,86%, Straits Times Singapura naik 0,2%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,33%.

Sementara untuk indeks Shanghai Composite China dibuka turun 0,11% pada pagi hari ini.


Kekhawatiran pasar akan diperketatnya regulasi untuk perusahaan video game dan pendidikan dapat kembali membebani saham teknologi China di Hong Kong pada hari ini.

South China Morning Post melaporkan bahwa pemerintah China akan menangguhkan persetujuan untuk game online baru di negara itu, dan hal ini membuat harga saham game ditutup terjatuh pada perdagangan kemarin.

Namun setelah pasar ditutup, pihak media tersebut mengoreksi laporan itu dengan mengatakan bahwa regulator akan memperlambat proses persetujuan.

Di lain sisi dari Eropa, bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) menyatakan akan memperlambat laju pembelian obligasi bulanannya, yang selama ini ditujukan membantu pelaku usaha mengakses likuiditas melimpah untuk ekspansi di sektor riil.

"Berdasarkan penilaian bersama terhadap kondisi keuangan dan outlook inflasi, Dewan Pengurus memutuskan bahwa kondisi keuangan yang kondusif bisa dijaga dengan laju pembelian aset di bawah skema PEPP [Pandemic Emergency Purchase Programme] secara lebih lambat ketimbang dua kuartal sebelumnya," tulis ECB dalam pernyataan resmi mereka.

Pernyataan ECB tersebut terjadi di tengah munculnya spekulasi di pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) berpeluang menarik perkataannya tentang rencana pengurangan pembelian obligasi (tapering) di penghujung tahun 2021.

Data tenaga kerja yang memburuk dinilai bakal memaksa The Fed memikirkan ulang rencana tapering sehingga bisa jadi diundur menjadi tahun depan.

Sementara itu, bursa Asia pada hari ini cenderung berbanding terbalik dengan pergerakan bursa saham AS (Wall Street) pada perdagangan Kamis kemarin yang ditutup melemah, setelah rilis data klaim tunjangan pengangguran mingguan per pekan lalu.

Tiga indeks utama di Wall Street ditutup melemah, Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melemah 0,43% ke level 34.879,38, S&P 500 terkoreksi 0,46% ke 4.493,28, dan Nasdaq Composite terpangkas 0,25% ke posisi 15.248,25.

Klaim tunjangan pengangguran mingguan per pekan lalu dilaporkan hanya sebesar 310.000, atau lebih baik dari polling Dow Jones yang mengekspektasikan angka 335.000 orang. Capaian itu melanjutkan perbaikan yang dicetak pekan sebelumnya sebanyak 340.000 klaim.

The Fed akan menggelar rapat pada 21-22 September, yang memicu investor berspekulasi akan ada pengumuman mengenai langkah pengurangan pembelian surat utang di pasar, yang selama ini dijalankan dengan nilai US$ 120 miliar per bulan.

Dalam "Beige Book", laporan hasil survei aktivitas bisnis di AS, The Fed menyatakan pelaku bisnis tengah menghadapi kenaikan inflasi yang kian intensif akibat keterbatasan pasokan barang dan akan memicu kenaikan harga di tingkat konsumen pada area tertentu.

The Fed juga melaporkan bahwa pertumbuhan secara umum telah "sedikit tertekan ke level moderat" di tengah kekhawatiran mengenai penyebaran virus Covid-19 varian delta selama Juli- Agustus.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading