Bos BNI Ungkap Alasan 'Suntikan' PMN Rp 7 T di Tahun Depan

Market - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
09 September 2021 11:56
Royke Tumilaar

Jakarta, CNBC IndonesiaPT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) akan menerima penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp 7 triliun di tahun 2022.

Dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (9/9/2021), Direktur Utama BBNI Royke Tumilaar menjelaskan latar belakang di balik urgensi penguatan modal perseroan.

Menurut dia, apabila dilihat dari rasio kecukupan modal (CAR, capital adequacy ratio), BNI lebih rendah dibandingkan pesaing atau peers, yaitu 18,8%.

Sementara bank-bank BUKU IV (bank umum kelompok usaha dengan modal inti di atas Rp 30 triliun) lainnya berada di atas 18, yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 18,94%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 19,63%, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 25,33%.

Namun, kalau dilihat dari sisi modal inti, BNI berada jauh di bawah peers, yakni 15,99%. Sementara Mandiri 17,86%, BRI 18,62%, dan BCA 24,35%.

"Nah ini adalah terjadi latar belakang kami membutuhkan tambahan modal," kata Royke.




Menurut dia, PMN juga diperlukan sebagai langkah mengantisipasi menghadapi risiko perekonomian dan kondisi makro. Terdapat empat aspek dalam hal ini, yaitu ketidakpastian global, pandemi Covid-19, digitalisasi, dan kebijakan makro.

"Memang dengan tier 1 relatif rendah dengan peers, ini lembaga rating kemungkinan akan menurunkan ratingnya apabila kita tidak bisa memperkuat modal inti kita. Sehingga ini juga jadi ancaman ke depan karena kalau sampai dengan penurunan rating itu akan mengakibatkan cost of fund kami akan naik," kata Royke.

"Kedua, pandemi ini kan belum berakhir sehingga sebagai langkah antisipasi kami perlu memperkuat modal inti di dalam ketidakpastian ini. Dan tentunya modal inti ini akan kami pakai untuk ekspansi kredit organik maupun nonorganik," lanjutnya.


[Gambas:Video CNBC]

(miq/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading