Harga Batu Bara Cetak Rekor Lagi, Saham Produsennya On Fire!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
06 September 2021 09:50
Aktifitas pekerja saat bongkar muat Batubara yang datang dari Batam di Pelabuhan KCN Cilincing,  Jakarta Utara, Kamis (12/4). Keputusan Menteri ESDM Nomor 1359K/30/MEM/2018 soal harga jual batubara untuk penyediaan tenaga listrik buat kepentingan umum, pemerintah menetapkan harga jual untuk PLTU US$70 per ton.  pemerintah juga menetapkan volume maksimal pembelian batubara untuk pembangkit listrik 100 juta ton per tahun atau sesuai kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik.Jonan menegaskan, penetapan harga jual batubara untuk PLTU agar tarif tenaga listrik tetap terjaga demi melindungi daya beli masyarakat dan industri yang kompetitif. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas saham emiten batu bara menguat pada awal perdagangan pagi ini, Senin (6/9/2021), seiring harga si batu hitam yang terus mendekati US$ 180/ton dan mencetak rekor tertinggi baru.

Berikut pergerakan saham batu bara, pukul 09.19 WIB, mengacu data BEI:

  1. Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS), saham +13,33%, ke Rp 102/saham


  2. Golden Eagle Energy (SMMT), +4,04%, ke Rp 206/saham

  3. Indo Tambangraya Megah (ITMG), +1,92%, ke Rp 17.250/saham

  4. Indika Energy (INDY), +1,77%, ke Rp 1.435/saham

  5. Bukit Asam (PTBA), +1,75%, ke Rp 2.330/saham

  6. Perdana Karya Perkasa (PKPK), +1,59%, ke Rp 64/saham

  7. Adaro Energy (ADRO), +1,11%, ke Rp 1.370/saham

  8. United Tractors (UNTR), +1,05%, ke Rp 21.600/saham

  9. Alfa Energi Investama (FIRE), +0,98%, ke Rp 515/saham

  10. Mitrabara Adiperdana (MBAP), +0,92%, ke Rp 3.280/saham

  11. Harum Energy (HRUM), +0,50%, ke Rp 5.025/saham

  12. Bayan Resources (BYAN), 0,00%, ke Rp 14.800/saham

  13. Golden Energy Mines (GEMS), 0,00%, ke Rp 3.500/saham

  14. Bumi Resources (BUMI), -1,79%, ke Rp 55/saham

  15. Atlas Resources (ARII), -2,08%, ke Rp 282/saham

Menurut data di atas, dari 15 saham yang diamati, 11 di antaranya menguat, 2 stagnan, dan 2 sisanya melemah.

Saham BOSS menjadi yang paling menguat dengan naik 13,33% ke Rp 102/saham, melanjutkan kenaikan pada perdagangan Jumat (3/9) pekan lalu ketika ditutup melejit 34,33%. Dalam sepekan saham BOSS terkerek 44,29%.

Di posisi kedua, saham emiten Grup Rajawali SMMT naik 4,04% ke Rp 206/saham, rebound dari koreksi pada 2 perdagangan sebelumnya. Dalam seminggu saham ini naik 7,29%, sementara dalam sebulan melesat 80,53%.

Di bawah saham SMMT, saham ITMG terapresiasi 1,92%. Ini membuat saham ITMG memperpanjang reli kenaikan menjadi 6 hari beruntun. Alhasil, dalam sepekan saham ini mencuat 8,54%, sementara dalam sebulan bertambah 6,8%.

Tidak ketinggalan saham INDY dan emiten pelat merah PTBA juga berhasil naik. Saham INDY tumbuh 1,77%, sementara saham PTBA menanjak 1,75%.

Harga batu bara semakin 'panas'. Kini harga si batu hitam coba mendekati US$ 180/ton.

Akhir pekan lalu, harga batu bara di pasar IC Newcastle (Australia) tercatat US$ 178,75/ton, Melonjak 2,11% dibandingkan sehari sebelumnya sekaligus mengukir rekor terbaru.

Salah satu alasan utama lonjakan harga batu bara adalah kenaikan harga gas alam. Dalam sepekan terakhir, harga gas alam acuan di Henry Hub (Louisiana, Amerika Serikat) melesat 9,76% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, kenaikannya mencapai 16,38%.

Ini membuat biaya pembangkitan listrik bertenaga gas alam menjadi mahal. Di Eropa, harga pembangkitan listrik dengan gas alam pada 31 Agustus 2021 adalah EUR 47,68/MWh. Sementara dengan batu bara lebih murah yakni EUR 40,17/MWh.

"Melihat harga di pasar forwards, sepertinya gas alam masih akan terus lebih mahal dibandingkan batu bara setidaknya hingga awal 2022. Ini membuat dunia usaha mendapat insentif jka memilih batu bara," sebut Toby Hassall, Analis Refinitiv, dalam risetnya.

Selain di Eropa, permintaan batu bara Asia pun melonjak. Pada Juli 2021, Jepang mengimpor batu bara sebanyak 9,8 juta ton, naik 10,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Impor batu bara Jepang dari Australia tercatat 7 juta ton pada Juli 2021, tumbuh 18,5% yoy. Sedangkan dari Rusia adalah 1,4 juta ton, naik 17% yoy.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading