Harga Batu Bara 'Terbang', PTBA Genjot Produksi 30 Juta Ton

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
01 September 2021 19:00
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) kembali mewujudkan komitmennya dalam upaya hilirisasi dan peningkatan nilai tambah pertambangan batu bara. Salah satunya adalah dengan memproduksi karbon aktif dari bahan baku batu bara.

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan pertambangan BUMN batu bara, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tahun ini menargetkan produksi sebesar 30 juta ton hingga akhir tahun ini. Angka ini meningkat 20% dari realisasi produksi perusahaan sepanjang 2020 lalu yang sebesar 25 juta ton.

Direktur Utama Bukit Asam Suryo Eko Hadianto mengatakan target tersebut telah ditetapkan dalam RKAPĀ (rencana kerja anggaran perusahaan) perusahaan tahun ini. Sedangkan tingkat penjualan diperkirakan tidak akan jauh dari angka tersebut.

"Ini prognosa kira kira produksi 30 juta. Itu sudah sesuai dengan RKAP dan kami yakin ini bisa tercapai. Penjualan sekitaran itu juga," kata Suryo dalam konferensi pers, Rabu (1/9/2021).


Dia menjelaskan, tahun ini harga baru bara diperkirakan masih akan berada di kisaran harga tertinggi. Hal ini dengan mempertimbangkan kondisi hubungan China dan Australia serta pandemi yang masih berlangsung, sehingga ini akan memperkuat harga batu bara hingga tahun depan.

Untuk diketahui, hingga akhir Juni 2021 lalu produksi Bukit Asam mencapai 13,3 juta ton dengan penjualan sebanyak 12,9 juta ton.

Adapun harga jual batu bara di semester pertama tahun ini mencapai harga tertingginya, yakni US$ 134,7 per ton pada 30 Juni 2021.

Lebih lanjut, Direktur Pengembangan Bisnis Bukit Asam Fuad Fachroeddin mengungkapkan tahun ini perusahaan akan berupaya untuk meningkatkan penjualan ekspor dengan porsi 53% domestik, sedangkan 47% ekspor. Pada semester pertama tahun ini porsinya 63% domestik dan 37% ekspor.

Adapun hingga semester I-2021 lalu perusahaan membukukan laba bersih senilai Rp 1,77 triliun. Laba ini tumbuh 38% secara tahunan (year on year/YoY) dari sebelumnya Rp 1,28 triliun di akhir Juni 2020.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan, pendapatan perusahaan secara YoY tumbuh 14,18% menjadi Rp 10,29 triliun dari sebelumnya senilai Rp 9,01 triliun.

Mengacu data Refinitiv, harga batu bara kembali naik. Namun kenaikan ini belum membawa si batu hitam mencatat rekor baru. Selasa kemarin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat US$ 170/ton, melesat 1,55% dibandingkan sehari sebelumnya.

Akan tetapi, kenaikan ini masih belum cukup untuk membuat harga batu bara membukukan rekor. Saat ini, rekor tertinggi masih di US$ 171/ton yang tercipta pada 27 Agustus 2021.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Batu Bara Masih Membara, Ini Kata PTBA


(tas/tas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading