Internasional

Awas Ancaman 'September Kelabu' di AS Bakal Terjadi, Kenapa?

Market - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
01 September 2021 08:30
FILE - In this Oct. 14, 2020 file photo, the American Flag hangs outside the New York Stock Exchange in New York.Stocks were posting strong gains in early trading Thursday, May 13, 2021, following three days of losses and the biggest one-day drop in the S&P 500 since February.  (AP Photo/Frank Franklin II, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah peringatan terbaru terkait pasar saham Amerika Serikat (AS) telah disuarakan oleh para analis. Mereka memperkirakan bahwa potensi penurunan pada September ini sangatlah tinggi.

Mengutip CNBC International, hal ini dipicu bahwa dalam sejarah September selalu menjadi bulan yang kurang baik dalam bursa AS. September selalu menjadi salah satu bulan yang paling buruk dengan rata-rata penurunan 0,56%.


Analis menyebut banyak hal yang dapat menyebabkan penurunan besar dalam September tahun ini. Itu termasuk perubahan kebijakan Bank Sentral AS, penyebaran varian Delta Covid-19 dan risiko politik.

"Apakah ada segudang risiko di luar sana yang pada suatu saat dapat menjadi faktor risiko yang dapat menyebabkan kemunduran lebih dari 3% atau 4%? Tentu saja," kata kepala strategi investasi Charles Schwab Liz Ann Sonders, dikutip Rabu (1/9/2021).

"Mungkinkah pada bulan September? Tentu."

Penurunan ini bahkan lebih buruk pada bulan September ketika jatuh pada tahun pertama masa jabatan presiden. Rata-rata, indeks saham S&P 500 telah turun 0,73% pada tahun-tahun tersebut.

Selain itu, resiko pada bulan September datang dari Bank Sentral AS. The Fed rencananya akan merilis laporan ketenagakerjaan pada Jumat mendatang. Laporan ini akan menentukan rencana The Fed dalam menaikkan dan menurunkan pembelian obligasi.

Saat ini, analis memperkirakan bahwa The Fed kemungkinan besar akan mengurangi program pembelian obligasi sebesar US$ 120 miliar per bulan. Meski begitu, faktor pandemi Covid-19 masih memerankan peranan penting dalam rencana pengurangan pembelian ini.

"Intinya sayangnya, pasar masih bergantung pada virus ini," kata Sonders.

Risiko lain pada bulan September dapat mencakup data inflasi. Indeks harga konsumen dijadwalkan untuk dirilis pada 14 September mendatang. Jika data inflasi menggambarkan kenaikan yang rendah, hal ini akan menurunkan imbal hasil Treasury dan menjadi katalis negatif bagi pasar.

Tak hanya itu, faktor politik juga menjadi penentu penting dalam pergerakan saham bulan September. Saat ini Afghanistan masih menjadi patokan dalam menilai situasi politik di AS. Apabila kondisi negara itu menjadi tidak stabil setelah Washington menarik pasukannya, dampak politik terhadap Presiden Joe BIden akan menjadi buruk dalam waktu yang sangat lama.

"Peristiwa itu datang dan pergi dan dampak politik bisa berlangsung lebih lama, terutama jika ada tanda-tanda ketidakstabilan yang lebih besar di kawasan itu," kata Kepala strategi ekuitas dan derivatif BITG Julian Emanuel.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading