Musim Semi e-Commerce RI, Berlomba Cari Modal Lewat IPO

Market - Putra, CNBC Indonesia
27 August 2021 14:33
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tren perusahaan lokapasar atau lebih akrab di telinga dengan sebutan e-commerce melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai ramai akhir-akhir ini.

Berberapa faktor yang menyebabkan tren ini termasuk di tengah kondisi sulit pandemi Covid-19 para perusahaan lokapasar ini kesulitan mencari dana dari pemodal privat untuk melanjutkan pertumbuhan perusahaan yang sedang kencang.

Karena pemodal privat sudah mulai kehabisan dana dan valuasi sudah tak lagi murah, maka opsi melantai perdana di pasar modal menjadi pilihan pencarian dana.


Selain itu ternyata pandemi Corona ini menguntungkan emiten lokapasar tersebut karena dibatasinya gerak masyarakat sehingga kunjungan dan pembelian di situs-situs daring ini melonjak kencang.

Pertumbuhan yang sebelumya tidak diperhitungkan ini membuat metrik-metrik valuasi startup seperti Gross Merchandise Value (GMV) dan lain sebagainya melesat pasca Covid-19 sehingga ini menjadi momentum baik dalam melantaikan sahamnya di pasar modal dan menyerap dana sebanyak mungkin karena belum tentu tren ini dapat berlanjut setelah pandemi Covid-19 usai.

Berikut perusahaan-perusahaan lokapasar yang sudah atau siap melantai di bursa pasar modal.

1. Bukalapak

PT Bukalapak.com (BUKA) menjadi unicorn atau startup dalam negeri dengan valuasi US$ 1 juta yang melantai pertama di pasar modal lokal dan menjadi salah satu IPO paling fenomenal di BEI tahun ini.

Dengan melantai di bursa, BUKA meraup dana IPO mencapai Rp 22 triliun, terbesar sepanjang sejarah BEI. Sempat melesat kencang hingga level tertinggi harian alias ARA pada perdagangan hari pertama, di hari kedua saham BUKA berhasil kembali terbang ke level ARA namun pada pertengahan perdangangan hari sahamnya longsor dan menyebabkan banyak investor ritel tersangkut di harga atas.

Setelah insiden tersebut saham BUKA sempat ARB hingga 5 hari beruntun hingga akhirnya kini berhasil stabil diperdagangkan di level Rp 865/unit atau kenaikan hanya 1,73% dari level IPO Rp 850/unit.

Berdasarkan data resmi BEI, jumlah saham BUKA yang dicatatkan 103.062.019.354 saham, terdiri dari saham pendiri 77.296.514.554 saham dan penawaran umum 25.765.504.800 saham.

Untuk jumlah saham penawaran umum itu setara dengan 25,0% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah IPO dengan harga perdana Rp 850/saham.

Harga penawaran ditetapkan di angka penawaran tertinggi Rp 850/unit, dengan begitu total dana yang diraup mencapai Rp 21,9 triliun.

Berdasarkan prospektus IPO, seluruh dana yang diperoleh dari IPO setelah dikurangi seluruh biaya-biaya emisi saham, akan dialokasikan untuk modal kerja perseroan sebanyak sekitar 66%, sementara sisanya akan digunakan untuk modal kerja entitas anak.

Entitas anak yang dimaksud yakni sekitar 15% dialokasikan kepada PT Buka Mitra Indonesia (BMI), 15% dialokasikan kepada PT Buka Usaha Indonesia (BUI), sekitar 1% dialokasikan kepada PT Buka Investasi Bersama (BIB), sekitar 1% dialokasikan kepada PT Buka Pengadaan Indonesia (BPI), sekitar 1% kepada Bukalapak Pte. Ltd. (BLSG) dan sekitar 1% dialokasikan kepada PT Five Jack (Five Jack Indonesia)

2. Tokopedia

Tokopedia yang baru saja merger dengan Gojek dan membentuk GoTo Group dikabarkan siap melantai di pasar modal baik dalam dan luar negeri dalam waktu dekat.

Meskipun demikian, rencana GoTo yang ingin melantai di bursa saham domestik tampaknya urung terwujud tahun ini.

GoTo dikabarkan akan menunda rencana penawaran umum perdana saham menjadi tahun 2022 sembari menanti selesainya aturan mengenai kebijakan dual class of shares dan klasifikasi saham dengan hak suara multipel atau multiple voting share (MVS) dan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Meski ditunda, perusahaan rintisan teknologi terbesar di Indonesia ini sebelumnya akan menyelesaikan pendanaan pra-IPO dengan target dana yang dihimpun sebesar US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28 triliun dalam beberapa pekan ke depan.

"Tetapi penundaan peraturan mengancam untuk mendorong rencana pencatatannya ke awal tahun depan," tulis Reuters, menurut keterangan tiga sumber yang mengetahui rencana tersebut, dikutip Senin (23/8/2021).

Penundaan itu terjadi pasalnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempertimbangkan pedoman pencatatan baru bagi perusahaan teknologi untuk menawarkan saham kelas ganda yang memberikan hak suara yang berbeda.

Namun, juru bicara GoTo dan OJK menolak berkomentar mengenai informasi ini.

GoTo, merupakan perusahaan hasil merger perusahaan ride hailing Gojek dan e-commerce Tokopedia pada Mei lalu. GoTo sebelumnya menargetkan untuk terdaftar di Bursa Efek Indonesia Indonesia pada akhir tahun ini, diikuti pencatatan saham di bursa saham AS dengan valuasi potensial sekitar $40 miliar.

Namun, penundaan usulan perubahan aturan listing di Indonesia, yang sekarang diharapkan akan diumumkan akhir September, berarti GoTo kemungkinan baru akan meluncurkan IPO awal tahun depan, diikuti oleh listing di AS.

Salah satu sumber mengatakan, upaya untuk mengumpulkan dana sebesar $1,5 miliar hingga $2 miliar menjelang pelaksanaan IPO menarik permintaan yang kuat dan dapat diselesaikan bulan depan.

GoTo, didukung oleh investor seperti Alibaba Group Holding, Softbank Vision Fund dan Singapore Wealth Fund GIC, adalah salah satu perusahaan yang diuntungkan dari penggunaan platform digital selama pandemi.

Untuk diketahui, GoTo memang dikabarkan akan melakukan penawaran umum perdana saham. Valuasi perusahaan Gojek setelah merger dengan Tokopedia akan menghasilkan nilai kapitalisasi pasar senilai US$ 35 miliar sampai dengan US$ 40 miliar atau kisaran Rp 490 triliun - Rp 560 triliun dengan kurs Rp 14.000 per US$.

Jika target dana yang dihimpun dalam IPO sebesar 10% saja dari valuasi keduanya, nilainya mencapai Rp 49 triliun sampai dengan Rp 56 triliun.

3. Blibli.com

Terbaru, Perusahaane-commercemilik Grup Djarum yang dikendalikan duo Hartono, orang terkaya di RI, PT Global Digital Niaga atau Blibli.com dikabarkan berencana melangsungkan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun depan.

Perusahaan disebut telah memilih penasihat terkait rencana Blibli untuk melantai di bursa saham.

"Konglomerat Indonesia Grup Djarum, telah memilih penasihat untuk penawaran umum perdana yang potensial di Jakarta pada awal tahun depan," menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, melansir Bloomberg, Kamis (26/8/2021).

Perusahaan juga bekerjasama dengan Credit Suisse Group AG dan Morgan Stanley untuk menjajaki proses penawaran umum perdana saham. Perusahaan bank investasi lainnya juga masih berpotensi ditambahkan ke dalam daftar penjamin emisi IPO perseroan (underwriter).

Perwakilan Blibli mengatakan, perusahaan memang terbuka untuk opsi yang akan memperluas ekosistemnya, namun menolak berkomentar langsung mengenai rencana IPO ini.

CNBC Indonesia sudah mengonfirmasi lebih lanjut terkait rencana strategis ini kepada Corporate Communications Manager PT Djarum, Budi Darmawan. Namun, sampai berita ini ditayangkan, Budi belum memberikan respons.

Senada, perwakilan Credit Suisse menolak berkomentar, sementara juru bicara Morgan Stanley juga tidak dapat dimintai komentar.

Mengacu situsnya, Blibli adalah malonlineuntuk barang-barang termasuk elektronik dan produk gaya hidup, dan bekerja sama dengan lebih dari 100.000 mitra yang didirikan sejak 2011. Perusahaan menawarkan pengiriman melalui Layanan Blibli Express sendiri serta 15 mitra logistik di kota-kota terbesar di Indonesia.

Blibli didukung oleh GDP Venture, cabang modal ventura Grup Djarum, yang dominasinya dalam bisnis rokok dan perbankan negara telah membantu menjadikan pemiliknya, dua saudara Hartono, dua orang terkaya di Indonesia.

Robert Budi Hartono dan kakanya Michael Bambang Hartono masing-masing memiliki kekayaan bersih sebesar US$ 16,5 miliar dan US$ 15,5 miliar, menurut Bloomberg Billionaires Index, terkaya di Indonesia.

Rencana IPO ini dinilai sangat potensial mengingat Indonesia saat ini menjadi negara dengan populasi terpadat keempat di dunia dan menjadi salah satu yang paling terpukul oleh pandemi Covid-19 dengan cakupan vaksinasi yang rendah dan pembatasan pergerakan selama berbulan-bulan yang turut meningkatkan permintaan untuk belanja online.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading