Bursa Asia Ambles Lagi, Nikkei-STI Kuat Bertahan Hijau

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
26 August 2021 16:50
People walk by an electronic stock board of a securities firm in Tokyo, Tuesday, Dec. 3, 2019. Asian shares slipped Tuesday, following a drop on Wall Street amid pessimism over U.S.-China trade tensions. (AP Photo/Koji Sasahara)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritasbursa Asia kembali ditutup berjatuhan pada perdagangan Kamis (26/8/2021), jelang simposium Jackson Hole yang diprediksi bakal berisi pengumuman pengetatan likuiditas pasar dalam kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Hanya indeks Nikkei Jepang dan Straits Times Singapura yang ditutup menguat pada hari ini, tetapi penguatan keduanya juga hanya tipis-tipis saja. Nikkei dan Straits Times secara bersamaan ditutup naik tipis 0,06% ke level 27.742,29 (Nikkei) dan 3.109,42 (Straits Times).

Sementara sisanya ditutup berjatuhan pada hari ini. Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup ambles 1,08% ke posisi 25.415,69, Shanghai Composite China ambruk 1,09% ke 3.501,66, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 0,9% ke 6.058,08, dan KOSPI Korea Selatan melemah 0,58% ke 3.128,53.


Dari Korea Selatan, bank sentral Negeri Ginseng (Bank of Korea) mengumumkan menaikkan suku bunga acuannya, sesuai dengan konsensus pasar menjadi 0,75%. Sebelumnya, Bank of Korea telah mempertahankan suku bunga acuannya di posisi terendah 0,5%. Ini menjadi kenaikan pertama dalam nyaris 3 tahun terakhir.

Pasar Asia cenderung cemas karena kebijakan tersebut ditafsirkan menjadi awal tren berbaliknya iklim moneter longgar yang selama ini dipertahankan di berbagai negara maju dan memicu masuknya dana-dana berlebih di pasar modal mereka ke negara berkembang.

Ketika moneter ketat mulai diberlakukan, maka risiko terjadinya capital outflow pun kian terbuka lebar, terutama jika negara maju telah berhasil mengendalikan penyebaran virus corona (Covid-19), sementara negara berkembang masih kedodoran, sehingga pemulihan ekonomi mereka tertinggal.

Di lain sisi, sentimen negatif lainnya datang dari China, di mana regulator setempat kembali bertindak keras terhadap perusahaan teknologi. Hal ini juga turut memperberat sentimen yang hadir di pasar saham Asia.

"Regulasi terhadap perusahaan game, di mana kontrol yang lebih ketat dari penyebaran konten sedang dibahas, bahkan istilah 'Kemakmuran Umum' semakin banyak digunakan dalam pidato pemerintah yang menunjukkan pajak yang lebih tinggi dan lebih banyak redistribusi," kata Peter Garnry, kepala strategi ekuitas di SAXO Bank, dikutip dari Reuters.

Sementara itu dari AS, Kontrak berjangka (futures) indeks saham AS melemah, setelah indeks S&P 500 kemarin menyentuh level tertinggi baru.

Fokus investor global pekan ini masih berpusat pada Jackson Hole, simposium tahunan The Fed yang akan berlangsung pada Kamis dan Jumat. Acara ini menghadirkan para bankir sentral dari seluruh dunia untuk membahas kebijakan moneter masing-masing negara.

Ketua The Fed Jerome Powell akan menyampaikan pidato yang akan disiarkan langsung pada Jumat (27/8/2021) pukul 10.00 pagi waktu AS atau pukul 21:00 WIB.

Pidato berjudul "The Economic Outlook" itu diperkirakan menyinggung nasib program pembelian obligasi bulanan senilai US$ 120 miliar yang selama ini dijalankan The Fed.

Investor akan mendengarkan dengan cermat pidato Powell tersebut dan akan memantau kapan The Fed mungkin akan mulai meluncurkan program tapering tersebut. Namun sejauh ini, mereka memperkirakan bank sentral terkuat dunia tersebut tidak akan terburu-buru.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mayoritas Bursa Asia Menguat, Nikkei Merosot, IHSG Juara!


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading