Semester I-2021

Caplok Pinehill, Laba ICBP kok Malah Ngedrop sih, Gegara Ini?

Market - Putra, CNBC Indonesia
26 August 2021 13:35
A worker holds instant noodle packs at a market in Jakarta, Indonesia, March 12, 2018. Picture taken March 12, 2018. REUTERS/Beawiharta

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten Grup Indofood milik keluarga Salim, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) baru saja merilis kinerja semester I-2021 yang kurang ciamik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year on year).

ICBP membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk turun 5% menjadi Rp 3,22 triliun dari Rp 3,38 triliun.

Padahal pendapatan neto konsolidasi naik 22% menjadi Rp 28,20 triliun dari Rp 23,05 triliun. Laba usaha naik 36% menjadi Rp 6,36 triliun dari Rp 4,68 triliun dan margin usaha naik menjadi 22,6% dari sebelumnya 20,3%.


Sementara itu, dengan tidak memperhitungkan akun non-recurring dan selisih kurs yang belum terealisasi maka core profit yang mencerminkan kinerja operasional meningkat 25% menjadi Rp 3,95 triliun dari Rp 3,16 triliun.

Sejatinya penurunan laba ini menyebabkan tanda tanya sebab akuisisi Pinehill yang di telah dilaksanakan tahun lalu digadang-gadang akan membuat laba ICBP melesat kencang.

Seperti diketahui, ICBP mengakuisisi Pinehill Company Limited pada 27 Agustus 2020 dengan nilai transaksi US$ 2,99 miliar atau setara Rp 41,56 triliun asumsi kurs saat itu Rp 13.901 per US$. Pendanaan akuisisi tersebut sebagian besar diperoleh dari fasilitas pinjaman sindikasi senilai US$ 2,05 miliar.

Pinehill saat ini tercatat memiliki pangsa pasar yang kuat di 8 negara di kawasan Afrika, Timur Tengah dan Eropa Tenggara.

Pinehill juga memiliki sebanyak 12 fasilitas produksi mi instan di 8 negara dengan total populasi 550 juta penduduk dan memiliki jaringan distribusi di 33 negara dengan kapasitas produksi 10 miliar bungkus mie instan.

Pinehill Corpora masih terafiliasi dengan ICBP karena merupakan konsorsium di mana Anthoni Salim memiliki penyertaan secara tidak langsung sekitar sebesar 49% saham Pinehill Corpora.

Sejatinya seperti disebutkan di atas, penjualan dan laba ICBP berhasil melesat, akan tetapi usut punya usut laba bersih ICBP turun karena akun kepentingan non pengendali yang melesat pascaterjadinya akuisisi.

Tercatat kepentingan non-pengendali terpaksa melonjak dari Rp 206 miliar di kuartal yang sama tahun lalu menjadi Rp 765 miliar di Q2-2021 ini. Beban keuangan juga naik karena aksi akuisisi ini dari Rp 85 miliar menjadi Rp 1,4 triliun.

Kenaikan beban keuangan ini tentu saja tak lepas dari efek utang obligasi global perusahaan yang baru saja diterbitkan guna mencaplok Pinehill yang mencapai US$ 1,75 juta atau setara dengan Rp 25,2 triliun di mana US$ 1,15 juta di antaranya akan jatuh tempo tahun 2031 mendatang dan sisanya pada 2051 mendatang.

Dengan begitu, efek akuisisi Pinehill sejatinya positif terhadap kinerja keuangan ICBP.

Meskipun nantinya investor hanya bisa merasakan dampak positif ini secara menyeluruh pascabeban keuangan bernilai triliunan ini sudah habis dibayarkan 10 tahun hingga 30 tahun mendatang.

Meskipun demikian, utang yang diterbitkan dengan denominasi dolar AS ini tentu saja cukup riskan mengingat aksi tapering (pengurangan pembelian aset) oleh bank sentral AS The Fed disebut-sebut sudah di depan mata dan dapat dilaksanakan pada tahun ini.

Apabila aksi tapering dilakukan oleh The Fed tentunya jumlah dolar beredar akan turun dan akan meningkatkan nilai dolar AS sehingga beban keuangan akibat bunga obligasi global ICBP dapat terkerek naik.

Selain itu di Q1-2021, laba periode berjalan yang disumbangkan oleh Pinehill turun dari periode sebelumnya yakni dari Rp 433 miliar menjadi Rp 249 miliar. Penurunan terjadi karena penjualan yang anjlok dari Rp 3,6 triliun menjadi Rp 2,8 triliun.

Obligasi

Pada 9 Juni lalu, ICBP, emiten produsen mi instan Indomie ini telah mencatatkan penerbitan obligasi global dalam denominasi dolar senilai US$ 1,75 miliar atau setara dengan Rp 25 triliun (kurs Rp 14.300/US$) di Bursa Efek Singapura (SGX).

Berdasarkan keterbukaan informasi di laman SGX, Indofood CBP telah mencatatkan obligasi tersebut pada 9 Juni 2021.

Emisi penerbitan terbagi menjadi dua tahap, pertama, senilai US$ 1,15 miliar atau Rp 16,45 triliun dengan tenor selama 10 tahun dan tingkat bunga 3,39%. Sedangkan, pada tahap kedua, emisi yang ditawarkan sebesar US$ 600 juta atau Rp 8,6 triliun dengan tenor 30 tahun dan tingkat bunga 4,47%.

Corporate Secretary ICBP, Gideon A. Putra mengatakan, hasil perolehan bersih dari rencana penawaran umum obligasi global tersebut memang digunakan untuk membiayai pembayaran kembali sebagian pinjaman bank sehubungan dengan akuisisi Pinehill.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading