Roundup

Dikuasai Taliban, Apa Kabar Proyek BUMN RI di Afghanistan?

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
24 August 2021 07:10
Pejuang Taliban menguasai istana kepresidenan Afghanistan setelah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melarikan diri. (AP/Zabi Karimi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Awal bulan lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengumumkan misi militer AS di Afghanistan akan berakhir pada 31 Agustus 2021 setelah 20 tahun lebih menduduki negeri tersebut.

Dalam masa transisi yang belum selesai, rezim Taliban berhasil merebut ibu kota Afghanistan Kabul dan memaksa AS dan negara barat mempercepat proses evakuasi.

Tenggat pemulangan tentara AS pada 11 September mendatang, setelah invasi pertama pada Desember 2001 efek serangan teroris ke menara kembar WTC 11 September 2001.


Masuknya Taliban dalam lingkar kekuasaan Afghanistan membuat rezim demokrasi yang diasuh dan berusaha dipupuk oleh AS hampir dua dekade terakhir terancam musnah.

Sebagai informasi, pemerintah AS bahkan telah menghabiskan sekitar US$ 2,26 triliun atau setara dengan Rp 32.318 triliun (kurs Rp 14.300/US$) untuk membiayai proyek perang di Afghanistan sejak 2001.

Hal ini berdasarkan hitungan yang dilakukan oleh Brown University, di mana perang di Afghanistan menjadi perang terpanjang bagi AS dan dinilai berakhir kacau dan 'memalukan'.

Data tersebut dirangkum oleh Watson Institute of International & Pubic Affairs dari Universitas Brown, dilansir Al-Jazeera.

Adapun kekuatan politik yang diperoleh Taliban juga memberikan akses untuk mengendalikan ekonomi dan membuka sederet pintu akan beragam proyek yang saat ini sedang berlangsung dan yang mungkin akan dijalankan ke depannya.

Indonesia sendiri diketahui memiliki hubungan bilateral dengan Afghanistan, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia lewat Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Abdul Kadir Jailani dikabarkan telah berbicara dengan pimpinan Taliban agar adanya perdamaian dengan Afghanistan.

Selain itu, kedekatan RI dengan Afghanistan juga tergambar dalam kerja sama yang telah terjalin puluhan tahun. Salah satunya terlihat dari sejumlah proyek BUMN RI yang dilakukan dan berpartner dengan Afghanistan.

Pertama, ada emiten pelat merah yang bergerak di bidang konstruksi, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang bekerjasama dengan perusahaan konstruksi Afghanistan Haji Khalil Construction Ltd, meneken Nota Kesepahaman untuk mengerjakan proyek infrastruktur di Afghanistan, berdasarkan rilis yang terbit pada 2018.

Hal ini merupakan tindak lanjut pemerintah Indonesia yang pada awal 2018 mengatakan RI siap memberi bantuan capacity building bagi pemerintah Afghanistan dalam pengembangan dan pembangunan proyek infrastruktur di negara Asia Tengah itu.

Hal tersebut merupakan tanggapan atas permintaan langsung dari pemerintah Afghanistan ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan ke negara itu Januari 2018.

Sebagaimana Indonesia, pemerintah Afghanistan juga tengah getol menggarap proyek infrastruktur seperti pembangunan bandara dan jalan. Oleh karena itu, wajar saja jika Indonesia menawarkan WIKA, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki pengalaman dan keahlian dalam bidang konstruksi.

Penandatanganan kerja sama tersebut antara WIKA dan Haji Khalil Construction Ltd disaksikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Afghanistan Arief Rachman MD, dan juga Director General of First Political Division, Ministry of Foreign Affair Islamic Republic of Afghanistan Musa Arefi.

Meskipun demikian dalam rilis resmi WIKA tidak disampaikan secara spesifik proyek konstruksi apa yang akan dikerjakan juga besarkan investasi yang akan dikucurkan di Afghanistan.

Adapun partner kerja sama WIKA di Afghanistan terlihat tidak memiliki kehadiran dan jejak digital yang signifikan.

Dikutip dari Reuters, perusahaan yang didirikan oleh pengusaha Afghanistan, Haji Khalil Zadran, tersebut adalah salah satu kontraktor yang mengerjakan proyek dari dana pembangunan yang mengalir deras ke Afghanistan pada masa pendudukan AS.

Menurut Reuters, hingga 2013 Zadran lewat perusahaan konstruksinya setidaknya telah mengamankan lebih dari US$ 125 juta (Rp 1,81 triliun) dalam proyek konstruksi yang didanai donor.

Selain WIKA, yang terbaru pada tahun 2021 ini PT Bio Farma (Persero) melalui anak usahanya PT Indofarma Tbk (INAF) menjalankan bisnis dengan mengirim produknya untuk memenuhi kebutuhan pasar di Afghanistan.

Ekspor produk tersebut dilakukan di pabrik Indofarma dengan melepas sebanyak 4 unit kontainer dengan tujuan pelabuhan, Karachi. Hal ini diketahui dari keterangan resmi perusahaan, Minggu (13/6/2021).

"Dapat kami sampaikan bahwa hingga saat ini Indofarma sendiri telah menjalin kerjasama dengan Hikmat Hanafi Ltd yakni perusahaan distribusi farmasi yang berada di Negara Afghanistan selama lebih dari 20 tahun," tulis keterangan resmi manajemen INAF.

Beberapa daftar produk Pareto yang akan dikirim antara lain Floxinaf 400mg tab, quantity 9.300 kotak, Indomag susp btl 150ml, quantity 48.850 botol, dan OBH Plus Syrup btl 100ml, quantity 650.012 botol.

Dalam keterangan resmi Kemenlu, pemerintah Indonesia menyatakan memantau secara dekat perkembangan yang sangat cepat yang terjadi di Afghanistan.

"Indonesia terus melakukan komunikasi dengan semua pihak di Afghanistan dan juga dengan Perwakilan PBB dan Perwakilan Asing di Afghanistan. Keselamatan WNI, termasuk staf KBRI Kabul, merupakan prioritas pemerintah Indonesia," tulis pernyataan Kemenlu.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading