BI Punya Jurus Lawan Tapering, tapi Rupiah Keok di Jisdor

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
19 August 2021 15:42
Pengumuman hasil rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Agustus 2021. (Dok: Tangkapan layar youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) pada hari ini, Kamis (19/8/2021) mempertahankan suku bunga acuan, BI 7 Days Reserve Repo Rate, di level 3,5% saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG).

Pengumuman tersebut dilakukan sekitar 30 menit sebelum pasar keuangan dalam negeri ditutup, alhasil rupiah belum bisa merespons maksimal.

Di pasar spot, rupiah melemah 0,21% ke Rp 14.400/US$, dan sepanjang perdagangan tertahan di zona merah. Akibatnya, kurs tengah BI atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga melemah dengan persentase yang sama di Rp 14.414/US$.


Itu tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) di tahun ini oleh bank sentral AS (The Fed) membuat rupiah tertekan sejak awal perdagangan di pasar spot.

Perry Warjiyo, Gubernur BI, mengungkapkan MH Thamrin sudah punya strategi dalam menghadapi tapering. Bahkan strategi itu sudah dilakukan sejak Februari.

"(Tapering) akan menaikkan suku bunga pasar dan yield (imbal hasil) US Treasury Bond. Pada Februari yield sudah naik dan mempengaruhi appetite investor global di negara-negara berkembang, pada akhirnya itu juga mempengaruhi kita," kata Perry dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Agustus 2021.

BI, lanjut Perry, terus berupaya melakukan stabilisasi di pasar, terutama jika terjadi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ini dilakukan di pasar valas maupun Surat Berharga Negara (SBN).

"BI sudah melakukan intervensi di pasar spot, DNDF (Domestic Non-Deliverable Forwards). Kemudian investor asing melepas SBN, BI sudah membeli Rp 8,6 triliun dari Rp 11 triliun yang keluar. Kami bersama Kementerian Keuangan mengelola ini agar tetap stabil," jelas Perry.

Selain itu, tambah Perry, BI tetap menjaga daya tarik pasar keuangan Indonesia. Ini dilakukan dengan menjaga selisih yield antara SBN dan obligasi pemerintah di luar negeri, terutama AS.

Sementara itu isu tapering membuat dolar AS berjaya di Asia, semua mata uang utama rontok, kecuali yen Jepang. Hingga pukul 15:26 WIB, dolar Taiwan dan Won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan pelemahan 0,55%.

Rupiah yang melemah 0,21% kinerjanya bisa dikatakan cukup bagus, hanya ringgit Malaysia rupee India, dan yuan China yang pelemahannya lebih rendah.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kurs Tengah BI, Rupiah Tembus ke Atas Rp 14.500/US$ Lagi!


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading