Awal Pekan Harga Kripto Anjlok, Bitcoin Paling Parah

Market - chd, CNBC Indonesia
02 August 2021 09:50
Ilustrasi/ Cryptocurrency / Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas mata uang kripto (cryptocurrency) kembali berbalik arah ke zona merah pada perdagangan Senin (2/8/2021) pagi waktu Indonesia, di tengah masih volatilnya pergerakan kripto beberapa hari belakangan.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 09:10 WIB, enam kripto berkapitalisasi terbesar non-stablecoin kompak diperdagangkan di zona merah pada pagi hari ini.

Bitcoin anjlok 4,7% ke level harga US$ 39.716,47/koin atau setara dengan Rp 573.902.992/koin (asumsi kurs Rp 14.450/US$), ethereum melemah 0,74% ke level US$ 2.545,28/koin (Rp 36.779.296/koin), binance coin merosot 2,81% ke US$ 328,58/koin (Rp 4.747.981/koin).


Berikutnya cardano terkoreksi 2,27% ke posisi US$ 1,31 per koin atau setara dengan Rp 18.930 per koinnya, ripple ambles 4,12% ke US$ 0,725 per koin (Rp 10.476 per koin), dan dogecoin ambrol 2,83% ke US$ 0,2046 per koin (Rp 2.956 per koin).

Dalam sepekan terakhir, enam kripto non-stablecoin berkapitalisasi terbesar masih bergerak melesat. Dari enam kripto tersebut, hanya dua yang pergerakannya mulai menyusut dalam sepekan terakhir, yakni cardano dan dogecoin.

Meski dalam sepekan terakhir, beberapa harga aset kripto naik gila-gilaan, tetapi sepertinya itu lebih karena technical rebound. Maklum, sebelumnya harga sempat anjlok parah.

Dalam periode 9 Mei-20 Juli 2021, harga bitcoin ambles 48,49%. Sejak 21-30 Juli 2021, harga pun rebound dengan kenaikan 27,75%. Jadi walau naik, tetapi belum bisa menutup kerugian sebelumnya.

Sementara itu dalam sebulan terakhir, penguatan beberapa kripto berada di kisaran 10% - 19%. Hanya cardano dan dogecoin yang juga mulai tak bergairah dalam sebulan terakhir.

Sepanjang bulan lalu, pasar kripto memang cenderung sepi dan tentunya sangat bervolatil, di mana kenaikan atau penurunannya tak berlangsung lama.

Hal ini karena investor mulai kembali melirik aset berisiko lainnya, seperti saham, apalagi setelah bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street bergerak melesat hampir sepanjang pekan, yakni pada periode 27 - 30 Juli lalu.

Selain itu, kabar yang hadir di pasar kripto sepanjang bulan lalu juga kurang masif seperti pada Mei dan Juni, yang menyebabkan harga kripto berjatuhan, kemudian bangkit kembali menjelang akhir Juli.

Walaupun selera risiko investor mulai beralih ke pasar saham, namun perkembangan pandemi virus corona (Covid-19) yang sempat membuyarkan optimisme investor juga turut mengalihkan dana investor dari kripto ke aset safe haven seperti obligasi pemerintah.

Hal ini juga menjadi alasan mengapa kripto dalam periode Juli cenderung kurang bergairah dibandingkan dengan periode Mei dan Juni lalu.

Terlepas dari periode sepekan hingga sebulan terakhir, memulai Agustus tahun ini, kripto diperdagangkan kembali di zona merah, walaupun bitcoin cenderung masih diperdagangkan di kisaran US$ 39.000 - US$ 40.000.

Nasib aset kripto memang masih penuh ketidakpastian setelah 'dimusuhi' oleh berbagai otoritas di banyak negara. Paling mencolok adalah China, yang melarang aktivitas 'penambangan' dan perdagangan aset kripto. Selain tidak ramah lingkungan karena membutuhkan banyak energi, perdagangan aset kripto juga penuh spekulasi.

Padahal, 'penambangan' bitcoin di China mewakili 70% pasar dunia. Kini para penambang itu memindahkan operasinya di luar negeri dengan kapasitas data yang terbatas dan hambatan logistik.

"Banyak pemain besar yang tidak online lagi sejak Juni atau Juli," ujar Thomas Heller, Chief Business Officer di Compass Mining, seperti dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading