Valuasi Bukalapak Kemahalan? Mari Kita Hitung di Sini

Market - Donald Banjarnahor, CNBC Indonesia
30 July 2021 12:37
Dok. Bukalapak

Jakarta, CNBC Indonesia- Sebentar lagi salah satu startup unicorn Tanah Air, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) akan segera listing di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pasar dipenuhi dengan euforia mulai dari investor institusi hingga ritel berebutan mengantre memesan saham yang akan melantai dengan kode BUKA ini hingga dikabarkan pemesanan mengalami kelebihan pemesanan (oversubscribed) sebesar 4 kali.

Namun banyak juga kalangan yang mencibir atas euforia yang terjadi di pasar. Sebagian besar dari mereka adalah penggiat value investing mempertanyakan euforia yang ada di pasar mengingat BUKA hingga saat ini masih merugi akan tetapi ditawarkan dengan valuasi yang dianggap mahal.


Pertanyaannya apakah benar BUKA ditawarkan di harga premium?

Beberapa opini investor masih menganggap apabila valuasi IPO BUKA sangatlah mahal. Apalagi jika melirik pendapatan BUKA yang hanya berada di angka Rp 1,35 triliun di tahun 2020 maka Price to Sales Ratio (PSR) metrik yang biasa digunakan untuk melakukan valuasi saham emiten peritel akan berada di angka 64 kali. Rasio ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan peritel yang melantai di bursa yang PSR-nya hanya berada di bawah 2 kali.

Meskipun demikian apabila investor menggunakan pendapatan BUKA sebagai pembanding maka tidak akanapple to appledengan perusahaan peritel lain. Sebab pendapatan BUKA hanyalah total komisi yang diterima BUKA dari transaksi yang terjadi di platform Bukalapak.com, sedangkan di perusahaan peritel lain, pendapatan yang diterima adalah hasil seluruh penjualan peritel tersebut.

Berbagai metrik valuasi yang lebih mencerminkan model bisnis perusahaan seperti menggunakan Gross Merchandise Value (GMV), Gross Transaction Value (GTV) hingga Total Processing Value (TPV) lebih cocok diterapkan.

Secara konservatif angka TPV paling cocok digunakan karena angka ini menghitung berapa total pembelian yang sudah dibayarkan oleh konsumen yang terjadi di platform Bukalapak.

TPV BUKA tercatat mencapai Rp 85,08 triliun di tahun 2020, sementara itu Enterprise Value (EV) berada di angka Rp 64,4 triliun. Dengan demikian rasio EV/TPV berada di 0,76 kali sehingga valuasinya cenderung wajar.

Apalagi mengingat pada tahun 2018 TPV Bukalapak hanya berada di angka Rp 28,34 triliun yang artinya ada pertumbuhan sebesar 44,26% secara compounding per tahun (CAGR). Hal ini membuat ekspektasi pertumbuhan TPV BUKA di tahun-tahun ke depan pasca melantai bisa tetap tinggi meskipun sudah bukan tergolong startup lagi.

Dengan jumlah saham beredar sebanyak 77 miliar lembar dan penerbitan 25,7 miliar lembar saham pasca IPO maka nilai buku BUKA berpotensi naik ke angka Rp 229/unit sehingga BUKA akan melantai dengan valuasi harga saham dibandingkan dengan nilai buku (PBV) 3,7 kali dimana tentu saja angka ini bisa tergolong wajar untuk saham-saham teknologi.

Sebagai informasi, Bukalapak akan menggunakan 66% dari dana IPO untuk modal kerja, sementara sisanya untuk entitas anak yakni 15% untuk dialokasikan kepada PT Buka Mitra Indonesia, 15% untuk PT Buka Usaha Indonesia, dan 15% untuk Buka Investasi Bersama. Lalu 1% untuk PT Buka Pengadaan Indonesia, 1% untuk Bukalapak Pte Ltd dan 1% untuk PT Five Jack Indonesia.

Selanjutnya adapula, nyinyiran bahwa uang triliunan yang masuk ke kas BUKA ini hanya akan digunakan untuk 'bakar uang' demi mengejar pertumbuhan yang lebih lagi dan ke depannya kemampuan BUKA untuk mencetak laba dipertanyakan.

Selain itu pemodal lama juga diuntungkan karena mereka hanya menggelontorkan dana 'bakar uang' yang tergolong kecil dibandingkan dengan nilai IPO.

Sejatinya bisnis e-commerce sudah terbukti feasible dan mampu mencetak laba.

Catat saja raksasa e-commerce semacam Amazon dan Alibaba sudah mampu mencetak laba bahkan Shoppe disebut bisa kapanpun mencetak laba meskipun pengendali masih ingin menekankan kepada pertumbuhan dibandingkan dengan laba.

Terakhir, ya memang investor lama menggelontorkan dana lebih sedikit dibandingkan dengan investor yang baru masuk di kala IPO.

Akan tetapi perlu diingat investor lama ini juga mengambil risiko yang jauh lebih besar dibandingkan dengan investor yang masuk kala IPO karena banyak sekali perusahaan startup yang akhirnya gagal dan tidak mampu melakukan IPO.

Maka dari itu wajar saja investor lama membayar lebih murah karena mereka mengambil risiko lebih besar, seperti halnya rule investasi nomor wahid yakni semakin besar keuntungan, semakin besar pula risiko.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading